Dinamika Sepak Bola Afrika: Redupnya Tim Tradisi Piala Dunia dan Bangkitnya Mereka yang Tak Dianggap

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

Oleh Reza Ahmad Rayhansyah
(Mahasiswa Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Penikmat Sepak Bola)

Piala Dunia adalah pergelaran akbar empat tahunan yang mempertemukan tim nasional dari tiap negara tak lama lagi digelar, tepatnya 11 Juni-19 Juli 2026. Kali ini, organisasi sepak bola dunia (FIFA) selaku penyelenggara mempercayakan tiga negara sebagai tuan rumah bersama, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Turnamen sepak bola paling akbar yang sangat digemari dan ditunggu oleh penduduk bumi ini memiliki arti dan euforia tersendiri, terutama bagi para pendukung negara peserta. Sebanyak 48 negara yang akan berlaga di tiga negara Benua Amerika Utara itu. Negara-negara tersebut tersebar dari enam benua konfederasi sepak bola (UEFA, CONMEBOL, CAF, CONCACAF, AFC, dan OFC). Tak heran mulai dari berbagai kalangan muda sampai tua menantikan turnamen ini.

Namun, hal ini tampaknya berbeda bagi fans atau pendukung dari Kamerun dan Nigeria. Boleh disebut bahwa dua negara Afrika itu selama ini punya tradisi bagus ke putaran final World Cup. Total Kamerun telah delapan kali lolos, sedangkan Negeria sebanyak enam kali. 

Euforia World Cup edisi ke-23 ini seakan berbeda dari sebelumnya. Pasalnya negara kebanggaan mereka gagal mentas di pergelaran kali ini. Pasukan Timnas Kamerun yang memiliki julukan Les Lions Indomptables atau Singa Tak Terkalahkan justru mengalami hasil buruk pada babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Afrika. Mereka gagal mengulang keberhasilan untuk tampil lagi seperti edisi sebelumnya. Empat tahun lalu, Kamerun berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia 2022 di Qatar dengan cara dramatis setelah memang gol away dengan agregat 2-2 melawan Aljazair.  

Bagi timnas Kamerun, kegagalan tampil di Piala Dunia 2026 menjadi pukulan besar, karena tak mampu mengulang kesuksesan indah yang terjadi empat tahun lalu. Vincent Aboubakar dan kawan-kawan mengalami kekalahan dramatis 0-1 dan disingkirkan oleh Republik Demokratik Kongo (D.R. Congo) di babak semifinal play-off zona Afrika, November 2025. Kegagalan ini merupakan hasil dari buruknya performa Kamerun pada babak kualifikasi.

Performa buruk timnas Kamerun di babak kualifikasi banyak dikaitkan dengan konflik internal. Mulai dari perselisihan antara Presiden Federasi Sepak Bola Kamerun (FECAFOOT) Samuel Eo’o dengan Kementerian Olahraga Kamerun. Eto’o, legenda hidup Kamerun itu, juga berselisih dengan pelatih Kamerun Marc Brys yang berakibat adanya dualisme pemilihan skuad untuk pergelaran Piala Afrika 2025.

Salah satu tim kuat Afrika lainnya, yakni Nigeria juga mengalami tren tidak memuaskan selama  berlaga di babak kualifikasi. Puncaknya ketika Tim Super Eagles (Elang Super) harus menerima kekalahan dramatis 3-4 saat melawan D.R. Congo melalui adu penalti juga saat play-off zona Afrika. Nigeria pun gagal lagi meraih tempat ke putaran final dua kali secara beruntun. 

Senasib dengan Kamerun, redupnya sinar Nigeria yang ditandai dengan gagalnya menuju putaran final Piala Dunia juga disebabkan faktor dinamika internal tim yang gaduh. Pergantian kursi pelatih dari José Peseiro ke George Finidi yang tidak membuahkan hasil memberikan dampak buruk pada penampilan Wilfred Ndidi dan kawan-kawan di lapangan. Hal ini juga didukung oleh pemilihan taktik dan absennya Victor Osimhen sebagai pemain kunci yang memperburuk keadaan.

Saat dilatih oleh Peseiro, mereka hanya meraih 2 poin setelah meraih hasil seri dua kali saat menjamu Zimbabwe dan Lesotho dengan skor yang sama, 1-1. Sementara itu saat dilatih Finidi, mereka tak mendapatkan hasil lebih baik, justru memperpanjang hasil negatif. Dua laga hanya menghasilkan 1 poin: draw 1-1 melawan Afrika Selatan dan kalah 1-2 kontra Benin. Hasil-hasil buruk itu membuat Nigeria hanya menempati peringkat runner-up Grup C, sehingga gagal lolos otomatis dan terpaksa menjalani babak play-off. Ujung-ujungnya gagal juga ke putaran final.

Di luar masalah dari kedua negara itu, fenomena lain dari Benua Hitam adalah kebangkitan tim-tim yang tak diunggulkan seperti Tanjung Verde (Cape Verde) dan D.R. Congo sekaligus memunculkan kekuatan baru di persepakbolaan Afrika. Jika membahas  performa Tanjung Verde, tim yang tak pernah disangka-sangka untuk lolos akhirnya menciptakan rekor baru, yakni lolos untuk kali pertama sepanjang sejarah persepakbolaan mereka.

Negara kepulauan yang berada di lepas pantai barat Afrika ini mampu tampil impresif di babak kualifikasi zona Afrika. Mereka mampu meraih lima kemenangan beruntun di fase grup dengan rekor 7 laga tanpa kebobolan, termasuk menjadi batu sandungan bagi Kamerun saat berhasil menang dengan skor 1-0. Performa apik Ryan Mendes cs tak terlepas dari polesan pelatih Pedro Leitão Brito. Tangan dingin pelatih berusia 56 tahun tersebut mampu meracik skuad Tanjung Verde dengan sangat baik dan hasilnya lolos ke turnamen paling bergengsi seantero jagat.

Selain faktor pelatih, peran federasi dari Tanjung Verde yakni FCF (Federação Cabo-verdiana de Futebol) dalam mencari bakat pemain diaspora juga menjadi salah satu faktor pendukung suksesnya Tanjung Verde di babak kualifikasi. Mengutip breakingthelines.com, federasi melakukan pendekatan kreatif melalui aplikasi LinkedIn. Mereka melakukan pendekatan berbasis digital ini bertujuan untuk mencari pemain diaspora dan keturunan Tanjung Verde yang sedang berkarier di Eropa seperti bek tangguh Roberto Pico Lopes.

Di samping pendekatan melalui digital platform seperti LinkedIn, adanya lobi-lobi yang meyakinkan pada pemain diaspora Tanjung Verde mampu mengubah pikiran mereka untuk bermain bersama dengan jaminan tampil di event sekelas Piala Dunia. Upaya ini yang membuat Tanjung Verde mampu lolos ke Piala Dunia 2026 dan mencatatkan sejarah bagi negara mereka.

D.R. Congo juga menciptakan kesuksesan tersendiri. Negara berpenduduk 116 juta jiwa itu kembali lolos ke Piala Dunia setelah absen selama 52 setelah terakhir berpartisipasi di Piala Dunia 1974 di Jerman Barat saat masih bernama Zaire. D.R. Congo lolos setelah menang 1-0 melawan Jamaika di babak final play-off.

Perjalanan negara berperingkat ke-46 FIFA (per Mei 2026) itu tidak mudah. Satu grup dengan Senegal membuat mereka hanya mampu meraih posisi runner-up terbaik setelah menang 7 kali dari 10 pertandingan, dan hanya mengalami kekalahan 2 kali dan seri sekali. Setelah lolos dari fase grup mereka mampu mengalahkan tim-tim kuat seperti Kamerun dengan menyingkirkannya di semifinal melalui gol dramatis Chancel Mbemba Mangulu menit ke-90. Setelah mengalahkan Kamerun, mereka meraih kemenangan saat menumbangkan Nigeria di babak final kualifikasi zona Afrika.

Kesuksesan yang diraih oleh D.R. Congo adalah hasil dari kesabaran dan juga adanya dukungan dari federasi. Seperti halnya Tanjung Verde, D.R. Congo juga memanfaatkan pemain diaspora. Pemain seperti Axel Tuanzebe (klub Ipswich Town) dan Aaron Wan-Bissaka (Manchester United) adalah bagian dari perjuangan federasi dalam membujuk pemain tersebut untuk membela pasukan The Leopards.

Selain itu, adanya dukungan penuh dari rakyat D.R. Congo juga menjadi faktor penting lolosnya negara yang memiliki banyak tambang mineral tersebut. Militansi dan antusiasme suporter selalu memadati stadion saat tim nasional mereka berlaga. Berdasarkan data dari ESPN India, mereka menciptakan rekor penonton terbanyak, yakni 70.000 lebih orang datang meramaikan Stade des Martyrs di Kinshasa, saat D.R. Congo menjamu Sudan Selatan.

Di satu sisi gagalnya dua tim kuat seperti Nigeria dan Kamerun dan di sisi lain lolosnya tim-tim baru seperti Tanjung Verde dan kembalinya D.R. Congo ke pentas Piala Dunia, menjadi bukti perubahan hegemoni persepakbolaan Afrika. Apakah fakta ini hanya bersifat sementara? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Jelasnya, D.R. Congo telah membuka mata publik sepak bola bahwa  persepakbolaan Afrika tidak melulu tentang negara-negara besar yang bisa lolos ke Piala Dunia. Demikian pula  Tanjung Verde, negara yang dulunya selalu menjadi pelengkap di babak kualifikasi pada akhirnya juga mampu lolos ke putaran final untuk kali pertama. Dua tim nasional negara yang “tidak dianggap” itu telah bangkit menenggelamkan hegemoni nama-nama tim mapan Afrika. Selanjutnya menunggu kejutan-kejutan mereka di AS, Kanada, dan Meksiko. D.R. Congo bergabung di Grup K bersama Portugal, Kolombia, dan Uzbekistan, sedangkan Tanjung Verde berada di Grup H yang dihuni Spanyol, Arab Saudi, dan Uruguay. Kozela malamu!


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
John Herdman Peringatkan Pemain Timnas Indonesia, Ini Syarat Jika Ingin Gabung Skuad Piala AFF 2026
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Terjebak Sepekan di Gua Banjir Laos, Lima Penambang Emas Berhasil Dievakuasi
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerataan Kesejahteraan, Prabowo Pacu Transformasi Ekonomi Berdasarkan Pancasila
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Kenang Liam Payne, Niall Horan: Sedih, tapi Aku Juga Senyum jika Ingat Masa Lalu
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Pertamina Dex dan Dexlite Turun Mulai 1 Juni 2026
• 9 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.