Tauhid Ahmad, ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai, target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6 persen sampai akhir 2026, dan dilanjutkan peningkatan sampai 8 persen di 2029, tidak realistis.
“Rasanya tidak (realistis), karena lembaga dunia aja itu 5,0 persen, 5,1 persen di tahun ini ya. Tahun depan paling tinggi 5,2 persen begitu. Jadi kalau saya sih ngacunya itu aja sementara ya. Tapi rasanya saya masih percaya lembaga internasional,” kata Tauhid kepada suarasurabaya.net, Sabtu (30/5/2026).
Meski begitu, ekonom melihat target pertumbuhan ekonomi yang ambisius tersebut, bisa dijadikan baseline untuk pmerintah supaya lebih optimis.
Tauhid juga turut menyoroti momentum ekonomi besar yang sudah terlewati. Di mana angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 diprediksi tidak akan setinggi kuartal I 2026, yang mencapai 5,61 persen (year on year).
Stimulus yang diberikan pemerintah juga dianggap kurang mampu mengerek perekonomian Indonesia kedepan. Karena stimulus yang diberikan, hanya melanjutkan stimulus yang sudah pernah diberikan di tahun-tahun sebelumnya.
“Stimulus kan sudah berlaku tahun lalu. Sehingga kalau stimulus sekarang masih sama, sebenarnya sudah menjadi hal yang basis perhitungannya sudah masuk begitu ya. Sehingga tidak menjadi momentum kalau stimulus itu begitu. Misalnya bansos ya, kemudian untuk UMKM, KUR dan sebagainya. Kecuali stimulusnya itu gede banget,” ujarnya.
Tauhid mengatakan momentum ekonomi ke depan tidaklah sesignifikan momen Ramadan dan Idulfitri di kuartal I 2026. Yaitu momen libur sekolah, dan tanggal merah lainnya.
“Kalau sekarang ya udah tidak ada lagi, udah hilang momentum konsumsi investasi dan sebagainya hilang. Kita hanya berharap ya momentum, misalnya memanfaatkan libur-libur pendek ataupun libur lebaran (Iduladha) itu saja gitu,” ujarnya.
Libur-libur ke depan dianggap masih bisa mengangkat kondisi perekonomian di Indonesia, meskipun dampaknya tidak sebesar Idulfitri kemarin.
“Jadi itu yang kemudian bisa dimanfaatkan walaupun sedikit-sedikit saya kira itu pengaruh gitu ya. Tapi memang tidak sebesar Ramadan dan lebaran begitu,” pungkasnya.
Pemerintah mengungkap, kondisi ekonomi di daerah-daerah sangatlah berpengaruh pada kondisi nasional, khususnya perhitungan pertumbuhan ekonomi pada setiap tahun atau kuartal.
“Namun kita punya momentum yang tadi disampaikan sampaikan bagaimana menuju 8 persen. Nah, 8 persen ini, daerah harus terus mendorong, karena pusat itu agregat daerah. Jadi, kalau daerahnya di bawah nasional tentu dia akan menjadi bandul ke bawah. Nah, kami lihat beberapa daerah tumbuh tinggi akibat kebijakan downstreaming atau hilirisasi dari pemerintah,” kata Airlangga di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Daerah-daerah yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah.
Menko Perekonomian menekankan, pemerintah harus menjaga pembangunan industri tetap sustainable.
“Kita lihat Maluku Utara negara tumbuhnya jauh dari nasional yaitu hampir 19, berapa persen. Kemudian kita lihat juga Bondowoso juga tinggi, Sulawesi Tengah, NTB, itu seluruhnya karena ekstraktif industri. Namun, kita juga harus melihat, bahwa ini ke depan harus dijaga pasca industrinya dibangun, dia harus sustainable. Namun di berbagai wilayah sektor industri dan manufaktur yang lebih menonjol,” katanya.
Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) optimistis Indonesia tengah menapaki jalan yang menuju pertumbuhan ekonomi di angka 8 persen. Mukhamad Misbakhun Ketua Komisi XI DPR RI menyebut, hal ini bisa dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal 1 2026.
Di mana target pertumbuhan ekonomi pada 2027 mencapai 5,8 – 6,5 persen.
“Target pertumbuhan di tahun 2027 itu antara 5,8 sampai 6,5. Range ini sudah diberikan oleh Bapak Presiden. Artinya apa? Bahwa pertumbuhan menuju ke 8% ini sedang kita tapaki. Sedang kita rintis untuk menuju ke sana,” ucap Misbakhun.
Pemerintah juga mengeluarkan berbagai stimulus untuk meningkatkan kondisi ekonomi di semester 2 2026.
Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan, jajarannya telah membahas sejumlah stimulus yang akan disiapkan untuk triwulan II dan semester II tahun 2026.
Beberapa pokok kebijakan yang dibahas di antaranya yakni insentif perpajakan bagi penulis berupa Pajak Penghasilan (PPh) Final Royalti sebesar 1,5 persen, diskon transportasi dan angkutan udara pada periode liburan sekolah dan Natal 2026 serta Tahun Baru 2027 (Nataru), hingga program magang nasional dan program vokasi nasional.
“Terkait dengan perpajakan bagi penulis, tadi kita sudah putuskan untuk memberikan insentif pajak, untuk penulis diberikan PPh Final (Royalti) sebesar 1,5 persen,” jelas Menko.
Lebih lanjut, Airlangga juga menjelaskan, Pemerintah menyiapkan diskon transportasi periode liburan sekolah dengan total anggaran yang dipersiapkan sebesar Rp190,5 miliar dengan target penerima manfaat mencapai 3.074.899.
“Untuk moda transportasi kereta api, diberikan potongan tarif sebesar 30 persen dari harga tiket untuk periode perjalanan 20 Juni–5 Juli 2026, angkutan laut PT Pelni diberikan diskon 30 persen dari tarif dasar untuk periode perjalanan 20 Juni–15 Agustus 2026, dan angkutan penyeberangan ASDP diberikan pembebasan tarif jasa kepelabuhanan pada 20 Juni–5 Juli 2026,” katanya.
Sementara itu, pada periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru), diperkirakan anggaran sebesar Rp161,4 miliar dengan target penerima manfaat 2.874.581 orang.(lea/iss)




