Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo XVIII Siap Digelar, Tradisi Leluhur Songgoriti Kembali Semarakkan Kota Batu

realita.co
11 jam lalu
Cover Berita

BATU (Realita)- Tradisi budaya Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo XVIII kembali akan digelar oleh masyarakat Songgoriti, Kota Batu. Kegiatan yang menjadi warisan budaya turun-temurun tersebut merupakan simbol pelestarian adat, seni, dan nilai spiritual masyarakat Jawa yang hingga kini tetap lestari.

Tradisi tahunan ini rutin diselenggarakan setiap Bulan Suro sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus upaya menjaga keberlangsungan budaya lokal yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.

Baca juga: Grebeg Suro 2025, Bupati Ponorogo: Momentum Memperkokoh Mataraman

 

Humas Paguyuban Sanggar Empu Supo, Ahmad Choirul, mengatakan prosesi Kirab Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo XVIII akan dilaksanakan pada Senin Kliwon, 22 Juni 2026 atau bertepatan dengan 6 Suro 1960 Jawa.

 

“Prosesi kirab akan dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai dengan rute sepanjang kawasan wisata Songgoriti menuju area depan Candi Songgoriti,” ujar Ahmad Choirul, Sabtu (30/5/2026).

 

Tahun ini, kegiatan mengusung tema “Manggalaning Gwaya Purna Udaya”, yang dimaknai sebagai semangat kebangkitan budaya menuju kemajuan, kemakmuran, dan keharmonisan masyarakat.

 

Menurut Ahmad, tema tersebut juga menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi penting dalam membangun masa depan yang tetap berakar pada identitas daerah.

Baca juga: Penghormatan Tutup Bulan Suro, Tradisi di Ruang tanpa Nama

 

“Kami berharap kegiatan ini menjadi momentum kebangkitan budaya sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur,” katanya.

 

Ia menambahkan, Kota Batu yang berada di kawasan pegunungan selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas seni dan budaya yang masih aktif mempertahankan tradisi lokal. Setiap Bulan Suro, berbagai kegiatan budaya seperti kirab, doa bersama, pertunjukan seni tradisional, hingga ritual adat rutin digelar sebagai bentuk rasa syukur dan pelestarian warisan budaya.

 

Baca juga: Kirab 8 Buceng Porak Keliling Ngebel, Bupati Ponorogo: Bagikan Spirit Positif

Lebih lanjut, Ahmad menilai tradisi Ngarak Banteng memiliki nilai historis, sosial, dan spiritual yang tinggi. Selain memperkuat identitas budaya daerah, tradisi tersebut juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya unggulan di Kota Batu.

 

“Tradisi ini bukan hanya sarana pelestarian budaya, tetapi juga mampu memperkuat identitas Kota Batu sebagai daerah yang kaya akan seni dan budaya,” tegasnya.

 

Panitia pun mengundang seluruh masyarakat, wisatawan, pegiat seni budaya, serta pecinta tradisi Nusantara untuk hadir dan menyaksikan kemeriahan Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo XVIII di kawasan wisata Songgoriti. Pungkas Ahmad. (Ton)

Editor : Redaksi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Honda Perlihatkan Civic Type R HRC Track Edition, Siap Diproduksi dengan Teknologi Balap dan Aerodinamika Baru
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Honda Racing Indonesia Siap Tempur di Musim Balap 2026
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Final Liga Champions: Arsenal dan PSG Imbang, Laga Dilanjutkan ke Babak Tambahan
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
No Na: Budaya dalam Industri Pop sebagai Pelestarian atau Tren Semata?
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Deret Pernyataan Soal Pertemuan Prabowo & Macron di Prancis PARASOT
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.