Kasus Kanker Usus Besar Meningkat di Usia Muda, Deteksi Dini Penting Meski Tanpa Gejala

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Kasus kanker usus besar atau kanker kolorektal semakin banyak dijumpai pada usia muda. Risiko kanker ini semakin besar akibat gaya hidup yang tidak sehat, terutama kurangnya konsumsi sayur dan buah. Untuk itu, kesadaran dalam deteksi dini perlu ditingkatkan, sekalipun belum ditemukan gejala penyakit.

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) yang juga Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam mengatakan, kanker kolorektal dikenal sebagai penyakit yang berkembang diam-diam. Perjalanan penyakit ini juga cukup lama. Banyak pasien tidak merasakan gejala apa pun sampai kanker sudah dalam kondisi yang berat.

“Jadi, kalau pasien sudah datang dengan buang air besar berdarah, berat badan turun, diare kronis, itu sebenarnya sudah terlambat. Karena itu, penting sekali untuk melakukan skrining, bahkan tanpa gejala,” tuturnya dalam acara The 3rd Gastrointestinal Summit di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

Baca JugaKanker Usus Besar Kerap Tidak Disadari oleh Mayoritas Orang
Baca JugaCegah Kanker Kolorektal dengan Deteksi Dini

Menurut Ari, skrining dan deteksi dini kanker kolorektal semakin penting dilakukan karena semakin banyak pasien yang ditemukan pada usia lebih muda. Sebelumnya, pasien kanker kolorektal banyak ditemukan di atas usia 50 tahun. Namun, saat ini, tidak sedikit yang ditemukan di bawah usia tersebut.

Jadi, kalau pasien sudah datang dengan buang air besar berdarah, berat badan turun, diare kronis, itu sebenarnya sudah terlambat.

Usia muda

Kasus kanker kolorektal pada usia di bawah 50 tahun diperkirakan meningkat sekitar 20 persen. Bahkan, saat ini telah ditemukan beberapa kasus di usia 30 tahun.

Ari menuturkan, kasus kanker kolorektal pada usia muda yang meningkat dipengaruhi oleh faktor gaya hidup yang tidak sehat. Kasus kanker yang ditemukan pun bersifat sporadis sehingga tidak banyak yang disebabkan karena faktor genetik.

Sejumlah kebiasaan masyarakat yang menjadi faktor risiko kanker kolorektal, antara lain, konsumsi makanan tinggi lemak, daging merah, kebiasaan merokok, alkohol, serta kurangnya asupan serat dari sayur dan buah.

“Umumnya juga orang hidup sedentary yang tidak banyak bergerak. Kondisi ini yang membuat semakin banyak kasus kanker kolorektal, terutama pada usia muda,” tuturnya.

Hal tersebut disampaikan pula oleh Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. Data nasional menunjukkan bahwa kebutuhan serat sebagian besar masyarakat Indonesia belum terpenuhi.

Baca JugaMengenal Kanker Kolorektal
Baca JugaPetunjuk Baru Mengapa Kanker Kolorektal Meningkat pada Orang Muda

Survei Kesehatan Indonesia pada 2023 mencatat sebesar 96,7 persen penduduk Indonesia kurang makan buah dan sayur. Itu berarti hampir seluruh penduduk kurang makan buah dan sayur. Merujuk pada anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi buah dan sayur setidaknya lima porsi per hari dalam seminggu.

“Kurang makan sayur dan buah ini yang bisa menjadi salah satu faktor kanker kolorektal. Itu juga salah satu yang menjadikan mengapa banyak kasus kanker kolorektal yang ditemukan di Indonesia,” tutur Nadia.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022, diperkirakan terdapat 35.676 kasus baru kanker kolorektal di Indonesia dengan 19.255 kematian. Dengan jumlah itu, kanker kolorektal menduduki peringkat keempat kasus kanker terbanyak di Indonesia dan peringkat kelima dengan kasus kematian terbanyak akibat kanker.

Nadia menyampaikan, tingginya angka kematian akibat kanker kolorektal di Indonesia tidak terlepas dari upaya deteksi dini yang masih kurang. Lebih dari 80 persen kasus kolorektal ditemukan pada stadium lanjut. Hal ini membuat penanganan sulit dilakukan sehingga risiko kematian menjadi tinggi.

Deteksi dini

Untuk itu, Nadia mengatakan, pemerintah tengah menggencarkan upaya deteksi dini kanker kolorektal di masyarakat. Kanker, termasuk kanker kolorektal, merupakan salah satu penyakit yang menjadi prioritas pengendalian dari pemerintah, selain jantung, stroke, dan uronefrologi.

Upaya deteksi dini penyakit kanker tersebut telah terintegrasi dalam program cek kesehatan gratis. Diharapkan lewat upaya tersebut akan ada semakin banyak kasus kanker yang ditemukan dalam stadium dini.

Baca JugaKanker pada Orang Dewasa Muda: Lonjakan Kasus dan Alarm Dini
Baca JugaDeteksi dan Diagnosis Kanker Lebih Akurat dengan Bantuan Kecerdasan Artifisial

Nadia menuturkan, jumlah kasus kanker kolorektal yang ditemukan di Indonesia masih jauh dari estimasi kasus sebenarnya. Dari sekitar 35.000 kasus yang diperkirakan ada di Indonesia, baru sekitar 3.000 kasus yang ditemukan.

“Kita harap lewat cek kesehatan gratis yang di dalamnya terdapat skrining kolorektal dapat menemukan lebih banyak lagi kasus dalam kondisi yang masih dini. Supaya apa? Supaya pengobatannya tidak berat dan biayanya juga pasti lebih murah,” ujarnya.

Kepala Human Cancer Research Centre (HCRC) Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Murdani Abdullah menuturkan, deteksi dini kanker kolorektal sangat penting untuk meningkatkan harapan hidup pasien. Perjalanan penyakit kanker kolorektal dari sel normal menjadi sel kanker cukup lama.

“Sebenarnya perubahan dari mukosa normal menjadi kanker cukup lama, butuh waktu 5-15 tahun. Artinya cukup banyak waktu yang kita bisa gunakan untuk mencegah terjadinya kanker ini,” ucapnya.

Itu sebabnya, menurut Murdani, kanker kolorektal bisa dicegah dengan menemukan risiko penyakit sebelum keluhan atau gejala muncul. Pemeriksaan untuk skrining dapat dilakukan pada kelompok yang berisiko, terutama pada usia di atas 50 tahun ataupun di bawah 50 tahun dengan gaya hidup berisiko.

Untuk di Indonesia, skrining kanker kolorektal didorong untuk dilakukan pada usia 45 tahun ke atas. Hal ini dengan mempertimbangkan risiko kanker yang meningkat pada usia muda. Skrining yang dilakukan sejak dini dapat menekan angka kejadian kanker serta kematian akibat kanker kolorektal.

Baca JugaMikroba Usus Manusia Menjadikan Terapi Kanker Lebih Efektif
Baca JugaTes Skrining Kanker Usus Besar di Rumah Mengurangi Risiko Kematian

“Skrining menguntungkan untuk mengurangi jumlah kejadian kanker kolorektal dan mortalitas akibat kanker ini. Dan juga menghemat pengeluaran biaya pengobatan serta biaya lain akibat hilangnya produktivitas seseorang yang terkena kanker,” tutur Murdani.

Nadia mengatakan, upaya deteksi dini yang tengah didorong saat ini perlu diperkuat dengan edukasi dan kesadaran yang baik di masyarakat. Fasilitas cek kesehatan gratis yang telah disediakan masih belum optimal dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Banyak masyarakat yang masih menganggap kalau tidak ada keluhan berarti mereka tidak merasa sakit. Itu tantangan terbesar untuk deteksi dini. Padahal, kanker ini kuncinya pada deteksi dini,” katanya.

Ia menambahkan, “Kanker usus ini juga sering tidak ketahuan. Jadi, hati-hati kalau BAB berdarah. Meski sedikit, itu jangan disepelekan hanya sebagai wasir atau ambeien karena itu bisa jadi kanker usus (kolorektal)”.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
330 Ribu Kendaraan Melintasi Tol Regional Nusantara hingga H+2 Iduladha
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Sambut HUT Ke-499 Jakarta, Ancol Umumkan Program Gratis Masuk untuk Pengunjung
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Kebakaran Bengkel di Cikupa Tangerang, 1 Orang Tewas Terjebak di Toilet
• 1 jam laludetik.com
thumb
Tawarkan Pengalaman Berbeda di Bali, Intip Desa Wisata Les
• 49 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ini Daftar Makanan dan Minuman yang Sebaiknya Dihindari Anak di Bawah 1 Tahun
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.