Moskow (ANTARA) - Misi pembagian senjata nuklir Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Eropa melemahkan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), menurut Kedutaan Besar Rusia di Oslo kepada RIA Novosti ketika mengomentari keputusan Norwegia bergabung dalam inisiatif penangkalan nuklir Prancis.
Pada Rabu (27/5), Perdana Menteri (PM) Norwegia Jonas Gahr Store mengatakan negaranya akan dilindungi oleh "payung nuklir" Prancis, tetapi senjata nuklir tidak akan ditempatkan di wilayah Norwegia pada masa damai.
"Rusia menilai interaksi semacam itu di antara negara-negara NATO sebagai sesuatu yang sangat negatif, karena dianggap sebagai 'misi nuklir bersama' yang merusak rezim NPT, keamanan di kawasan Euro-Arktik, serta stabilitas global secara lebih luas," menurut pernyataan kedutaan tersebut.
Kedutaan Rusia menambahkan kerja sama Prancis-Norwegia dalam inisiatif tersebut dapat mencakup latihan militer bersama.
Baca juga: Turkiye antisipasi kehadiran Trump pada KTT NATO di Ankara
Norwegia juga dapat menyediakan kekuatan konvensionalnya, terutama pesawat tempur F-35, untuk mendukung pengangkut senjata nuklir Prancis, sebagaimana telah dilakukan dalam manuver nuklir tahunan NATO yang dikenal sebagai Steadfast Noon.
Pada Maret lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan pihaknya telah memasuki era "penangkalan nuklir tingkat lanjut".
Dalam pendekatan baru tersebut, Paris akan meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir, sementara negara-negara Eropa akan dapat berpartisipasi dalam latihan penangkalan bersama.
Macron menyebutkan delapan negara Eropa akan bergabung dengan "doktrin" Prancis tersebut, yakni Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.
Baca juga: Rusia sambut baik penolakan Hungaria kirim senjata ke Ukraina
Steadfast Noon adalah latihan militer tahunan yang rutin diselenggarakan NATO untuk menguji dan melatih kesiapan prosedur pencegahan nuklir.
Latihan militer itu murni untuk melatih kemampuan personel dan awak pesawat dalam menjalankan misi penyerangan, meskipun tidak ada senjata nuklir sungguhan yang digunakan.
Latihan tersebut melibatkan hingga belasan negara anggota NATO dengan mengerahkan puluhan jenis pesawat tempur, termasuk pesawat pembom jarak jauh seperti B-52 dan jet canggih F-35, serta pesawat tanker dan pengintai. Biasanya, latihan itu dilakukan selama dua pekan pada bulan Oktober.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: AS dikabarkan akan kurangi kontribusi militer kepada NATO
Pada Rabu (27/5), Perdana Menteri (PM) Norwegia Jonas Gahr Store mengatakan negaranya akan dilindungi oleh "payung nuklir" Prancis, tetapi senjata nuklir tidak akan ditempatkan di wilayah Norwegia pada masa damai.
"Rusia menilai interaksi semacam itu di antara negara-negara NATO sebagai sesuatu yang sangat negatif, karena dianggap sebagai 'misi nuklir bersama' yang merusak rezim NPT, keamanan di kawasan Euro-Arktik, serta stabilitas global secara lebih luas," menurut pernyataan kedutaan tersebut.
Kedutaan Rusia menambahkan kerja sama Prancis-Norwegia dalam inisiatif tersebut dapat mencakup latihan militer bersama.
Baca juga: Turkiye antisipasi kehadiran Trump pada KTT NATO di Ankara
Norwegia juga dapat menyediakan kekuatan konvensionalnya, terutama pesawat tempur F-35, untuk mendukung pengangkut senjata nuklir Prancis, sebagaimana telah dilakukan dalam manuver nuklir tahunan NATO yang dikenal sebagai Steadfast Noon.
Pada Maret lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan pihaknya telah memasuki era "penangkalan nuklir tingkat lanjut".
Dalam pendekatan baru tersebut, Paris akan meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir, sementara negara-negara Eropa akan dapat berpartisipasi dalam latihan penangkalan bersama.
Macron menyebutkan delapan negara Eropa akan bergabung dengan "doktrin" Prancis tersebut, yakni Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.
Baca juga: Rusia sambut baik penolakan Hungaria kirim senjata ke Ukraina
Steadfast Noon adalah latihan militer tahunan yang rutin diselenggarakan NATO untuk menguji dan melatih kesiapan prosedur pencegahan nuklir.
Latihan militer itu murni untuk melatih kemampuan personel dan awak pesawat dalam menjalankan misi penyerangan, meskipun tidak ada senjata nuklir sungguhan yang digunakan.
Latihan tersebut melibatkan hingga belasan negara anggota NATO dengan mengerahkan puluhan jenis pesawat tempur, termasuk pesawat pembom jarak jauh seperti B-52 dan jet canggih F-35, serta pesawat tanker dan pengintai. Biasanya, latihan itu dilakukan selama dua pekan pada bulan Oktober.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: AS dikabarkan akan kurangi kontribusi militer kepada NATO





