HARIAN.FAJAR.CO.ID, TAKALAR – Tragedi memilukan terjadi di Dusun Bontosunggu, Desa Parappuanta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar. Dua bocah balita ditemukan meninggal dunia di area proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR), Rabu malam (27/5/2026).
Korban diketahui bernama Arzak (4) dan Asril (3), yang merupakan warga sekitar lokasi proyek. Keduanya diduga tenggelam di lubang galian septic tank masjid yang berada dalam kawasan pembangunan Sekolah Rakyat. Galian tersebut diperkirakan memiliki kedalaman sekitar dua meter dan dipenuhi genangan air.
Peristiwa tragis ini memicu reaksi keras dari warga setempat. Mereka menilai pihak kontraktor lalai dalam menerapkan standar keamanan proyek, terutama karena area pembangunan dapat dengan mudah diakses anak-anak.
Daeng Liwang, salah seorang warga Takalar, mendesak Kementerian PUPR agar segera memberikan sanksi tegas kepada perusahaan pelaksana proyek pembangunan Sekolah Rakyat tersebut.
“Ini bentuk kelalaian serius. Harusnya lubang galian itu diamankan, minimal ditutup atau airnya dikeringkan. Tapi faktanya dibiarkan terbuka tanpa pengamanan,” ujar Daeng Liwang.
Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan lapangan dari pihak kontraktor maupun pengawas proyek. Menurutnya, tidak adanya tanda peringatan maupun pembatas di sekitar lokasi galian menunjukkan proyek tersebut tidak menerapkan standar keselamatan kerja secara maksimal.
“Kami menduga SOP keselamatan kerja tidak dijalankan dengan baik. Lubang septic tank itu terbuka begitu saja dan sangat berbahaya bagi warga sekitar, apalagi anak-anak,” tambahnya.
Warga berharap insiden ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun aparat terkait agar kejadian serupa tidak kembali terulang di proyek-proyek pemerintah lainnya.
Hingga kini, pihak kontraktor maupun pengawas proyek belum memberikan keterangan resmi terkait peristiwa yang merenggut nyawa dua bocah tersebut. (mgs)





