Saham Perbankan Dalam Tekanan, Industri Bank Syariah Diyakini Masih Prospektif

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Pertumbuhan pembiayaan bank syariah tercatat mencapai 9,82 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Saham Perbankan Dalam Tekanan, Industri Bank Syariah Diyakini Masih Prospektif (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Sejumlah tekanan masih terus terjadi di industri pasar modal nasional dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya terjadi di sektor perbankan, di mana deretan saham bank berkapitalisasi besar, atau bigcap, justru jadi sasaran aksi jual, seiring dengan dana asing yang terus mengalir keluar (capital outflow) dari pasar saham domestik.

Meski demikian, kalangan analis menilai bahwa prospek besar masih dimiliki oleh kelompok perbankan syariah, dengan ditopang oleh sejumlah mesin pertumbuhan baru, yang diyakini mampu menopang ekspansi bisnis secara berkelanjutan.

Baca Juga:
Potensi Halal Lifestyle Capai Rp5.000 Triliun, BSI (BRIS) Siap Integrasikan UMKM

"Salah satu pendorong utama berasal dari bisnis emas. Produk tabungan emas dan cicil emas kini menjadi salah satu layanan yang paling diminati masyarakat, seiring tingginya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi pasar keuangan," ujar Analis sekaligus Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, dalam keterangan resminya, Jumat (30/5/2026).

Selain emas, menurut Hans, segmen wholesale dan korporasi juga mulai menjadi fokus ekspansi bank syariah. Jika sebelumnya dominan bermain di segmen ritel dan konsumsi, kini bank syariah semakin agresif masuk ke pembiayaan proyek infrastruktur, ekosistem BUMN, hingga sektor produktif lainnya. 

Baca Juga:
BSI (BRIS) Beli Naming Rights Stasiun LRT Dukuh Atas

Di luar itu, Hans menjelaskan, pendorong lain bisnis bank syariah datang dari ekosistem haji dan umrah, di mana upaya digitalisasi tabungan haji yang menyasar generasi milenial dan Gen Z mulai menunjukkan hasil positif.

Tercatat lebih dari 1,2 juta nasabah muda mulai menabung haji sejak dini. Kondisi ini menciptakan sumber dana murah atau current account saving account (CASA) yang relatif stabil bagi industri.

Baca Juga:
Dorong UMKM Naik Kelas, BSI (BRIS) Dukung Produk Haji Buatan Indonesia Tembus Global

"Sehingga strategi akumulasi beli untuk saham-saham bank syariah, khususnya di tengah momentum pertumbuhan industri yang masih kuat, jadi pilihan yang layak dipertimbangkan," ujar Hans.

Prospektifnya bisnis bank syariah saat ini, dikatakan Hans, sejalan dengan catatan kinerja industri perbankan syariah pada triwulan I-2026 yang menunjukkan tren pertumbuhan yang tetap solid di tengah tantangan ekonomi global dan ketatnya likuiditas industri perbankan nasional. Pertumbuhan pembiayaan, dana pihak ketiga (DPK), hingga laba bank syariah tercatat masih mampu melaju di atas rata-rata industri perbankan secara umum.

Mengacu pada laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pangsa pasar (market share) perbankan syariah hingga Maret 2026 telah mencapai sekitar 7,51 persen, meningkat dibandingkan posisi beberapa tahun terakhir yang berada di kisaran 7 persen.

"Kondisi ini mencerminkan meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap layanan dan instrumen keuangan berbasis syariah," ujar Hans.

Pertumbuhan pembiayaan bank syariah tercatat mencapai 9,82 persen secara tahunan (year on year/YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan konvensional yang cenderung lebih moderat. Di sisi pendanaan, pertumbuhan DPK juga masih kuat.

Sebagai salah satu emiten bank syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), atau BSI, sukses mencatat pertumbuhan DPK sebesar 17,99 persen pada triwulan I-2026. Kinerja tersebut ditopang oleh meningkatnya loyalitas nasabah serta tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap produk keuangan syariah.

Pada saat yang sama, laba bersih BSI tumbuh 17,1 persen, yang salah satunya didorong oleh lonjakan fee based income dari bisnis emas. Tren ini dinilai menjadi peluang besar bagi perbankan syariah untuk memperluas basis nasabah sekaligus meningkatkan pendapatan nonpembiayaan.

Oleh Hans, saham BRIS diperkirakan memiliki target harga di kisaran Rp3.100 hingga Rp3.300 per saham, yang karena memiliki karakter defensif dengan fundamental yang relatif lebih kuat dan stabil, maka pergerakan harga sahamnya diperkirakan cenderung lebih lambat, sehingga relatif lebih aman untuk investor jangka menengah hingga panjang.

(taufan sukma)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Survei AS: Mayoritas Warga Sebut Biaya Hidup Terburuk, Pendukung Trump Terbelah
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
PDI-P: Megawati Insya Allah Hadir di Upacara Hari Pancasila
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Gadis 18 Tahun Dibegal di Kendal, Pelaku Ancam Pakai Golok Rampas HP dan Uang
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Jalankan MBG di Tengah Tekanan Ekonomi, Prabowo Tak Bisa Disebut Keras Kepala
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kebakaran Gudang Kayu di Tropodo Jaya Sidoarjo, Asap Hitam Membubung Tinggi
• 5 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.