Bisnis.com, JAKARTA — PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk. (MPMX) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja usaha di tengah tekanan daya beli masyarakat yang masih membayangi industri otomotif nasional.
Group Chief Executive Officer MPMX, Suwito Mawarwati mengatakan industri otomotif pada tahun lalu menghadapi berbagai dinamika yang menuntut pelaku usaha untuk tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kehati-hatian.
“Di tengah kondisi industri yang menantang, kami tetap berupaya menjaga kualitas bisnis dan memperkuat fundamental usaha secara berkelanjutan," ujar Suwito dalam keterangannya, dikutip Minggu (31/5/2026).
Dia menjelaskan, sejumlah faktor eksternal masih memengaruhi kinerja industri otomotif nasional, mulai dari melemahnya daya beli masyarakat, tekanan pada pembiayaan kendaraan, hingga normalisasi permintaan di beberapa segmen usaha.
Meski demikian, perseroan menegaskan tetap berkomitmen menjaga kesehatan bisnis melalui strategi yang lebih selektif serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi pasar.
Untuk mencapai tujuan tersebut, MPMX terus memperkuat disiplin operasional melalui berbagai langkah efisiensi, pengelolaan risiko yang prudent, serta optimalisasi portofolio bisnis guna menjaga kualitas pertumbuhan usaha.
Baca Juga
- Emiten Grup Saratoga Mitra Pinasthika (MPMX) Tebar Dividen Rp745 Miliar
- Kinerja Grup Saratoga MPMX Kuartal I/2026 Dibayangi Lesunya Pasar Otomotif
- Pasar Otomotif Lesu Tekan Kinerja Emiten Grup Saratoga (MPMX) pada 2025
Menurut perseroan, pendekatan tersebut menjadi kunci untuk memperkuat fondasi jangka panjang di tengah perubahan industri otomotif yang berlangsung cepat, termasuk pergeseran preferensi konsumen dan meningkatnya kompetisi di pasar.
Dari sisi kinerja keuangan, MPMX membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp16,2 triliun sepanjang 2025. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat mencapai Rp462 miliar.
Pendapatan dan laba bersih masing-masing mengalami koreksi sebesar 1% dan 19%, dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan menilai capaian tersebut masih mencerminkan ketahanan bisnis di tengah kondisi industri yang penuh tantangan.
Di level industri, pelemahan nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) turut menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan biaya produksi, khususnya bagi pabrikan yang masih mengandalkan komponen impor.
Selain faktor kurs, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% juga berpotensi menambah tekanan terhadap pasar otomotif, terutama pada segmen kendaraan yang pembeliannya bergantung pada pembiayaan kredit.
Oleh karena itu, MPMX memandang penguatan fundamental usaha menjadi langkah penting untuk menghadapi berbagai tantangan industri otomotif ke depan, termasuk perubahan kondisi ekonomi domestik dan semakin selektifnya konsumen dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan.





