Bidik Posisi Pusat Furnitur Dunia, HIMKI Minta Indonesia Belajar Dari Nankang

bisnis.com
23 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai penguatan ekosistem industri menjadi salah satu prasyarat agar industri furnitur dan kerajinan nasional mampu bersaing di pasar global dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan persaingan industri global saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan perusahaan atau negara, melainkan kemampuan membangun ekosistem industri yang terintegrasi.

“Persaingan global hari ini bukan lagi antar perusahaan. Bahkan bukan lagi antar negara semata. Persaingan global kini adalah antar ekosistem industri,” ujarnya dalam keterangan resmi setelah menghadiri Annual General Meeting World Furniture Confederation (WFC) 2026 di Nankang, Jiangxi, China, Jumat (29/5/2026).

Menurut Abdul, Nankang dapat menjadi contoh bagaimana suatu wilayah berkembang menjadi salah satu sentra industri furnitur dunia melalui pembangunan ekosistem yang saling terhubung.

Dia menjelaskan ribuan perusahaan di wilayah tersebut beroperasi dalam rantai industri yang terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku, mesin, logistik, desain, pendidikan vokasi, pembiayaan, perdagangan digital, hingga dukungan kebijakan pemerintah.

“Kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan membangun ekosistem yang membuat seluruh pelaku industri bergerak lebih efisien, lebih produktif, dan lebih kompetitif,” tegas Abdul.

Baca Juga

  • Industri Manufaktur Makin Tertekan Efek Pelemahan Rupiah dan Konflik Geopolitik
  • BASF Operasikan Tangki Penyimpanan Baru di RI, Perkuat Pasokan Bahan Baku Cat
  • Pengusaha Kawasan Industri Curhat ke KSP Minta Hambatan Investasi Cepat Dibenahi

Menurut dia, pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia yang memiliki potensi besar di industri furnitur dan kerajinan. Selain menghasilkan produk bernilai tambah, sektor ini juga menjadi salah satu industri padat karya yang menyerap tenaga kerja di berbagai tahapan produksi.

Abdul menjelaskan rantai nilai industri furnitur dan kerajinan melibatkan berbagai sektor, mulai dari kehutanan, perkebunan, industri pengolahan, logistik, hingga pemasaran. Kondisi tersebut membuat industri ini memiliki efek berganda yang cukup besar terhadap perekonomian.

Selain itu, produk furnitur dan kerajinan Indonesia juga dinilai memiliki nilai budaya yang menjadi pembeda di pasar global.

"Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi salah satu pusat furnitur dan kerajinan dunia. Kita memiliki sumber daya alam, keragaman budaya, tradisi kerajinan yang kaya, pasar domestik yang besar, serta posisi geografis yang strategis," tegas Abdul.

Meski demikian, dia menilai potensi tersebut tidak dapat berkembang optimal tanpa dukungan ekosistem industri yang kuat. Menurutnya, dunia usaha membutuhkan dukungan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, lembaga pembiayaan, asosiasi industri, hingga pelaku pasar.

“Keberhasilan industri tidak lahir dari satu kebijakan atau satu perusahaan besar. Keberhasilan lahir dari konsistensi membangun ekosistem selama bertahun-tahun,” tutur Abdul.

Dia menambahkan Indonesia tidak perlu meniru model industri negara lain secara utuh. Namun, penguatan ekosistem industri yang terintegrasi dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing furnitur serta kerajinan nasional di pasar global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penyaluran bantuan untuk penyintas banjir di Kota Manado, Sulawesi Utara. (sumber: BPBD Manado)
• 15 jam lalupantau.com
thumb
CFD di Jalan Rasuna Said Kembali Digelar Mulai Minggu 7 Juni 2026
• 9 jam laluliputan6.com
thumb
CFD Ditiadakan, Banyak Warga Kecele Olahraga di Bundaran HI Pagi Ini
• 12 jam laludetik.com
thumb
itel VistaTab 11 Bidik Pelajar
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Humaniora sepekan, perayaan Waisak hingga bahasa Prancis di sekolah
• 14 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.