HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Musim baru bahkan belum dimulai, namun PSM Makassar sudah dihadapkan pada pekerjaan besar yang akan menentukan arah perjalanan tim dalam beberapa tahun ke depan. Kepergian dua pemain asing di sektor pertahanan, Yuran Fernandes dan Aloisio Neto, membuat Pasukan Ramang memasuki fase transisi yang tidak mudah.
Bagi sebagian besar suporter, kehilangan Yuran Fernandes mungkin menjadi pukulan paling berat. Bek asal Cape Verde itu bukan hanya pemain asing biasa. Selama empat musim membela Juku Eja, ia menjelma menjadi simbol ketangguhan lini belakang, sosok pemimpin di ruang ganti, sekaligus figur yang mampu menjaga stabilitas tim dalam berbagai situasi.
Ketika Wiljan Pluim meninggalkan PSM, tongkat kepemimpinan berpindah ke tangan Yuran. Dalam dua musim terakhir, ia bukan sekadar kapten yang mengenakan ban di lengan, tetapi pemain yang benar-benar menjadi wajah perjuangan Pasukan Ramang di lapangan.
Karena itu, keputusan Yuran untuk mengakhiri kebersamaannya dengan PSM dan memilih bergabung dengan Persebaya Surabaya meninggalkan lubang besar yang harus segera ditutup oleh manajemen.
Situasi semakin menantang apabila Aloisio Neto juga benar-benar tidak menjadi bagian dari skuad musim depan. Artinya, PSM berpotensi kehilangan dua bek asing utama dalam satu waktu sekaligus.
Dalam sepak bola modern, kehilangan satu bek inti saja bisa memengaruhi keseimbangan tim. Apalagi jika yang pergi adalah pemain yang selama ini menjadi fondasi pertahanan.
Namun di balik situasi tersebut, manajemen PSM tampaknya sudah menyiapkan langkah antisipasi jauh sebelum kabar kepergian Yuran benar-benar mengemuka.
Salah satu indikasinya terlihat dari keputusan mendatangkan Dusan Lagator pada putaran kedua kompetisi musim lalu.
Saat pertama kali diperkenalkan, kedatangan pemain asal Montenegro tersebut memang tidak langsung mendapatkan sorotan besar. Tidak banyak yang mengenalnya. Bahkan sebagian suporter menganggap kehadirannya hanya sebagai tambahan kedalaman skuad di sektor belakang.
Namun seiring berjalannya waktu, Dusan mulai menunjukkan alasan mengapa PSM memilih merekrutnya.
Dengan postur mencapai 190 sentimeter, kemampuan duel udara yang kuat, serta pengalaman panjang bermain di kompetisi Eropa, Dusan menghadirkan karakter yang selama ini menjadi kebutuhan PSM di lini pertahanan.
Ia memang tidak seagresif Yuran dalam memimpin rekan-rekannya di lapangan. Namun secara teknis, Dusan memperlihatkan kualitas yang menjanjikan.
Sepanjang karier profesionalnya, pemain berusia matang tersebut telah mencatatkan lebih dari 300 penampilan dengan torehan belasan gol dan assist. Catatan yang menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya bek bertahan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi saat tim melakukan situasi bola mati.
Bersama PSM pada paruh kedua musim 2025/2026, Dusan langsung mendapatkan kepercayaan tampil dalam 12 pertandingan Super League. Dari jumlah tersebut, ia berhasil menyumbangkan dua gol, sebuah kontribusi yang cukup baik untuk seorang pemain bertahan.
Yang lebih penting, kehadirannya membuat lini belakang PSM terlihat lebih tenang dan terorganisir dalam beberapa pertandingan krusial.
Karena itu, jika berbicara tentang sosok yang paling berpeluang mengisi kekosongan yang ditinggalkan Yuran Fernandes, maka nama Dusan Lagator menjadi kandidat terdepan.
Memang, menggantikan Yuran bukan perkara mudah. Pengaruh pemain asal Cape Verde itu tidak hanya diukur dari statistik atau kemampuan bertahan semata. Ia meninggalkan warisan kepemimpinan yang harus dibangun kembali oleh pemain lain.
Namun Dusan memiliki modal untuk berkembang menjadi figur penting baru di jantung pertahanan PSM.
Selain Dusan, satu nama lain yang juga diprediksi akan dipertahankan adalah Sheriddin Boboev.
Penyerang asal Uzbekistan tersebut memang belum sepenuhnya memperlihatkan performa terbaiknya sejak bergabung dengan PSM. Akan tetapi, manajemen diyakini masih melihat potensi yang bisa dikembangkan pada musim mendatang.
Terlebih, proses adaptasi pemain asing di kompetisi Indonesia tidak selalu berjalan instan. Banyak pemain yang membutuhkan satu musim penuh sebelum benar-benar mampu menunjukkan kualitas terbaiknya.
Situasi inilah yang membuat peluang Boboev bertahan masih cukup terbuka.
Jika Dusan diproyeksikan menjadi fondasi baru di lini belakang, maka Boboev bisa menjadi bagian dari proyek regenerasi sektor depan yang tengah disusun oleh manajemen.
Keputusan mempertahankan dua pemain ini juga dapat menjadi langkah yang lebih realistis dibanding melakukan perombakan total pemain asing.
PSM saat ini membutuhkan stabilitas. Terlalu banyak pergantian pemain asing dalam satu waktu justru berisiko membuat proses adaptasi tim menjadi lebih panjang.
Karena itu, mempertahankan pemain yang sudah memahami atmosfer klub, karakter kompetisi Indonesia, serta kultur sepak bola Makassar menjadi pilihan yang cukup masuk akal.
Meski demikian, keputusan akhir tetap akan sangat bergantung pada pelatih kepala baru yang akan ditunjuk oleh manajemen.
Pelatih baru tentu memiliki kebutuhan dan filosofi permainan tersendiri. Ia akan menentukan pemain seperti apa yang dibutuhkan untuk membangun skuad musim depan.
Namun jika melihat kondisi saat ini, Dusan Lagator dan Sheriddin Boboev memiliki peluang besar untuk tetap menjadi bagian dari proyek baru Pasukan Ramang.
Di tengah kepergian Yuran Fernandes dan potensi hengkangnya Aloisio Neto, keduanya bisa menjadi titik awal bagi PSM untuk membangun kembali kekuatan tim.
Sebab dalam setiap masa transisi, selalu ada pemain yang pergi dan meninggalkan jejak. Tetapi selalu ada pula pemain baru yang perlahan muncul untuk mengambil peran lebih besar.
Dan di PSM Makassar, nama Dusan Lagator tampaknya sedang bergerak menuju peran tersebut.





