Bisnis.com, JAKARTA - Prospek penjualan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) diperkirakan masih berat sepanjang 2026 seiring pelemahan daya beli masyarakat dan pergeseran minat konsumen ke mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) murah.
Pengamat otomotif Yannes Pasaribu menilai segmen LCGC mulai kehilangan daya tarik setelah harga jualnya terus naik hingga mendekati mobil listrik entry level.
Menurut dia, varian atas LCGC kini sudah menyentuh kisaran Rp200 jutaan sehingga selisih harga dengan sejumlah mobil listrik murah semakin tipis.
“Terdapat indikasi pergeseran minat konsumen dari LCGC ke BEV murah, terutama di kota besar,” ujar Yannes kepada Bisnis, dikutip Jumat (29/5/2026).
Dia menyebut, sejumlah model kendaraan listrik seperti BYD Atto1, Changan Lumin, Seres E1, Wuling Air EV, Geely EX2 hingga Chery Q kini mulai menjadi alternatif konsumen kelas menengah perkotaan.
Dengan selisih harga yang tidak jauh, kata dia, konsumen memperoleh teknologi yang lebih modern, desain lebih segar, serta biaya operasional harian yang lebih rendah dibanding mobil konvensional.
Baca Juga
- Tekaran Ganda Penjualan LCGC
- Penjualan LCGC Anjlok, Mobil Murah Kehilangan Daya Tarik?
- Gaikindo Sebut Daya Beli Tekan Penjualan LCGC
Menurut Yannes, pergeseran tersebut tetap terjadi meski harga kendaraan listrik sempat naik setelah insentif lama berakhir. Hal itu menunjukkan konsumen mulai mempertimbangkan nilai jangka panjang kendaraan listrik.
“Perpindahan tersebut didorong nilai jangka panjang, apalagi saat beleid insentif baru nanti dikeluarkan untuk BEV,” katanya.
Selain migrasi ke kendaraan listrik, sebagian konsumen juga mulai menunda pembelian mobil baru atau beralih ke pasar mobil bekas akibat tekanan ekonomi.
Yannes menilai prospek LCGC sepanjang 2026 masih akan tertekan apabila tidak ada stimulus baru dari pemerintah maupun pembaruan model dari produsen otomotif.
“Pangsa pasarnya tinggal di kisaran 11%, jauh di bawah kontribusi normal sebelumnya yang mencapai 15% hingga 20%,” ujarnya.
Dia menambahkan arah pasar otomotif saat ini lebih berpihak kepada kendaraan listrik setelah pemerintah menyiapkan insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP untuk mobil listrik yang ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026.
Sementara itu, dukungan terhadap LCGC berbasis internal combustion engine (ICE) masih terbatas pada wacana pemberian akses BBM subsidi untuk kendaraan di bawah 1.400 cc.
Sebelumnya, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara juga mengakui pasar LCGC masih menghadapi tekanan berat tahun ini di tengah lemahnya daya beli masyarakat kelas menengah.
“Kalau untuk LCGC masih berat,” ujar Kukuh.
Dia mengatakan, industri otomotif nasional secara keseluruhan masih berupaya menjaga tren penjualan tetap positif hingga akhir tahun. Gaikindo memproyeksikan penjualan mobil nasional sepanjang 2026 berada di level sekitar 850.000 unit.
Menurut Kukuh, tantangan utama industri otomotif saat ini bukan hanya kompetisi teknologi kendaraan, melainkan juga kemampuan beli masyarakat yang terus tertekan dalam beberapa tahun terakhir.





