PDIP: Pancasila Harus Jadi Kompas Bangsa Hadapi Krisis Global

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), I Wayan Sudirta mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan Hari Lahir Pancasila sebagai momentum memperkuat persatuan dan membangun ketahanan nasional di tengah berbagai tantangan geopolitik serta tekanan ekonomi global.

Dalam refleksinya menyambut Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, Wayan menegaskan Pancasila tidak boleh hanya dipahami sebagai warisan sejarah, tetapi harus menjadi pedoman nyata dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga :
Pancasila Kunci Memulihkan Kepercayaan Sosial di Tengah Krisis Global
PDIP Minta Prabowo Tak Asal Instruksikan Bahasa Prancis di Sekolah: Perlu Kajian Mendalam!

“Tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, ‘Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia’, merupakan panggilan sejarah untuk menjadikan Pancasila sebagai kompas dalam menghadapi berbagai krisis, baik di tingkat nasional maupun global,” kata Wayan dalam keterangannya pada Minggu, 31 Mei 2026.

Sejarah mencatat, lanjut dia, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dibangun di atas ruang hampa, melainkan ditempa dalam kawah candradimuka persidangan BPUPKI pada akhir Mei hingga awal Juni 1945. Menurutnya, sidang tersebut bukanlah forum politik biasa, melainkan panggung dialektika intelektual tingkat tinggi di mana para arsitek bangsa memeras pikiran untuk merumuskan Philosophische Grondslag (filosofi dasar) atau Weltanschauung (pandangan hidup) bagi sebuah negara kepulauan yang luar biasa majemuk.

“Lahirnya Pancasila bukanlah hasil perenungan semalam, melainkan kulminasi dari pergulatan gagasan tiga tokoh besar bangsa: Mohammad Yamin, Soepomo, dan berpuncak pada pidato monumental Ir. Soekarno (Bung Karno),” ujar Ketua Umum Ikatan Alumni Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia (IKA Doktor Hukum UKI) ini.

Dengan ketajaman intelektualnya, kata Wayan, Bung Karno berhasil merangkum berbagai gagasan kebangsaan menjadi lima prinsip fundamental yang mampu menyatukan keberagaman Indonesia, yaitu kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan yang berkebudayaan.

“Pancasila tidak lahir dari hegemoni satu pemikiran, melainkan dari konsensus luhur dan dialektika sejarah, menjadikannya fondasi permanen yang mengikat keberagaman Nusantara dari Sabang hingga Merauke,” jelas Anggota Komisi III DPR RI ini.

Secara filosofis, Wayan menegaskan Pancasila bukan sekadar kompilasi dogma yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebuah kesatuan ontologis yang bersifat hierarkis-piramida dan saling menjiwai (mutually inclusive). Kelima sila tersebut membentuk satu kesatuan nilai yang sling menjiwai dan menjadi landasan dalam pembentukan kebijakan maupun peraturan perundang-undangan.

Baca Juga :
PDIP Sindir Rencana Safari Politik Jokowi untuk PSI: Jangan Lupa Tunjukkan Ijazah Asli
Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 Dipastikan Siap Digelar, BPIP Ajak Seluruh Daerah Gelar Upacara
Respons Prabowo, Puan Tegaskan PDIP Kritik Demi Kesejahteraan Rakyat

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Meski Cedera, Nilai Pasar Kapten Timnas Indonesia Jay Idzes Justru Naik usai Main Apik Bareng Sassuolo di Musim 2025/2026
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Mantan Menhan RI Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Profil dan Jabatan Ahmad Syah Farhan Rachman, Bos Hanania Travel Jadi Tersangka Dugaan Penipuan Umrah
• 8 jam laludisway.id
thumb
Kebiasaan Warga RI yang Kelihatannya Keren, Ternyata Bikin Miskin!
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Lineup PSG Vs Arsenal: Les Parisiens Turunkan Kekuatan Penuh, The Gunners Andalkan Havertz
• 18 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.