Universitas Gadjah Mada (UGM) akan menerjunkan tim untuk menelusuri kebakaran misterius yang terjadi 51 kali dalam seminggu di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, Alva Edy Tontowi, mengatakan tim lintas disiplin dari kampusnya akan melakukan observasi pada Sabtu (30/5) ini.
Ada tujuh orang yang akan diterjunkan ke sana. Mereka berasal dari Teknik Mesin dan Industri, Teknik Nuklir dan Fisika, Teknik Sipil dan Lingkungan, serta Geologi.
"Observasi dulu. Observasinya nanti melihat sumbernya, sumber itu, terus tempat yang kebakaran, terus lingkungannya," kata Alva dihubungi wartawan, Jumat (29/5).
Alva mengatakan pihaknya tergerak untuk membantu pemilik rumah yang tertimpa musibah. Keilmuan dari tim ini diharapkan bisa memecahkan persoalan yang terjadi.
"Coba dengan ilmu-ilmu yang ada itu kita lihat apa sih sebenarnya yang terjadi," katanya.
Alva menjelaskan peristiwa serupa pernah terjadi di beberapa tempat. Ada yang dipicu gas metana, biogas, hingga kebocoran instalasi.
Namun untuk kasus yang di Sleman ini, pihaknya belum bisa menyimpulkan sebelum observasi dilakukan.
Pemda DIY Turut PantauDinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY turut memantau kebakaran misterius yang terjadi 51 kali dalam seminggu di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
"Dinas PUPESDM DIY secara terus menerus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan BPBD Sleman dan PLN," kata Kepala Dinas PUPESDM DIY Anna Rina Herbranti dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/5).
Anna mengatakan timnya akan mendatangi lokasi pada Sabtu (30/5). Selain itu turut bergabung dari instansi lain seperti kampus UPN Veteran Yogyakarta hingga BPBD.
Anna menjelaskan Seyegan adalah wilayah yang didominasi Endapan Merapi Muda berupa pasir vulkanik, tuf, abu vulkanik, breksi, dan sedimen aluvial hasil aktivitas Gunung Merapi.
"Litologi vulkanik muda tersebut pada umumnya berupa material lepasan dan tidak memiliki kemampuan menjadi batuan sumber maupun perangkap hidrokarbon yang dibutuhkan dalam sistem hidrokarbon," katanya.
"Selain itu, berdasarkan kondisi struktur geologi regional, kawasan Seyegan juga tidak dikenal memiliki struktur geologi utama seperti sesar aktif, lipatan, maupun cekungan sedimen yang berpotensi membentuk sistem akumulasi gas bawah permukaan," ujarnya.
Berdasarkan data tersebut, secara geologi wilayah tersebut tidak mempunyai karakteristik yang mendukung potensi adanya gas alam.
Api yang muncul sporadis dapat terjadi karena bermacam faktor dari lingkungan sampai kemungkinan akumulasi gas organik dalam skala lokal. Serta faktor teknis non-geologi.
Berdasarkan pengamatan lapangan sementara ini, ada dugaan akumulasi gas metana dari septictank.
"Tanah di Seyegan didominasi endapan vulkanik muda (pasir, lempung, abu vulkanik) yang porous dan memungkinkan gas dari septictank merembes ke permukaan melalui pori-pori atau rekahan. Jika ada rekahan kecil atau lapisan urug yang kurang padat, gas lebih mudah naik ke permukaan," ujarnya.
Kata Pemilik RumahDiberitakan sebelumnya, kebakaran misterius terjadi di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Selama seminggu sudah ada 51 kali kebakaran. Api membakar sembarang benda yang terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu.
Waktu kebakaran acak. Kadang dini hari, kadang pun siang bolong seperti hari ini. Titiknya pun beragam dari depan rumah, belakang, hingga sudut-sudut ruangan.
"Sampai hari ini sudah ada 51 kebakaran," kata penghuni rumah, Mutviana (29 tahun).
Kebakaran yang paling besar terjadi beberapa waktu lalu pada sebuah sofa.
"Menyeramkan, sudah ini sudah keempat kalinya. Sofa, pintu, pintu, sama tikar. Kalau tikar itu gede banget sebenarnya," katanya.
"Benda terbesar sejauh ini sofa. (Lainnya) kain, tikar, terus gagang pintu. Kebanyakan pintu sih, tapi pintunya yang ada media untuk menyerap gasnya kalau setahu saya. Karena biasanya ada kain lah, apalah yang dicentelke (nyantol di gagang pintu)," katanya.





