Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan pada Jumat (29/5) mengenai risiko terhadap ketahanan pasokan bahan bakar selama puncak permintaan musim panas, jika pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tidak kembali normal.
Penyusutan cepat persediaan minyak global di tengah belum normalnya arus pengiriman meningkatkan risiko gangguan pasokan menjelang puncak permintaan musim panas di Belahan Bumi Utara, yang berpotensi memperketat pasar energi dan menekan perekonomian.
“Persediaan minyak global sedang mengalami pengurasan dengan laju tercepat dalam sejarah sebagai respons terhadap hilangnya pasokan dalam jumlah besar melalui Selat Hormuz,” kata para pimpinan ketiga lembaga tersebut dalam pernyataan bersama, dikutip dari AFP pada Sabtu (30/5).
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah menyeret Timur Tengah ke dalam konflik yang lebih luas.
Aksi balasan Teheran yang menyasar sekutu-sekutu Washington di kawasan tersebut juga menyebabkan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz nyaris tidak dapat dilalui. Padahal, sekitar seperlima pasokan energi dunia biasanya melewati jalur tersebut.
Pada April lalu, pimpinan IMF, Bank Dunia, dan IEA mengumumkan pembentukan kelompok kerja untuk mengkoordinasikan respons ketiga lembaga terhadap krisis tersebut, terutama bagi negara-negara dengan perekonomian yang rentan.
Dalam pernyataan bersama pada Jumat (29/5), mereka kembali menyoroti lonjakan harga energi dan pupuk akibat perang memberikan dampak yang tidak proporsional terhadap negara-negara berpendapatan rendah.
“Harga pupuk yang lebih tinggi menjadi perhatian khusus karena banyak negara saat ini memasuki musim tanam,” ujar mereka.
Dalam Pertemuan Musim Semi IMF tahun ini, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyatakan perang tersebut telah memaksa IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global.
Bantuan hingga USD 50 Miliar
Ia memperkirakan negara-negara yang rentan akan membutuhkan bantuan keuangan antara USD 20 miliar-USD 50 miliar untuk mengatasi dampak ekonomi dari konflik tersebut.
Pekan ini, IMF mengumumkan Bangladesh telah mengajukan paket bantuan keuangan dan lembaga itu tengah berdiskusi untuk menyusun program dukungan bagi negara Asia Selatan tersebut.
Perang tersebut juga memicu dampak luas di berbagai belahan dunia, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari kawasan Teluk, termasuk banyak negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Pasokan pupuk pun terdampak konflik tersebut. Negara-negara yang bergantung pada impor mengalami tekanan yang cukup besar, sementara ketahanan pangan menjadi salah satu kekhawatiran utama.





