Wajah agama, tradisi, dan kurban di Indonesia

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Sebuah ungkapan terkenal pernah dilontarkan oleh cendekiawan muslim Nurcholis Madjid. Ia mengatakan bahwa agama dan tradisi itu dua hal yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.

Itulah sebabnya dalam Islam ada agama Islam dan tradisi Islam yang tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan. Kelahiran sebuah agama termasuk kepercayaan di sebuah tempat akan menumbuhkan tradisi yang terus berkembang seiring waktu yang tidak dapat ditolak karena merupakan sebuah keniscayaan.

Agama turun tentu tidak di ruang hampa. Ia hadir pada ruang dan waktu tertentu dengan masyarakat yang memiliki tradisi setempat, lalu seiring perjalanan waktu berkembang ke ruang yang lebih luas dengan masyarakat yang memiliki tradisi beragam.

Hal itulah yang menjelaskan mengapa wajah Islam di Maroko dan wajah Islam di Indonesia pernah diteliti dan diulas dengan cara menarik oleh Clifford James Geertz, yang kemudian namanya lebih dikenal dengan dua suku kata saja sebagai Clifford Geertz, seorang antropolog dan sosiolog Amerika pada tahun 60-an.

Clifford Geertz melukiskan wajah Islam yang memiliki kemiripan maupun perbedaan di kedua negara tersebut. Interaksi ajaran agama Islam dengan tradisi setempat kemudian memunculkan ekspresi beragama atau wajah Islam yang khas, yaitu resultan dari ajaran dan tradisi masyarakat.

Pada artikel ini, penulis akan mengulas ritual kurban yang dilaksanakan umat Islam di Indonesia sebagai sebuah ajaran agama Islam dan tradisi Islam sehingga singkatnya kurban sebagai ibadah ritual personal dan kurban sebagai tradisi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, tetapi sekali lagi dapat dibedakan.

Sebagai ibadah ritual yang personal, tentu tidak dapat diperdebatkan lagi bahwa secara fiqih yang diyakini secara luas oleh umat Islam, kurban adalah ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri pada Tuhan YME dengan menyembelih kambing atau domba yang kemudian berdasarkan ijtihad para ulama dapat pula menggunakan unta, sapi, kerbau.

Setiap satu ekor kambing atau domba untuk ibadah kurban satu orang, sementara untuk satu ekor unta, sapi, atau kerbau untuk ibadah kurban tujuh orang.

Memang ada pendapat lain yang lebih sedikit yang menyatakan bahwa satu ekor kambing atau domba dapat menjadi ibadah kurban untuk satu keluarga. Penyembelihan dilakukan pada Hari Raya Idul Adha yaitu setelah shalat Id hingga tiga hari berikutnya yang disebut hari tasyrik.

Hari Raya Idul Adha di beberapa tempat di Indonesia seperti kabupaten tertentu di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur sangat meriah. Jauh lebih meriah dibanding perayaan Idul Fitri.

Selepas penyembelihan daging kurban dibagikan untuk masyarakat setempat, fakir miskin, serta sebagian untuk pemilik yang berqurban. Malam harinya karena setiap keluarga memiliki daging, maka seringkali dilakukan kegiatan membakar sate berjamaah baik di setiap keluarga, rukun tetangga, hingga komunitas-komunitas.

Bakar sate berjamaah tentu bukan ajaran Islam, tetapi berkembang menjadi tradisi yang muncul di setiap pelaksanaan kurban.


Wajah Islam

Bagi peneliti sosial, mungkin, aktivitas membakar sate setiap malam setelah Idul Adha dapat dikategorikan sebagai wajah Islam di Indonesia dalam artian tradisi Islam di Nusantara. Ia bukan ajaran Islam, tetapi ekspresi aktifitas tersebut tidak dapat dipisahkan dari ibadah kurban umat Islam.

Penyediaan hewan kurban juga berkembang. Jika di masa lalu penyedia hewan kurban adalah muslim perorangan, maka seingat penulis sejak akhir 90-an berkembang menjadi komunal.

Sebuah sekolah misalnya, mengadakan membeli hewan kurban dari uang iuran para siswanya. Saat masih di sekolah menengah pada tahun 1995, penulis sempat menolak dan berdebat dengan guru agama Islam ketika itu.

Bagi penulis yang masih remaja, secara fiqih tidak sah sebuah sekolah berkurban dengan hewan kurban berasal dari dana iuran. Guru agama ketika itu mengakui bahwa memang secara fiqih hewan kurban seperti kambing atau domba hanya untuk ibadah kurban satu orang, demikian pula sapi atau kerbau untuk tujuh orang.

Namun, sang guru menjelaskan bahwa kurban di sekolah memang tidak diniatkan untuk kurban perorangan, tetapi untuk melatih dan mendidik siswa berkurban dengan menyisihkan uang jajan lalu membagikan daging kurban ke masyarakat di sekitar sekolah agar turut serta menikmati daging hewan.

Penulis ketika itu sebagai siswa termasuk yang keukeuh tidak menerima penjelasan tersebut karena memang masih puritan.

Seiring waktu dengan semakin bertambah usia dan berjumpa dengan pemikiran-pemikiran tradisi Islam penulis dapat menerima bahwa agama memang tumbuh tidak di ruang yang vakum sehingga melahirkan tradisi-tradisi yang khas.

Penyediaan hewan kurban juga seringkali menjadi momentum bantuan sosial sebuah institusi kepada masyarakat sekitar atau organisasi kemasyarakatan.

Sejak dulu kala, menjelang Idul Adha biasanya institusi pemerintahan seperti pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, maupun institusi lain di pusat seperti kementerian dan lembaga mengalokasikan dana dari APBN/APBD untuk pengadaan hewan qurban. Itulah sebabnya publik mengenal qurban bupati, qurban gubernur, maupun qurban presiden hingga qurban rektor dan qurban menteri.

Biasanya institusi memesan hewan yang berkualitas premium karena menjadi prestise lembaga. Prestise ini juga penting bagi perkembangan peternakan kambing, domba, kerbau, dan sapi di Indonesia.


Ekonomi kurban

Banyak yang tidak tahu bahwa citra peternak yang hewan peliharaannya dipesan oleh presiden, gubernur, dan bupati menjadi naik. Pesanan dari para pemimpin politik itu menggambarkan kualitas hewan ternakan yang dihasilkan diakui.

Di balik pesanan para pemimpin institusi tersebut para peternak berlomba-lomba berinovasi mempercepat penggemukan hewan, memastikan hewan tetap sehat dan bersih.

Di peternakan itu berputar ekonomi kerakyatan para pemilik ternak, perawat ternak, penyuluh ternak, dokter hewan, produsen pakan, hingga produsen vitamin dan obat-obatan.

Terakhir publik tidak perlu terlalu lugu dan polos menganggap itu kurban pribadi jika jumlah hewan yang disembelih pejabat puncak sebuah institusi publik lebih dari satu ekor.

Secara fiqih para pimpinan lembaga itu hanya wajib berkurban satu ekor kambing atau domba. Memang harus diakui juga terdapat bupati, gubernur, presiden, menteri yang berkurban dengan uang pribadi.

Namun, jika lebih dari satu ekor, dapat dipastikan memang sudah dianggarkan sebagai dana bantuan sosial.

Penulis bahkan menjadi saksi yang melihat bertahun-tahun sebuah lembaga dengan pimpinan nonmuslim tetapi rutin memberikan hewan untuk disembelih di Hari Raya Qurban.

Rakyat Indonesia semestinya bersyukur, meskipun Negara Indonesia bukan negara agama, tetapi memiliki kepedulian kepada hari raya agama rakyatnya dengan menjadikan momentum para pimpinan institusi memberikan bantuan sosial.

Biarlah secara fiqih setiap pemimpin puncak berkurban cukup seekor hewan qurban, tetapi secara kelembagaan memberikan bantuan sosial lebih banyak.

Itulah tradisi Islam di tanah air, tradisi para pemimpinnya yang peduli dengan menggunakan momentum hari raya agama untuk berbagi pada rakyatnya hingga pada kehidupan peternak di bawah.


*) Penulis adalah Pengurus DPP Generasi Muda Mathla’ul Anwar.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Istana Bocorkan Keunikan Presiden Prabowo, Qodari: Modal Sosial Tidak Kalah Penting
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Tanpa Megawati Hangestri, Hyundai Hillstate Resmi Umumkan Skuad untuk Turnamen Pra-musim di Korea
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Gus Ipul Puji Penampilan Tari Komodo Siswa Sekolah Rakyat Kupang
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Cerita Anis Badalkan Haji Firdaus Jemaah yang Wafat di Makkah: Saya Merinding
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Final Singapura Open 2026: Indonesia Pulang Tanpa Gelar, Fajar/Fikri Takluk dari Wakil India
• 4 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.