Masih Perlukah Negara Memiliki Ideologi?

kompas.com
1 hari lalu
Cover Berita

DALAM setiap diskusi tentang kemajuan negara, selalu muncul pertanyaan klise, mana yang lebih penting, ideologi atau institusi?

Jawaban idealnya tentu mudah. Keduanya. Ideologi memberi arah, institusi memberi mesin.

Ideologi menunjukkan ke mana kapal akan berlayar, institusi memastikan kapal itu benar-benar bergerak. Tanpa arah, kapal tersesat. Tanpa mesin, kapal hanya menjadi monumen yang mengapung.

Namun, masalahnya, kita tidak hidup di dunia ideal. Kita hidup di dunia nyata. Dan dunia nyata sering kali memaksa kita memilih mana yang lebih menentukan ketika keduanya tidak hadir secara bersamaan.

Sejarah menunjukkan bahwa negara dengan ideologi yang sangat kuat belum tentu berhasil. Sebaliknya, negara dengan institusi yang kuat sering tetap mampu bertahan meskipun ideologinya biasa-biasa saja.

Kenyataan yang sederhana begini. Tidak ada warga yang bangun pagi lalu berkata, "Hari ini saya akan bekerja keras karena saya mencintai sosialisme."

Tidak ada pedagang yang membuka toko karena terinspirasi oleh buku filsafat Karl Marx. Tidak ada investor yang menanamkan modal miliaran rupiah karena terpesona oleh slogan ideologis.

Orang bekerja, berdagang, dan berinvestasi karena hukum berjalan, kontrak dihormati, keamanan terjamin, birokrat dapat dipercaya, dan birokrasi dapat diprediksi. Dengan kata lain, yang menggerakkan kehidupan sehari-hari bukanlah ideologi, melainkan kualitas institusi.

Institusi adalah sesuatu yang sering tidak terlihat, tetapi dampaknya dirasakan setiap hari.

Baca juga: Jalan Lebar Preman Menuju Kekuasaan

Polisi yang profesional adalah institusi. Pengadilan yang adil adalah institusi. Universitas yang menghasilkan ilmu adalah institusi. Sistem perpajakan yang tertib adalah institusi. Birokrasi yang melayani adalah institusi.

Jika institusi bekerja, masyarakat dapat hidup tenang meskipun tidak semua orang memahami ideologi. Sebaliknya, ideologi sehebat apa pun akan kehilangan makna jika institusinya rusak.

Bayangkan sebuah negara yang setiap hari berbicara tentang keadilan, tetapi pengadilannya dapat dibeli. Setiap hari berbicara tentang kesejahteraan rakyat, tetapi anggarannya dikorupsi. Setiap hari berbicara tentang persatuan, tetapi hukum diterapkan tebang pilih.

Di atas kertas, ideologinya mungkin tampak mulia. Dalam kenyataan, karena institusi tidak berfungsi, rakyat tidak merasakan apa pun selain penderitaan.

Kita sama-sama tahu, masyarakat modern semakin pragmatis. Mereka tidak lagi bertanya seberapa indah ideologi yang ditawarkan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Mereka bertanya apakah jalan diperbaiki, sekolah berjalan, rumah sakit berfungsi, pekerjaan tersedia, dan harga minyak goreng stabil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Soal Penerapan Sistem E-voting Dalam Pemilu 2029, Begini Kata Golkar
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Membaca Ekonomi Indonesia Melalui Pancasila
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pancasila Harus Jadi Kekuatan Nyata Pendorong Kemajuan
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kenalan dengan Red Bra Theory, Trik Fashion yang Sangat Membantu!
• 10 menit lalubeautynesia.id
thumb
Media Asing Sorot Bom Perang Dunia II Meledak di Papua RI, Katakan Ini
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.