Musim panas belum benar-benar tiba di kota Como. Namun, suasana di tepi Danau Como sudah lebih dulu ”mendidih”.
Pada Senin (25/5/2026), ribuan warga memenuhi kawasan sekitar Stadio Giuseppe Sinigaglia saat parade bus atap terbuka Como 1907 digelar untuk merayakan pencapaian bersejarah lolos ke Liga Champions UEFA.
Skuad asuhan Cesc Fàbregas itu memastikan diri finis di empat besar Liga Italia untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Sejumlah video yang beredar di media sosial menunjukkan seluruh warga kota kecil berpenduduk sekitar 85.000 jiwa itu seolah tak percaya dengan kenyataan yang terjadi.
Di tengah dominasi klub mapan Italia, seperti Inter Milan, Juventus, dan AC Milan, pencapaian Como terasa seperti anomali. Klub yang beberapa tahun lalu masih berkutat di Serie C itu tiba-tiba melompat menjadi salah satu kekuatan baru sepak bola Italia.
Namun, di balik pencapaian yang terasa seperti keajaiban tersebut, ada satu sistem yang bekerja dalam senyap tetapi berjalan secara berkesinambungan bernama moneyball.
Istilah moneyball mulai dikenal luas setelah Michael Lewis menerbitkan buku berjudul Moneyball pada 2003. Delapan tahun kemudian, kisah tersebut diangkat ke layar lebar melalui film dengan judul yang sama dan dibintangi Brad Pitt.
Konsep itu merujuk pada strategi klub bisbol Oakland Athletics yang dipimpin Billy Beane pada awal 2000-an.
Dengan anggaran terbatas, mereka mencoba menantang klub-klub kaya melalui penggunaan data statistik untuk mencari pemain yang diremehkan pasar, tetapi memiliki kontribusi besar di lapangan.
Mereka tidak berburu pemain paling terkenal, tetapi pemain yang paling sesuai dengan kebutuhan tim dan masih memiliki ruang untuk berkembang.
Dalam sepak bola modern, konsep serupa berkembang lewat analisis data, pemetaan performa pemain, efisiensi transfer, pengendalian gaji, hingga pembangunan klub jangka panjang.
Filosofi sederhana ini membuat kemenangan dalam kompetisi diraih bukan dengan membakar uang sebanyak-banyaknya, melainkan dengan membuat keputusan yang lebih cerdas dan efisien dibandingkan dengan pesaing.
Dalam siniar di kanal Youtube Helmy Yahya Bicara, Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso menjelaskan, klubnya tidak dibangun dengan pendekatan khas sepak bola modern yang gemar membeli banyak pemain mahal, lalu berharap prestasi datang dengan sendirinya.
Como justru bergerak seperti perusahaan rintisan berbasis teknologi. Klub dibangun dengan pendekatan berbasis data, disiplin biaya, dan fokus pada pertumbuhan jangka panjang.
”Kami tidak bisa bersaing dengan klub besar dari sisi uang. Jadi, kami harus lebih pintar,” ujar Mirwan dalam wawancaranya bersama Helmy Yahya.
Kesadaran bahwa Como tidak memiliki sumber daya sebesar klub elite Italia membuat mereka memilih jalur berbeda. Klub tidak mencari pemain berdasarkan nama besar atau popularitas, tetapi berdasarkan kecocokan terhadap sistem permainan yang ingin dibangun.
Di Como, perekrutan pemain diperlakukan layaknya keputusan investasi. Setiap perekrutan pemain akan dibahas seperti sebuah proyek jangka menengah.
Klub menyusun semacam business plan untuk setiap pemain. Apa perannya dalam tiga tahun ke depan, kapan diproyeksikan menjadi starter, berapa menit bermain yang dibutuhkan, hingga bagaimana program pengembangannya.
Mirwan mencontohkan proses ketika Como merekrut bek kanan Ivan Smolčić dari klub Kroasia, HNK Rijeka. Sebelum transfer dilakukan, tim pelatih, divisi football strategy, dan tim pengembangan pemain lebih dulu mendiskusikan seberapa jauh potensi pemain tersebut bisa berkembang.
Jika seorang pemain diproyeksikan baru siap menjadi starter pada musim kedua, klub akan menyusun target perkembangan secara bertahap. Mulai dari jumlah pertandingan yang harus dimainkan, aspek teknis yang perlu diperbaiki, hingga program latihan individual untuk mempercepat adaptasi.
”Kalau, misalnya, diproyeksikan baru tahun kedua bisa jadi starter, berarti dia harus main 15 atau 20 pertandingan dulu. Lalu, kita bikin program supaya development-nya bisa dipercepat,” kata Mirwan.
Dengan sistem seperti itu, proses perekrutan pemain menjadi sangat terukur dan obyektif. Bahkan, ketika seorang pemain yang baru dibeli belum dimainkan pelatih, keputusan tersebut tetap harus dapat dijelaskan berdasarkan parameter perkembangan yang telah disepakati bersama.
Dalam praktiknya, pendekatan Como dalam perekrutan pemain bahkan bekerja mirip pengelolaan portofolio investasi. Klub terus memantau apakah nilai pemain berkembang sesuai target, stagnan, atau justru perlu dilepas untuk meminimalkan kerugian.
”Kalau dalam istilah saham, kapan kita hold, kapan kita cut loss, semuanya ada ukurannya,” ucap Mirwan.
Karena tidak memiliki kepentingan teknis langsung, Mirwan merasa bisa menjaga proses pengambilan keputusan tetap obyektif ketika tim pelatih, tim pengembangan pemain, dan divisi strategi memiliki pandangan berbeda.
Di titik itulah konsep moneyball Como terlihat paling nyata. Klub terlebih dahulu menetapkan football DNA atau identitas permainan yang ingin dibangun. Setelah itu, setiap posisi memiliki profil pemain yang sangat spesifik.
Untuk posisi bek sayap, misalnya, Como membedakan pemain bertipe ”jangkar” yang bisa masuk ke tengah saat diperlukan dengan tipe overlapping yang agresif membantu serangan.
Dengan profil yang sudah ditentukan sejak awal, proses pencarian pemain menjadi jauh lebih efisien. Klub tidak lagi membeli pemain berdasarkan popularitas, tetapi berdasarkan kebutuhan sistem permainan.
”Jadi, waktu cari pemain, kami sudah tahu dia profil A atau profil B,” lanjut Mirwan.
Pendekatan itu pula yang membuat Como berani mencari pemain dari liga-liga yang kurang populer. ”Kadang makin enggak dikenal malah makin senang karena biasanya lebih murah,” ujarnya sambil tertawa.
Cara berpikir seperti itu membuat Como tidak terjebak dalam perlombaan membeli nama besar dengan harga berlebihan. Mereka lebih fokus mencari pemain yang cocok dengan sistem dan masih memiliki ruang peningkatan nilai. Dalam bahasa ekonomi, Como sedang membangun efisiensi aset.
Cerita capaian Como semakin menarik mengingat klub ini bukan raksasa tradisional Italia. Didirikan pada 1907, Como lebih sering menjadi klub penggembira yang naik-turun divisi. Dalam sejarah panjangnya, Como bahkan beberapa kali bangkrut dan sempat terlempar hingga kasta amatir.
Pada 2017, klub itu dinyatakan pailit. Titik balik datang ketika perusahaan asal Indonesia, Djarum Group melalui SENT Entertainment, mengambil alih klub pada 2019. Dari sana, restrukturisasi dimulai perlahan. Como tidak langsung menghamburkan uang.
Mereka membangun ulang akademi, memperbaiki infrastruktur, memperkuat sistem pencarian bakat, dan mengembangkan identitas klub. Kota Como yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata elite perlahan diubah menjadi magnet baru sepak bola Italia.
Kehadiran legenda seperti Cesc Fàbregas ikut memberikan legitimasi global. Awalnya datang sebagai pemain senior, Fàbregas kemudian terlibat dalam pengembangan teknis klub dan menjadi bagian penting transformasi Como.
Mirwan menyebut, sejumlah pemain ikut membantu meningkatkan daya tarik Como di mata publik sepak bola internasional. ”Kalau untuk Eropa Latin, mungkin Nico Paz yang paling memberikan dampak. Namun, sekarang Baturina juga dampaknya besar buat kami,” ucapnya.
Nama lain seperti Assane Diao juga menjadi contoh keberhasilan model pengembangan pemain Como. ”Dia datang saat musim dingin dan langsung bikin delapan gol di tengah musim. Namanya langsung naik,” kata Mirwan.
Namun, di balik semua itu, fondasi utama Como tetap sama, yakni efisiensi dan pembangunan jangka panjang.
Di Eropa, banyak klub kecil mendadak tenar karena suntikan dana besar investor. Bak orang kaya baru (OKB), klub-klub seperti ini biasanya langsung jorjoran membeli pemain. Namun, tidak semuanya bertahan lama. Sebagian justru kolaps karena struktur keuangannya rapuh.
Como mencoba mengambil jalan berbeda. Klub tetap berinvestasi, tetapi dengan pendekatan yang lebih terukur. Mereka mencari pemain muda potensial, memaksimalkan data performa, dan membangun nilai aset pemain.
Dalam bahasa ekonomi, Como sedang membangun bisnis sepak bola berkelanjutan. Pendekatan itu pula yang membuat banyak analis mulai menyebut Como sebagai salah satu eksperimen moneyball paling menarik di sepak bola Eropa saat ini.
Mereka bukan klub terkaya di Italia. Namun, mereka mampu menciptakan efisiensi kompetitif.
Dalam dunia sepak bola modern yang makin dikuasai modal besar, kisah Como menghadirkan narasi berbeda. Mereka tidak mencoba menjadi klub paling kaya di Italia, tetapi mencoba menjadi klub paling efisien, yang perlahan mengusik kemapanan klub tradisional Italia.





