Jenderal TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo mengungkapkan adanya ancaman tersirat yang diterima Presiden Prabowo Subianto agar menjadikan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden (cawapres) di Pilpres 2024.
Gatot menyinggung kembali momen ketika Mahkamah Konstitusi (MK) mengubah Pasal 169 huruf q Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Putusan MK Nomor 90 pada 16 Oktober 2023 mengubah syarat usia calon wakil presiden yang semula mutlak minimal 40 tahun menjadi alternatif, yakni boleh di bawah 40 tahun asalkan sudah berpengalaman memimpin sebagai kepala daerah.
“Saya ingatkan bahwa pada hari Senin, 16 Oktober 2023, Mahkamah Konstitusi memutuskan dengan Mahkamah Konstitusi Nomor 90 bahwa Gibran bisa maju sebagai wakil presiden. Dirubah, bukan setelah 40 tahun, tapi dirubah pernah punya pengalaman memimpin, dipimpin oleh rakyat, yaitu pamannya mengakali seperti itu kan,” ujar Gatot, dikutip dari YouTube Refly Harun, Sabtu (30/5).
Ancaman tersebut, menurut Gatot, muncul ketika Prabowo tidak segera bereaksi atas putusan MK. Ia menyebut ancaman berasal dari paman Gibran, Anwar Usman, yang kala itu menjabat Ketua MK.
"Tetapi permasalahannya, ketika hari Jumat atau hari Sabtu setelah ditunggu-tunggu oleh sang paman enggak bereaksi ini namanya Prabowo Subianto. Maka sang paman mengancam, 'Alhamdulillah batas usia minimal sudah bisa saya selesaikan. Tinggal satu aja, batas usia maksimal. Bisa terjadi calon presiden yang umurnya tua tidak masuk menjadi presiden'. Artinya apa? Sang paman mengancam, 'Hei Prabowo, hari Senin bisa saya putuskan kamu enggak jadi presiden loh, enggak bisa daftar'," jelas Gatot.
Baca Juga: Prabowo Instruksikan Sekolah Ajarkan Bahasa Prancis, PDIP: Nanti Kalau ke Afrika, Bahasa Afrika Harus Diajarkan?
Baca Juga: Denny JA: Macron dan Prabowo, Dua Pemain Geopolitik yang Hebat
Gatot menuturkan, ancaman tersebut membuat Prabowo bergerak cepat. Pada Minggu, 22 Oktober 2023 pukul 19.00, Prabowo mendeklarasikan Gibran sebagai cawapres pendampingnya, meski Gibran tidak hadir. Deklarasi di Senayan itu disebut sebagai jawaban atas tekanan sang paman.
*Dan hari Minggunya deklarasi di Senayan dibuktikan lagi, 'Pak Prabowo, Pak Prabowo tenang, saya sudah di sini. Tenang, jangan khawatir, saya sudah di sini.' Bolak-balik itu, iya kan? Iya, itu. Jadi sejak awal memang ditodong, diintimidasi untuk milih Gibran," tandasnya.





