Iran vs AS Memanas Lagi! Rudal Meluncur, Drone Dihancurkan, Sanksi Baru Digelontorkan

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com.  Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz setelah serangkaian insiden militer, peluncuran rudal, operasi pencegatan drone, serta pengumuman sanksi ekonomi baru dari Washington. Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomatik kedua negara yang masih berusaha mempertahankan gencatan senjata dan melanjutkan negosiasi terkait program nuklir Iran.

Perkembangan terbaru tersebut menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia yang menjadi lintasan utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk.

Iran Luncurkan Rudal ke Sasaran di Kawasan Selat Hormuz

Pada 28 Mei 2026, Kantor Berita Fars melaporkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran melaksanakan operasi peluncuran sejumlah rudal dari wilayah selatan negara itu menuju sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.

Tak lama setelah laporan tersebut muncul, Kantor Berita Tasnim menjelaskan bahwa peluncuran rudal dilakukan sebagai respons terhadap insiden kontak senjata yang terjadi di laut. Menurut versi Iran, tindakan tersebut dimaksudkan sebagai peringatan kepada kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Selat Hormuz.

Pemerintah Iran menyebut sedikitnya empat kapal berada dalam daftar sasaran operasi tersebut. Teheran mengklaim kapal-kapal tersebut berusaha melintas tanpa melakukan koordinasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), yang selama beberapa tahun terakhir memperketat pengawasan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan itu.

Pejabat Iran juga mengklaim bahwa salah satu kapal yang menjadi target memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat. Beberapa laporan bahkan menyebut kemungkinan adanya kapal perang AS yang menjadi sasaran rudal Iran. Namun hingga berita ini diturunkan, pemerintah Amerika Serikat belum mengeluarkan konfirmasi maupun bantahan resmi terkait klaim tersebut.

Upaya Diplomatik Masih Berlangsung

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, muncul laporan bahwa perwakilan Amerika Serikat dan Iran telah mencapai sebuah nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang bertujuan memperpanjang masa gencatan senjata sekaligus membuka jalan bagi kelanjutan pembahasan program pengayaan uranium Iran.

Menurut berbagai laporan diplomatik, kesepakatan awal tersebut mencakup sejumlah poin penting, termasuk pengaturan keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan pembahasan mengenai stok uranium Iran yang diperkaya pada tingkat tinggi.

Meski demikian, kesepakatan tersebut dikabarkan masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sehingga belum dapat diberlakukan secara resmi.

Situasi ini mencerminkan adanya dua jalur yang berjalan bersamaan antara Washington dan Teheran, yakni jalur diplomasi serta jalur konfrontasi militer yang masih berpotensi memicu eskalasi sewaktu-waktu.

Militer AS Klaim Gagalkan Serangan Drone Iran

Sementara itu, laporan yang beredar pada dini hari 28 Mei 2026 menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat berhasil menggagalkan sebuah operasi serangan drone yang diduga berasal dari pihak Iran.

Menurut sumber-sumber pertahanan yang dikutip media Amerika, pasukan AS berhasil menembak jatuh lima drone bunuh diri yang sedang bersiap melakukan serangan di wilayah udara sekitar Selat Hormuz.

Selain itu, sebuah stasiun kendali darat yang berlokasi di dekat Pelabuhan Abbas (Bandar Abbas) dan diduga akan digunakan untuk mengendalikan drone tambahan juga dilaporkan berhasil dihancurkan dalam operasi tersebut.

Media Amerika menyebut operasi pencegatan itu melibatkan sejumlah pesawat tempur utama militer AS, antara lain:

Kehadiran pesawat-pesawat tempur generasi terbaru tersebut menunjukkan tingginya tingkat kesiagaan militer Amerika di kawasan Teluk Persia setelah serangkaian insiden yang terjadi sepanjang Mei.

Rudal Iran ke Kuwait Berhasil Dicegat

Setelah operasi penghancuran drone tersebut, sejumlah laporan menyebut Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait sebagai bentuk respons terhadap tindakan Amerika Serikat.

Namun sistem pertahanan udara Kuwait dilaporkan berhasil mendeteksi dan mencegat rudal tersebut sebelum mencapai sasaran.

Pemerintah Kuwait hingga kini belum melaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan besar akibat insiden tersebut. Meski demikian, kejadian ini semakin memperlihatkan meluasnya risiko konflik yang tidak lagi terbatas pada wilayah Iran dan Amerika Serikat, tetapi berpotensi menyeret negara-negara Teluk lainnya.

Washington Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata

Pemerintah Amerika Serikat mengecam tindakan Iran dan menuduh Teheran telah melanggar semangat maupun ketentuan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.

Pejabat Washington menegaskan bahwa militer Amerika akan tetap mempertahankan tingkat kesiagaan tinggi untuk menghadapi berbagai kemungkinan ancaman terhadap keamanan pelayaran internasional dan stabilitas kawasan.

Menurut pemerintah AS, kebebasan navigasi di Selat Hormuz merupakan kepentingan strategis global yang tidak dapat diganggu oleh tindakan sepihak dari negara mana pun.

AS Umumkan Sanksi Baru terhadap Iran

Pada hari yang sama, 28 Mei 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan paket sanksi baru yang ditujukan kepada Iran.

Washington menuduh Teheran berupaya memanfaatkan sistem pungutan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz sebagai sarana untuk memperoleh pendapatan tambahan di luar mekanisme perdagangan internasional yang sah.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyerukan kepada negara-negara lain agar tidak membantu Iran menghindari tekanan ekonomi internasional yang sedang diberlakukan.

Menurut Bessent, dunia telah memasuki fase baru di mana Iran tidak lagi dapat menggunakan ancaman terhadap jalur perdagangan global sebagai alat tekanan politik maupun ekonomi.

AS Klaim Angkatan Lautnya Bentuk “Tembok Baja”

Dalam pernyataannya, Bessent menegaskan bahwa kehadiran armada Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan Teluk telah membentuk apa yang ia sebut sebagai “tembok baja” yang secara signifikan membatasi kemampuan Iran dalam mengekspor minyak.

Ia juga mengungkapkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran, termasuk:

Pemerintah AS menegaskan bahwa pelonggaran sanksi hanya akan dipertimbangkan apabila hasil negosiasi mendatang benar-benar memenuhi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.

Iran Mulai Longgarkan Pembatasan Internet

Di tengah tekanan militer dan ekonomi yang terus meningkat, Iran dilaporkan mulai memulihkan sebagian akses internet nasional yang sebelumnya dibatasi.

Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga aktivitas ekonomi domestik agar tidak mengalami gangguan lebih lanjut. Pembatasan internet yang berlangsung selama beberapa waktu terakhir dinilai telah memberikan dampak terhadap sektor perdagangan, layanan keuangan, dan komunikasi bisnis di dalam negeri.

Pemerintah Iran sendiri belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan pelonggaran akses internet tersebut. Namun banyak pihak melihat kebijakan itu sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah tekanan internasional yang semakin besar.

Situasi Tetap Rawan Eskalasi

Perkembangan pada 28 Mei 2026 menunjukkan bahwa kawasan Teluk Persia masih berada dalam kondisi yang sangat sensitif. Di satu sisi, Amerika Serikat dan Iran masih membuka ruang diplomasi melalui pembahasan nota kesepahaman dan perpanjangan gencatan senjata. Namun di sisi lain, berbagai insiden militer yang melibatkan rudal, drone, kapal perang, dan sanksi ekonomi terus memperbesar risiko terjadinya konfrontasi yang lebih luas.

Dengan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi perdagangan energi dunia, setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasar minyak global, keamanan pelayaran internasional, dan stabilitas geopolitik Timur Tengah dalam beberapa pekan ke depan. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dokter Forensik Ungkap Penyebab Satu Keluarga Meninggal di Dalam Tenda Akibat Keracunan Gas Portabel
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Tertangkap Kamera Pamer Kemesraan, Gestur Kevin Gusnadi Saat Lakukan Satu Hal ke Ayu Ting Ting Ini Bikin Gemas
• 3 jam lalugrid.id
thumb
Cara Membersihkan Botol Minum yang Mulai Berbau Tak Sedap
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
Raja Ecommerce Tutup di RI, Sekarang Kena Kasus Rp 4 Triliun
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Damkar Ungkap Penyebab Semburan Gas di Kayuringin, Diduga dari Pipa PGN
• 17 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.