KUPANG, KOMPAS - Kasus jebolnya jembatan gantung yang menewaskan dua wisatawan asing di destinasi pariwisata superprioritas Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, diduga kuat disebabkan oleh kelalaian pengelola. Hingga Sabtu (30/5/2026) atau satu pekan setelah kejadian, polisi belum menetapkan tersangka atas kasus tersebut.
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, penyidik masih melakukan pendalaman terkait kasus tersebut. Sejumlah saksi seperti pemandu wisata, pengelola, hingga pemerintah daerah sudah dimintai keterangan.
Henry memastikan, ada dugaan kelalaian oleh pihak-pihak tertentu yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, yakni dua wisatawan asal Austria. Korban laki-laki berinisial J (54) dan dan perempuan berinisial A (57). Keduanya jatuh dari jembatan gantung yang jebol akibat papan berbahan kayu itu lapuk.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada Minggu (24/5/2025) sekitar pukul 11.30 Wita, dua wisatawan asal Austria terjatuh pada saat melintas di atas jembatan menuju lokasi wisata air terjun Cunca Wulang di Desa Wersawe, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat. Papan pada jembatan kayu itu tiba-tiba jebol ketika kedua korban melintas di atasnya.
Kedua korban jatuh ke dasar sungai yang berjarak sekitar 10 meter dari atas jembatan gantung. Kedua korban ditemukan tidak bernyawa. Tubuh korban terbentur batu di dasar sungai. "Korban terjatuh dan meninggal dunia di lokasi kejadian," kata Fathur Rahman Kepala Kantor SAR Maumere.
Menurut Henry, jembatan gantung itu dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat dan Pemerintah Desa Wersawe. Uang dari hasil penjualan tiket dibagi bersama oleh kedua belah pihak. Proses perbaikan jembatan seharusnya menjadi tanggung jawab para pengelola.
Henry juga memaparkan peran pemandu wisata yang ikut mendampingi kedua korban. Pemandu diminta memvideokan kedua korban saat berjalan di atas jembatan, sesaat sebelum keduanya terjatuh ke dasar sungai.
"Dari semua pihak terkait, informasi dan keterangan sudah dikumpulkan untuk kemudian dilakukan gelar perkara oleh penyidik. Dalam gelar perkara itu akan mengerucut kepada siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut," katanya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Kompas dari sejumlah warga yang pernah berwisata di Labuan Bajo, standar keselamatan di destinasi pariwisata superprioritas itu kian mengkhawatirkan. Itu terbukti dengan banyaknya kecelakaan, baik di darat maupun di laut.
"Namanya pariwisata superprioritas, harusnya standar keselamatan menjadi prioritas. Jangan main-main dengan nyawa orang. Terima uang dari wisatawan tapi keselamatan mereka diabaikan," kata Rio (35), warga Kupang yang beberapa kali ke Labuan Bajo.
Ia juga menyoroti keselamatan untuk perjalanan laut di perairan Labuan Bajo sering kali mengalami kecelakaan. Pada akhir 2025, satu keluarga asal Spanyol tenggelam. Dua orang ditemukan tewas dan satu korban masih hilang. Peristiwa ini harusnya jadi bahan evaluasi.
Hingga kini, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat belum memberikan pernyataan terkait evaluasi keselamatan di destinasi pariwisata tersebut. Keterangan resminya sempat dikeluarkan sesaat setelah kejadian.
Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng memantau langsung penanganan korban mulai dari evakuasi dari lokasi kejadian hingga tiba di RSUD Komodo. Ia menegaskan, urusan kemanusiaan dan penghormatan terhadap korban adalah hal mendasar yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Meskipun saat ini fokus masih pada penanganan korban, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat tetap memikirkan hal-hal lain, seperti pembenahan sistemik dan evaluasi total agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Serial Artikel
Dua Wisatawan Austria Tewas di Cunca Wulang, Keselamatan Wisata Labuan Bajo Disorot
Keamanan destinasi pariwisata Labuan Bajo kembali dipertanyakan. Kasus wisatawan meninggal akibat kecelakaan di destinasi itu kembali terjadi.





