Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada kuartal I/2026 direvisi turun menjadi 1,6%, memperkuat sinyal perlambatan di tengah inflasi yang masih tinggi.
Berdasarkan data revisi kedua yang dirilis Departemen Perdagangan AS yang dikutip dari Kantor Berita Anadolu pada Sabtu (30/5/2026), laju pertumbuhan ekonomi pada periode Januari—Maret 2026 tercatat sebesar 1,6%, lebih rendah dibandingkan estimasi awal sebesar 2% yang dipublikasikan bulan lalu.
Sebagai perbandingan, ekonomi AS tumbuh 0,5% pada kuartal IV/2025 dan mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 2,1% sepanjang 2025.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini ditopang oleh peningkatan ekspor, investasi, konsumsi rumah tangga, dan belanja pemerintah. Namun, kenaikan impor menjadi faktor yang menekan perhitungan produk domestik bruto (PDB).
Di sisi lain, tekanan inflasi masih bertahan pada level tinggi. Indeks harga personal consumption expenditures (PCE), yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed), tercatat meningkat 4,5% pada kuartal I/2026, tidak berubah dibandingkan estimasi awal.
Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal III/2022, setelah pada kuartal sebelumnya indeks PCE naik 2,9%.
Baca Juga
- Ekonomi AS Akhir 2025 Diperkirakan Tumbuh Lebih Rendah, akibat Pelemahan Investasi
- Tunjuk Calon Bos Baru The Fed, Trump Pede Pertumbuhan Ekonomi AS Tembus 15%
- OPINI: Kelangsungan Gencatan Senjata dan Perkembangan Politik-Ekonomi AS
Sementara itu, inflasi inti atau core PCE—yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi—direvisi naik menjadi 4,4% dari sebelumnya 4,3% pada kuartal pertama.
Angka tersebut merupakan kenaikan tertinggi sejak kuartal I/2023, setelah pada kuartal sebelumnya inflasi inti tercatat sebesar 2,7%.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun ekonomi AS masih tumbuh pada awal tahun, laju ekspansi mulai melambat di tengah tekanan inflasi yang kembali menguat dan tetap menjadi perhatian utama bagi bank sentral AS dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.





