Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai dapat menjadi peluang bagi sektor pariwisata Indonesia. Pemerintah melihat kurs rupiah yang melemah justru dapat meningkatkan daya tarik Indonesia bagi wisatawan mancanegara karena biaya berwisata menjadi relatif lebih murah dibanding negara tujuan lain di kawasan.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan pelemahan rupiah membuka peluang tambahan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Iya kami melihat ini menjadi satu peluang bagi Indonesia bahwa ini akan membuat Indonesia memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan,” kata Ni Luh dalam pameran Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026, dikutip Minggu (31/5).
Menurut dia, kurs rupiah saat ini dapat mendorong wisatawan asing memilih Indonesia sebagai destinasi liburan, bahkan berpotensi memperpanjang lama tinggal mereka.
Kementerian Pariwisata juga tengah memperkuat promosi untuk menangkap peluang tersebut. Selain menggenjot pasar wisatawan jarak jauh, pemerintah mendorong pelaku industri pariwisata memperbesar pasar dari negara-negara tetangga di kawasan Asia.
Ni Luh mengatakan, sepanjang Januari hingga Maret 2026 kondisi pariwisata nasional masih terjaga. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu meski tekanan global masih berlangsung.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga membawa tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian domestik. Nilai tukar yang terus melemah dinilai berpotensi menambah beban impor, menekan daya beli masyarakat, dan mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Kepala Ekonom Bank Permata Joshua Pardede sebelumnya mengatakan secara teknikal rupiah berpeluang menguji level Rp 18.000 per dolar AS, terutama dalam perdagangan intrahari.
“Jarak dari level Rp 17.900 ke Rp 18.000 per dolar AS sudah sangat tipis dan pasar sedang berada dalam kondisi sangat sensitif,” ujar Joshua kepada Katadata, Jumat (29/5).
Ia mencatat rupiah sempat menyentuh Rp 17.887 per dolar AS pada 29 Mei 2026. Sepanjang Mei, rupiah juga menuju pelemahan bulanan terdalam sejak Oktober 2024 dengan penurunan mendekati 3%.
Menurut Joshua, tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, pasar masih mencermati dinamika konflik di Timur Tengah dan kepastian pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Sementara dari dalam negeri, penyesuaian indeks MSCI dan arus keluar modal asing dinilai ikut menekan rupiah.
Joshua mengatakan dampak paling cepat dari pelemahan rupiah akan terasa pada kenaikan harga barang impor, mulai dari pangan, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, bahan baku industri, pupuk, hingga komponen otomotif.
“Kalau rupiah lemah berkepanjangan, kenaikan biaya akan diteruskan ke harga jual,” ujarnya.
Menurut dia, tekanan tersebut bisa datang berbarengan dengan kenaikan bunga kredit sehingga konsumsi rumah tangga berpotensi lebih tertahan.
Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini bukan semata persoalan moneter, melainkan sudah menyentuh persoalan struktural ekonomi nasional.
“Permasalahan utama kenapa rupiah melemah ini bukan merupakan kesalahan teknis dari Bank Indonesia. Ini masalah struktural,” kata Ibrahim.
Ia menilai pelebaran defisit transaksi berjalan, kebutuhan impor energi yang besar, pembayaran dividen dalam dolar AS, serta sentimen investor terhadap pasar keuangan domestik menjadi sejumlah faktor yang menahan penguatan rupiah.
Pelemahan rupiah juga berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran negara karena impor energi seperti BBM dan LPG menjadi lebih mahal. Pemerintah menghadapi dilema antara mempertahankan subsidi untuk menjaga inflasi atau menaikkan harga energi yang berisiko menekan konsumsi masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, tambahan devisa dari sektor pariwisata dinilai tetap penting sebagai salah satu penopang ekonomi nasional. Belanja wisatawan asing dapat membantu menjaga pasokan devisa ketika pasar keuangan sedang bergejolak.
Meski demikian, para ekonom menilai manfaat dari kenaikan kunjungan wisatawan belum sepenuhnya dapat menutup tekanan terhadap ekonomi domestik bila rupiah terus melemah dalam jangka panjang. Stabilitas nilai tukar dinilai tetap menjadi faktor kunci agar pelemahan rupiah tidak berlanjut menjadi tekanan terhadap konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional.




