REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Iran mengumumkan bahwa mereka telah menggunakan sistem pertahanan udara baru untuk menembak jatuh pesawat nirawak Amerika Serikat jenis MQ-9 Reaper di dekat Selat Hormuz pada awal pekan ini.
Klaim tersebut kembali menyoroti kemampuan pertahanan Iran yang disebut masih bertahan meskipun selama berbulan-bulan menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap berbagai instalasi militernya.
Baca Juga
Pakar Militer Bicara Kejeniusan Taktik Perang Hizbullah yang Bendung Pergerakan Militer Israel
Media Sebut Trump Kalah Perang Lawan Iran, Sementara Publik AS Saling Ribut Sendiri
Surat Terakhir Sang Hantu yang Dibunuh Israel Singgung Kekecewaan Tapi tak akan Pernah Putus Asa
Media-media Iran melaporkan bahwa sebuah pesawat nirawak jatuh di dekat Pulau Qeshm, yang terletak di selatan Iran.
Mereka menyebut operasi pencegatan itu sebagai penggunaan tempur pertama dari sistem pertahanan udara buatan dalam negeri yang dinamakan Arash-e Kamangir.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pengumuman tersebut muncul setelah beredar laporan mengenai serangan baru Amerika Serikat terhadap sebuah lokasi militer di dekat Kota Bandar Abbas, meskipun pembicaraan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik antara kedua negara terus berlangsung.
Klaim Iran ini juga memunculkan pertanyaan mengenai seberapa besar kemampuan pertahanan udara yang masih dimiliki Teheran setelah jaringan pertahanannya mengalami kerusakan akibat serangan intensif selama tiga bulan terakhir.
Selain itu, muncul pula pertanyaan apakah Iran masih mampu bertahan menghadapi gelombang serangan baru dari Amerika Serikat dan Israel jika upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan gagal mencapai hasil.
Apa isi pengumuman Iran?
Kantor berita semi-resmi Fars, dikutip Aljazeera, Sabtu (29/5/2026), melaporkan bahwa Iran menggunakan sistem Arash-e Kamangir untuk mencegat sebuah drone pengintai musuh yang terbang di atas Selat Hormuz.