Priskalia Limur (20) perlahan membuka pintu kaca di Gedung Pusat Universitas Sanata Dharma (USD) di kawasan Mrican, Desa Caturtunggal, Depok, Sleman, DI Yogyakarta, dan mendekat ke meja di depan ruang Lembaga Kesejahteraan Mahasiswa (LKM), Jumat (29/5/2026). Siang itu, gadis berpakaian batik itu datang bersama Oliviani Suriati Begin (19) untuk mengambil kupon makan gratis yang telah mereka gunakan untuk bertahan hidup selama menimba ilmu di Yogyakarta beberapa bulan terakhir.
Kedua mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia USD itu pada hari tersebut masing-masing memperoleh 15 helai kupon berwarna biru seukuran kartu ATM dengan tulisan ”Kupon Makan – Energi untuk Studi”. Mereka menghitung kupon yang diserahkan petugas yang berjaga dan kemudian menyimpannya baik-baik di tas.
Mendengar kedatangan kedua mahasiswa itu, Ketua LKM Romo Andreas Setyawan SJ segera keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri mereka. Rohaniwan itu kemudian mengambil dua bungkus vitamin dan memberikannya kepada mereka seraya berpesan agar suplemen tersebut dimanfaatkan untuk menjaga kondisi kesehatan selama menjalani kegiatan kuliah.
Setelah menerima kupon makan gratis dan vitamin dari LKM USD, Priskalia dan Oliviani segera berpamitan dan menuju warung Texas Putra yang berjarak sekitar 100 meter dari kantor lembaga tersebut. Hari itu, mereka tidak menggunakan kupon senilai Rp 10.000 per lembar itu untuk membeli makanan. Namun, mereka memanfaatkannya untuk berbelanja beras dan peralatan mandi di warung itu.
”Kupon ini bisa memenuhi kebutuhan pokok saya dalam hal makan dan meringankan beban orangtua dalam hal uang bulanan,” kata Priskalia. Bantuan dari kampus tempat ia belajar itu sangat berarti karena ayah gadis tersebut hanya bekerja sebagai buruh serabutan dan hanya mampu mengirimkan uang Rp 500.000 per bulan.
Priskalia harus jeli memanfaatkan uang yang dikirimkan keluarganya dengan susah payah itu dan mengombinasikan dengan kupon makan gratis dari USD agar cukup digunakan selama sebulan. Ia mencatat setiap pengeluarannya dan tetap berusaha menyisihkan sebagian untuk ditabung.
Gadis berkacamata itu juga bekerja paruh waktu di sebuah lapak penjual rujak di sekitar tempat kosnya di kawasan Paingan agar uang yang ditabung segera terkumpul untuk membeli komputer jinjing (laptop) yang ia butuhkan untuk mendukung kuliahnya. ”Saat ini (tabungannya) baru terkumpul tiga juta (rupiah). Jadi, belum cukup untuk membeli laptop,” ujar Priskalia.
Setali tiga uang, Oliviani harus ekstra berhemat agar uang kiriman dari kedua orangtuanya yang bekerja sebagai petani dapat ia gunakan sebaik mungkin meski jumlahnya terbatas. Untuk bertahan, mereka menggunakan kupon makan gratis itu untuk membeli beras agar dapat dimasak dan dimakan bersama-sama di tempat indekos mereka, dipadukan dengan sayur yang lauk yang mereka beli secara patungan.
Mereka bersyukur karena mendapat beasiswa untuk berkuliah di kota yang berjarak ribuan kilometer dari tempat asal mereka itu. Meski berkuliah dalam kondisi finansial terbatas, mereka bertekad dapat menyelesaikan studi tepat waktu dan meraih kesuksesan kelak agar dapat membantu perekonomian keluarga di masa mendatang.
Program kupon makan gratis telah diadakan oleh USD sejak tahun 2017 dan jumlah penerima manfaatnya terus meningkat. ”Penerima kupon makan gratis saat ini sekitar 200 mahasiswa. Pendaftar (penerima kupon) yang baru ada sekitar 100 (mahasiswa) lebih,” ujar Setyawan.
Melonjaknya pendaftar kupon beberapa minggu terakhir membuat LKM USD harus melakukan penyaringan lebih ketat. Jika sebelumnya mahasiswa yang mendaftarkan pengajuan bantuan melalui dosen pembimbing akademik langsung memperoleh persetujuan, kini LKM harus bertemu langsung dengan mahasiswa pemohon untuk memastikan calon penerima benar-benar mengalami kesulitan finansial yang mendesak.
Dalam sebulan, mahasiswa yang terdaftar menerima 30 helai kupon senilai Rp 10.000 per kupon. Kupon tersebut dapat digunakan untuk membeli makanan atau sembako di empat warung makan yang bekerja sama dengan LKM USD.
Dengan jumlah pendaftar kupon makan gratis sebanyak 200 mahasiswa, kini LKM USD harus menyediakan dana sekitar Rp 720 juta dalam setahun untuk mencukupi kebutuhan tersebut.
Setyawan memanfaatkan jejaringnya untuk menggalang dana dari para donatur agar kebutuhan makan gratis mahasiswa yang kesulitan ekonomi di tempat pengabdiannya itu tercukupi. ”Kami membangun solidaritas dengan cara gethok tular. Siapa pun yang bisa membantu lima kupon, sepuluh kupon, atau berapalah, akan kami alokasikan (dalam wujud kupon makan gratis) untuk mahasiswa. Saya berupaya meminimalisasi penggunaan uang dari universitas,” tutur Setyawan.
Kupon makan gratis pun menjadi penyambung napas bagi para mahasiswa USD yang benar-benar kekurangan secara finansial. Sebab, tidak sedikit mahasiswa harus berjuang dengan berhemat semaksimal mungkin agar tetap dapat menyelesaikan kuliah dengan kondisi serba terbatas. Mereka tidak bisa merasakan kemewahan nongkrong di warung kopi dengan harga minuman sekitar Rp 40.000 per gelas atau setara dengan harga empat porsi makanan penunjang hidup.
Jika program Makan Bergizi Gratis mengandalkan uang rakyat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, maka program kupon makan gratis yang diadakan oleh USD ditenagai semangat saling membantu untuk meringankan beban sesama. ”Kami menggalang solidaritas dari teman-teman yang yang punya kepedulian untuk saling membantu yang kekurangan. Kami berharap bisa meneruskan program ini sehingga semua bisa mengikuti kuliah dengan baik karena asupan gizi cukup,” kata Setyawan.
Program kupon makan gratis terus bergulir dan memungkinkan para mahasiswa perantau seperti Priskalia dan Oliviani merajut mimpi mereka dengan kebutuhan ragawi yang tercukupi. Langkah yang ditempuh LKM USD pun menghadirkan inspirasi tentang kekuatan solidaritas yang bermanfaat secara langsung bagi insan-insan yang sungguh membutuhkan bantuan.





