Grid.ID – Kanker payudara masih menjadi salah satu momok terbesar bagi kesehatan perempuan di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Banyak dari kita yang merasa sehat, namun tiba-tiba harus menghadapi kenyataan pahit didiagnosis penyakit ini.
Berkaca dari kisah Deayu Anugraha, seorang cancer survivor sekaligus health influencer, perjuangan melawan kanker tidak hanya menguras fisik, melainkan juga mental dan finansial. Namun, ada satu pesan penting yang ia bagikan, ternyata kanker payudara sangat bisa disembuhkan jika ditemukan sejak awal.
Banyak yang mengira kanker hanya menyerang mereka yang memiliki riwayat genetik. Padahal, menurut Deayu, pemicu kanker beragam, mulai dari gaya hidup hingga kelainan sel sederhana.
"Kanker itu tuh, jadi semua orang tuh bisa kena kanker, karena setiap orang itu punya sel kanker," kata Deayu Anugraha dalam talkshow Indonesia Women Fest 2026, Jumat (29/5/2026).
Bagi perempuan yang telah memasuki usia 30 tahun ke atas, kewaspadaan harus ditingkatkan berkali-kali lipat. Jenis kanker yang paling rentan menyerang kaum hawa di usia produktif ini adalah kanker payudara.
Kendati terdengar menakutkan, Deayu meminta agar para perempuan tidak panik berlebihan karena kunci kesembuhan ada pada kecepatan deteksi.
"Tapi no worries, kanker payudara itu adalah penyakit kanker yang sangat mudah diobati, paling cepat sembuh, asalkan terdeteksi dini," imbuh Deayu.
Adapun salah satu langkah deteksi dini yang paling mudah, murah, dan bisa dilakukan sendiri di rumah adalah metode SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Caranya praktis, yakni cukup dengan mengangkat tangan ke atas, lalu raba dengan lembut area payudara hingga ketiak menggunakan jari tangan untuk merasakan apakah ada kejanggalan atau benjolan yang tidak biasa.
Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan secara rutin demi ketenangan pikiran. Jika ditemukan adanya benjolan mencurigakan, segeralah berkonsultasi dengan dokter ahli agar tindakan penanganan bisa diambil secepat mungkin.
Menjalani pengobatan kanker seperti kemoterapi pun tentu bukan perkara mudah. Selain fisik yang melemah akibat efek samping pengobatan seperti rambut rontok hingga kulit mengering, kesehatan mental pasien juga sangat diuji. Di sinilah kehadiran keluarga dan komunitas menjadi penyelamat yang sangat berharga.
"Sangat penting ya. Karena jujur, we cannot do this alone gitu kan. Kita harus ada support system," tutur Deayu.
Lebih lanjut, selain support system dan gaya hidup aktif, ada satu aspek krusial yang sering kali terlupakan saat seseorang jatuh sakit, yakni kesiapan finansial. Pengobatan kanker membutuhkan biaya yang sangat besar dan jangka panjang.
Tanpa persiapan matang, beban finansial ini bisa memberikan tekanan psikologis yang luar biasa bagi pasien dan keluarganya.
Hal ini dibenarkan oleh Heidi Handayani, selaku Head of Corporate Communication & Branding Great Eastern Life Indonesia. Ia menekankan pentingnya memiliki perlindungan finansial sebelum risiko kesehatan itu benar-benar terjadi.
"Ketika kita nggak punya perlindungan finansial, bukan cuma kita yang stres, tapi keluarga juga stres, terus fisiknya," jelas Heidi Handayani.
Memahami kekhawatiran masyarakat akan rumitnya proses pendaftaran asuransi, Great Eastern Life Indonesia menghadirkan sebuah solusi perlindungan yang praktis dan mudah diakses oleh siapa saja melalui program Great Cancer Protection.(*)
Artikel Asli




