Catatan-catatan dari Resepsi 733 Tahun Surabaya

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan menjadi sorotan dalam Resepsi Hari Jadi Kota Surabaya di Balai Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (31/5/2026).

Perayaan Hari Jadi ke-733 Kota Surabaya bertepatan dengan peringatan Trisuci Waisak umat Buddha. Pada peringatan tahun ini, Pemerintah Kota Surabaya mengusung tema "Pancasila Kuat, Surabaya Hebat".

Seluruh elemen masyarakat diingatkan bahwa kemajuan Kota Pahlawan merupakan hasil perjuangan dan gotong royong bersama. Tidak ada satu orang atau kelompok yang dapat mengklaim dirinya paling berjasa. Pembangunan hanya dapat terwujud melalui kebersamaan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, yakni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Pemerintah Kota Surabaya mengklaim indeks pembangunan manusia (IPM) telah mencapai 85,65 atau masuk kategori sangat tinggi (≥80). Angka tersebut jauh di atas IPM Jawa Timur yang sebesar 76,13 dan menjadi yang tertinggi di antara 38 kabupaten/kota di provinsi berpenduduk sekitar 41 juta-42 juta jiwa itu.

"Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya memastikan pelayanan kesehatan semakin dekat, pendidikan semakin merata, kesempatan kerja semakin terbuka, UMKM semakin berkembang, dan warga miskin tidak ditinggalkan," ujar Pelaksana Harian Wali Kota Surabaya Armuji dalam sambutan resepsi.

Baca Juga732 Warsa Surabaya Menguat Lawan Bahaya
Baca JugaSurabayaku, Surabayamu

Armuji yang juga Wakil Wali Kota Surabaya mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang masih menunaikan ibadah haji.

Dalam sambutannya, Armuji menyebutkan bahwa dari sisi kesehatan, pemerintah kota telah mengoperasikan tiga rumah sakit umum daerah (RSUD), 63 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), dan 2.191 pos pelayanan terpadu (posyandu) keluarga.

Program satu tenaga kesehatan di setiap rukun warga (RW) juga terus dipertahankan. Surabaya memiliki 9.083 rukun tetangga (RT) yang tersebar dalam 1.360 RW, 154 kelurahan, dan 31 kecamatan. Setiap puskesmas dilengkapi ambulans, sementara seluruh kelurahan telah terhubung dengan layanan kesehatan primer secara digital.

Dalam penanganan stunting, Surabaya mengklaim menjadi salah satu daerah terdepan. Prevalensi stunting tercatat tinggal 0,59 persen. Pemerintah kota juga memastikan perlindungan asuransi kesehatan bagi anak-anak serta mendukung program wajib belajar 13 tahun. Beasiswa Pemuda Tangguh telah diberikan kepada 16.801 siswa SMA/SMK/MA dan 5.874 mahasiswa.

"Ke depan kami memfokuskan pemberian akses pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga miskin agar pendidikan menjadi senjata untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga," kata Armuji yang akrab disapa Cak Ji.

Selain itu, pemerintah kota juga memberikan perhatian besar terhadap pendidikan anak difabel melalui Rumah Anak Prestasi (RAP) yang berlokasi di Nginden, Sonokwijenan, Kedung Cowek, dan Dukuh Menanggal.

Saat ini, masyarakat, baik di tingkat lokal maupun global, menghadapi berbagai tantangan. Geopolitik dunia tertekan oleh konflik kawasan, perang dagang, serta perubahan arah kebijakan ekonomi antarnegara. Harga berbagai komoditas bergerak dinamis dengan kecenderungan meningkat. Di sisi lain, daya beli masyarakat harus tetap dijaga, sementara kebutuhan akan lapangan kerja dan penguatan ekonomi rakyat terus meningkat.

"Namun, bukan Surabaya jika warganya menyerah. Bukan Surabaya jika tidak memiliki daya juang di tengah beragam kesulitan," ujar Armuji yang juga Ketua DPC PDI-P Kota Surabaya.

Menurut pemerintah kota, ketangguhan itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Surabaya yang mencapai 5,87 persen pada 2025. Perekonomian kota ini ditopang oleh produk domestik regional bruto (PDRB) senilai Rp 830,54 triliun. Surabaya juga mampu menjaga inflasi pada level 2,96 persen.

Di tengah kondisi ekonomi tersebut, pemerintah mengklaim angka kemiskinan dapat terus ditekan. Pada 2024, tingkat kemiskinan tercatat 3,96 persen. Setahun kemudian, angka itu turun menjadi 3,56 persen. Pemerintah menilai Surabaya berada di jalur yang tepat untuk mempercepat pengentasan kemiskinan.

Pemerintah berjanji terus memperkuat ekonomi rakyat melalui pembukaan akses lapangan kerja, pendampingan UMKM, dan upaya menjaga stabilitas harga komoditas. Pertumbuhan ekonomi dinilai penting, tetapi manfaatnya juga harus dapat dirasakan secara adil oleh seluruh warga.

Baca JugaSurabaya, Kota Kenangan dan Harapan yang Tak Terlupa
Baca JugaSiapa yang Bisa Lupa Surabaya?

Dengan jumlah penduduk sekitar 3,1 juta-3,2 juta jiwa, Surabaya juga menghadapi berbagai persoalan khas kota metropolitan. Salah satunya adalah pengelolaan sampah. Selain itu, penanganan banjir menjadi tantangan tersendiri mengingat posisi Surabaya sebagai kota pesisir di utara Jawa sekaligus gerbang perdagangan internasional.

Produksi sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Melalui jaringan bank sampah, rumah kompos, dan pengelolaan berbasis masyarakat, sekitar 170 ton sampah dapat diolah setiap hari. Selain itu, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo telah beroperasi dan diklaim mampu mengolah hingga 1.600 ton sampah per hari untuk menghasilkan listrik berkapasitas 11 megawatt.

Pemerintahan Eri Cahyadi-Armuji yang dikenal dengan sebutan "Erji" dimulai pada 26 Februari 2021 dan kini memasuki periode kedua. Pemerintah kota tetap memberikan perhatian besar terhadap peningkatan kualitas infrastruktur, terutama untuk penanggulangan banjir.

Berbagai proyek infrastruktur telah dilaksanakan di 2.353 titik di seluruh wilayah Surabaya. Pemerintah kota juga membangun dan merehabilitasi jaringan drainase sepanjang sekitar 274 kilometer serta membangun tujuh rumah pompa baru. Upaya tersebut diklaim berhasil mengurangi banjir di 295 titik.

Seusai resepsi, Ketua DPRD Kota Surabaya Syaifuddin Zuhri mengatakan pembangunan harus memastikan tidak ada warga yang tertinggal ataupun merasa ditinggalkan.

"Sudah tepat jika seluruh program dijalankan dengan berlandaskan nilai-nilai Pancasila," ujar Zuhri yang akrab disapa Kaji Ipuk.

Menurut Zuhri, pemerintah juga perlu memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan sosial, terutama kejahatan. Tantangan memimpin masyarakat yang majemuk dari sisi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) memang tidak mudah.

Namun, ia mengingatkan bahwa karakter Surabaya telah tercermin sejak lama. Nama Curabhaya yang tercantum dalam Prasasti Canggu (Trowulan I) tahun 1358 merujuk pada sebuah desa di tepi sungai yang menyediakan jasa penyeberangan atau naditira pradeca. Curabhaya dimaknai sebagai keberanian menghadapi bahaya.

"Surabaya itu tidak memiliki tantangan yang tidak bisa dihadapi dan diatasi," kata Zuhri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenko Perekonomian: Pancasila Jadi Kunci Persatuan Bangsa Hadapi Dinamika Global
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Rawan Perang Kartel, Seberapa Aman Meksiko bagi Pengunjung Piala Dunia 2026?
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
Upacara Hari Lahir Pancasila Tingkat Pusat 2026 Berlangsung Lancar dan Khidmat
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kemenhaj rancang haji 2027 cari formula atasi kenaikan avtur
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
InJourney perkuat kesiapan fasilitas 14 bandara sambut kepulangan haji
• 6 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.