Kebakaran misterius yang berulang hingga 51 kali dalam sepekan di sebuah rumah warga di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, masih menjadi perhatian. Sejumlah pihak mulai dari pemerintah daerah hingga tim akademisi turun langsung menelusuri penyebab munculnya titik api sporadis yang terjadi di berbagai sudut rumah.
Dari serangkaian pemeriksaan awal, dugaan sementara mengarah pada akumulasi gas metana. Tim dari Universitas Gadjah Mada bersama Pemda DIY dan pihak terkait melakukan pengecekan di area rumah, termasuk jalur perpipaan, septic tank, hingga lingkungan sekitar, untuk memastikan sumber kemunculan api yang meresahkan warga tersebut.
Rumah di Sleman 51 Kali Terbakar Secara Misterius dalam SemingguKebakaran misterius terjadi 51 kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
"Kebakaran lagi, hari ini sudah empat kali," kata Mutvia ketika kumparan baru saja tiba di rumahnya di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Jumat (29/5) siang.
Ayah Mutvia, Agus Yani (61), mengatakan pada kebakaran pertama sebuah lap terbakar habis.
"Terus di jam itu, itu terdengar suara apa ya, seperti ketukan pintu 'tek-tek' gitu. Terus, kan anak saya tadi baru setrika. Lha, ditengok, 'Pak, api,' gitu. Saya sudah hampir tidur tuh. Saya kira biasa aja. Kemudian disusul kedua. Keduanya itu di dekat lokasi itu juga," kata Agus.
Enggan Dikaitkan dengan Hal MistisMutvia dan keluarga enggan musibah yang menimpanya dikaitkan dengan hal-hal mistis seperti santet. Mereka masih percaya peristiwa ini bisa dijelaskan secara ilmiah.
"Kalau menduga-duga (santet) aku enggak seiring. Ini tuh masih bisa diarahkan ke logis. Misalnya, gagang pintu ada handuknya, handuknya kan bisa menyimpan gas, bisa menimbulkan gas statis misalnya. Kalau dikait-kaitkan dengan hal mistis sepertinya masih susah di aku yang enggak paham tentang itu begitu," ujarnya.
Lanjutnya, dia juga tak memiliki masalah yang sampai harus menimbulkan teror.
"Nek masalah, semua orang punya masalah. Cuma kalau ke hal itu kayaknya enggak ada," katanya.
Mutvia mengatakan beberapa orang pintar telah datang ke sini untuk membantu. Dia pun mempersilakan selama tujuannya baik.
"Sifatnya begini, kalau kami sekeluarga itu kami percaya bahwa adanya gas metana secara fisik dan secara ilmiah. Ibaratnya saiki realistis wae lah gitu. Tapi kalau ada yang membantu secara spiritual dan lain sebagainya, ya kami terima. Tapi kami hanya sebatas untuk, ya menghargai. Kami percaya, cuma ya percayanya mereka membantu itu udah ada niat baik, terima kasih begitu," katanya.
Diduga Akumulasi Gas Metana dari Septic TankDinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY menyebut, pemicu kebakaran bisa dari berbagai penyebab. Salah satunya gas metana dari septic tank.
"Fenomena munculnya titik api sporadis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor lingkungan, keberadaan material mudah terbakar, kemungkinan akumulasi gas organik dalam skala lokal, maupun faktor teknis non-geologi. Dalam hal ini, menurut pengamatan di lapangan, adanya akumulasi gas metana dari septic tank ," terang Kepala Dinas PUPESDM DIY Anna Rina Herbranti, Sabtu (30/5).
Sementara, Dosen di Departemen Teknik Geologi UGM Sarju Winardi mengatakan, pihak kepolisian sudah mengukur kandungan gas di lokasi kejadian.
"Jadi, evidence-based yang paling kuat selama ini api berindikasi dengan keluarnya gas metana," katanya, Sabtu (30/5).
UGM Cek Jalur Pipa usai Rumah di Sleman Terbakar 51 Kali, Cari Kontaminasi GasDosen di Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi menyampaikan pihaknya bakal mengecek jalur perpipaan usai muncul api secara misterius di sebuah rumah di Sleman, Yogyakarta.
"Beberapa waktu yang lalu keluarnya gas itu juga bersamaan dengan jalur-jalur. Ada pipa air, ada sumur itu keluar api. Maka kami juga akan mengukur sampel air apakah terkontaminasi metana atau tidak," katanya, Sabtu (30/5).
Pemeriksaan area perpipaan itu rencananya dilakukan pada pekan depan.
"Mungkin pekan depan kami akan membawa alat untuk mengukur kandungan gas yang ada di tempat ini dan juga sampel air," terangnya.
UGM dan Pemda DIY Telusuri Kebakaran Misterius 51 Kali di Rumah SlemanKoordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, Alva Edy Tontowi, mengatakan tim lintas disiplin dari kampusnya akan melakukan observasi pada Sabtu (30/5) ini.
"Observasi dulu. Observasinya nanti melihat sumbernya, sumber itu, terus tempat yang kebakaran, terus lingkungannya," kata Alva dihubungi wartawan, Jumat (29/5).
Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY turut memantau kebakaran misterius yang terjadi 51 kali dalam seminggu di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
"Dinas PUPESDM DIY secara terus menerus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan BPBD Sleman dan PLN," kata Kepala Dinas PUPESDM DIY Anna Rina Herbranti dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/5).
300 Meter dari Kebakaran Misterius di Sleman Ada Batuan Gelap, Mengandung GasDekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad telah mengecek lokasi rumah warga di Sleman yang mengalami kebakaran misterius.
"Kami lakukan investigasi dengan berjalan kira-kira jarak 300 meter ada sungai dan ada satu singkapan batuan. Kami amati batuan tersebut, di dalam batuan itu terlihat seperti batuan dengan warna gelap. Di dalam singkapan batuan ada genangan air. Kami lacak ada indikasi gelembung-gelembung gas," katanya, Sabtu (30/5).
Hasil dari investigasi itu, lanjut Basuki, ditemukan gelembung-gelembung gas yang terindikasi kuat sebagai gas metana, CH4.
"Jadi indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa," tambahnya.
Ahli soal Gas Metana di Kebakaran Misterius Sleman: Bisa Menempel di PakaianDosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM, Dr. Sarju Winardi menyampaikan, pihaknya telah melakukan pengukuran suhu panas menggunakan kamera termal.
"Maka kadang-kadang butuh waktu agak lama. Berkumpul di sofa, berkumpul di pakaian, berkumpul di kain dalam jumlah waktu yang cukup, untuk menyala. Tetapi kalau kandungannya masih sedikit, belum menyala," kata Sarju, Sabtu (30/5).
Ia menjelaskan, benda berpori seperti pakaian dan sofa bisa menyimpan gas.
"Relatif lebih aman ketika sirkulasi udara dibuka. Kemudian ada kipas angin juga maka kadarnya sangat berkurang. Insyaallah aman karena potensi terbakar menjadi berkurang ketika sudah di luar ruangan," imbuhnya.





