Yoseph Ola Bebe, Pejuang Adonara yang Menentang Pajak Belanda dan Bertahan dari Penjara Kolonial

pantau.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Yoseph Ola Bebe, tokoh pejuang asal Desa Watoone, Pulau Adonara, kembali dikenang melalui misa syukur 50 tahun wafatnya pada 19 Mei 2026 sebagai sosok yang memimpin perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda pada 1912 dan tetap bertahan meski harus menjalani hukuman penjara selama 15 tahun.

Perjuangan Ola Bebe bermula ketika ia menolak kebijakan pajak kolonial yang dibebankan kepada masyarakat petani di Desa Watoone.

Sebagai bentuk perlawanan, ia merobek surat perintah pembayaran pajak dari Pemerintah Kolonial Belanda dan menggantung sobekan surat tersebut di sebuah pohon sebagai simbol penolakan.

Tindakan itu memicu ketegangan setelah Belanda memanggil ibunya, Bengan Tokan, untuk diperiksa terkait aksi putranya.

Memimpin Perlawanan dan Perang Gerilya

Tidak menerima perlakuan terhadap keluarganya, Ola Bebe kemudian menyusun strategi perlawanan bersama para pengikutnya.

Ia memimpin serangan terhadap Pos Tentara Belanda di Witihama yang berjarak sekitar 500 meter dari Desa Watoone.

Pertempuran tersebut menyebabkan korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Dalam masa pelarian, Ola Bebe membawa istrinya, Boi Duli, dan putranya yang masih kecil, Boro Tura, untuk bersembunyi di hutan dan pegunungan.

Ia menjalankan strategi perang gerilya dengan berpindah-pindah tempat untuk menghindari pengejaran Belanda.

Setelah setahun gagal menangkapnya, Belanda menggelar sayembara dengan hadiah 30 keping perak bagi siapa saja yang dapat menangkap atau membunuh Ola Bebe.

Namun tidak ada warga yang berhasil menyerahkannya kepada pemerintah kolonial.

Menyerahkan Diri Demi Menyelamatkan Ibunya

Belanda kemudian menangkap ibunya saat pulang dari pasar sebagai upaya menekan Ola Bebe.

Demi menyelamatkan sang ibu, Ola Bebe akhirnya memutuskan menyerahkan diri kepada pemerintah kolonial.

Pada 1913 ia menjalani proses hukum di Pengadilan Belanda di Desa Loga, Adonara Timur.

Setahun kemudian, ia dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun dengan tuduhan melakukan pembangkangan terhadap pemerintah kolonial.

Sebelum menjalani hukuman, Ola Bebe menyampaikan pesan dalam bahasa Lamaholot yang berbunyi, "Lewo ni go amak naen hala dan Tanah ni go amak naen hala, go gwetek matanek. Naku Lewo noon Tanah ni go amak naen, nuan tou go balik lewuk tanah", ungkapnya.

Pesan tersebut bermakna bahwa apabila kampung dan tanah itu bukan milik leluhurnya maka ia akan meninggal di penjara, namun jika benar milik leluhurnya maka ia akan kembali ke kampung halamannya.

Berpindah Penjara hingga Kembali ke Kampung Halaman

Selama menjalani hukuman, Ola Bebe dipindahkan ke sejumlah penjara, mulai dari Larantuka, Kupang, Kalisosok Surabaya, Nusakambangan, Sukamiskin, Jakarta, Paledang Bogor, hingga Sawahlunto di Sumatera Barat.

Pada 1917 ia dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Emmahaven atau kini Teluk Bayur untuk menjalani kerja paksa di pertambangan batu bara Sawahlunto.

Menurut catatan yang disampaikan keluarga, banyak tahanan politik dan pembangkang kolonial yang ditempatkan di Sawahlunto tidak pernah kembali ke kampung halaman.

Cucu Ola Bebe, Hendrikus Lebu Raya, mengungkapkan kakeknya berhasil bertahan hidup, menyelesaikan masa hukuman, dan kembali berkumpul dengan keluarganya.

Ola Bebe akhirnya membuktikan ucapannya dengan kembali ke Desa Watoone setelah menjalani hukuman penjara.

Pada 1976, Yoseph Ola Bebe meninggal dunia dalam usia 106 tahun dan dimakamkan di desa kelahirannya.

Hingga kini namanya terus dikenang oleh keluarga dan masyarakat setiap 19 Mei serta diabadikan melalui SMP Lamaholot 1912.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PBNU: Jangan Hakimi Ribuan Pesantren karena Segelintir Oknum Pelaku Kekerasan Seksual
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kerusuhan Pecah usai PSG Juara Liga Champions, 416 Orang Ditangkap
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dentuman Keras Terdengar di Massachusetts, NASA Konfirmasi Ada Meteor Pecah
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
FA7 Indonesia Siap Hadapi Brasil di Semifinal IFA7 World Championship 2026 di Honduras, Ini Sejarah Baru Sepak Bola 7 Nasiona
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Bengkel di Cikupa Tangerang Kebakaran, 1 Orang Tewas Terjebak di Toilet
• 18 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.