Budapest, VIVA – Partai puncak Liga Champions yang mempertemukan dua kekuatan raksasa Eropa, Paris Saint-Germain (PSG) dan Arsenal, akan segera tersaji di Stadion Puskas Arena, Budapest, pada Sabtu (30/5) pukul 23.00 WIB. Laga ini bukan sekadar perebutan trofi, melainkan panggung pembuktian bagi ambisi besar kedua kesebelasan.
Menjelang laga krusial ini, PSG mengusung misi besar untuk mencatatkan sejarah baru dengan meraih gelar Liga Champions secara beruntun (back-to-back) setelah sukses menjadi kampiun pada musim lalu. Di seberang kubu, Arsenal datang dengan tekad membara untuk mengakhiri penantian panjang mereka guna menahbiskan diri sebagai raja Eropa untuk pertama kalinya. Sejauh ini, prestasi terbaik The Gunners di kompetisi antarklub tertinggi Eropa ini hanyalah menjadi runner-up pada musim 2005/2006 silam.
Perjalanan Berliku Sang Juara Bertahan
PSG melangkah ke partai final musim ini melalui jalan yang tidak mudah. Status sebagai juara bertahan tidak menjamin langkah Les Parisiens berjalan mulus, terutama di fase liga akibat terkendala masalah konsistensi.
Skuad asuhan Luis Enrique ini menutup fase liga di peringkat ke-11 dengan raihan 14 poin (4 menang, 2 imbang, 2 kalah). Setelah sempat menang besar 7-2 atas Bayer Leverkusen dan menekuk Barcelona 2-1, PSG sempat kehilangan poin karena takluk dari Bayern Muenchen dan Sporting CP, serta ditahan imbang Newcastle United.
Alhasil, mereka harus merangkak dari babak play-off dengan mendepak AS Monaco lewat agregat ketat 5-4. Namun, mental juara mereka teruji di fase gugur. PSG tampil sangat dominan saat menggilas Chelsea (agregat 8-2), menyingkirkan Liverpool (agregat 4-0), hingga memenangi duel dramatis kontra Bayern Muenchen dengan agregat 6-5 di semifinal.
Dominasi Sempurna Skuad Meriam London
Berbeda terbalik dengan PSG yang penuh pasang surut, Arsenal melaju ke final dengan rekam jejak yang nyaris sempurna dan tanpa hambatan berarti. Pada fase liga, armada Mikel Arteta tampil mengerikan dengan menyapu bersih delapan pertandingan untuk finis di puncak klasemen dengan poin sempurna, 24 angka. Tim-tim besar seperti Bayern Muenchen, Atletico Madrid, hingga Inter Milan menjadi korban keganasan mereka.





