Jakarta, CNBC Indonesia - Kencan saat kunjungan kerja ke luar negeri mungkin terdengar sebagai tindakan nekat jika dilakukan pada masa sekarang. Namun sejarah mencatat, hal itu pernah dialami ajudan presiden Indonesia saat mendampingi Presiden pertama RI Soekarno ke Wina, Austria, pada 1963.
Sosok yang mengalami kejadian unik tersebut adalah Mayor Bambang Widjanarko. Saat itu, dia ikut dalam rombongan Bung Karno yang berada di Wina untuk menjalani pengobatan penyakit ginjal. Di sela agenda medis yang berlangsung sekitar sepekan, Bung Karno menanyakan apakah Bambang sudah menikmati suasana klub malam di Wina. Tentu saja, Bambang menjawab belum.
Soekarno kemudian meminta Bambang melakukannya, tetapi dengan syarat khusus.
"Tapi ada syaratnya, Mbang: pertama kamu harus mencari partner seorang gadis lokal, gadis Austria. Kedua, besok pagi kamu harus menceritakan seluruh pengalamanmu di waktu makan pagi seperti ini," kata Bung Karno, seperti diceritakan ulang Bambang dalam autobiografi berjudul Sewindu Dekat Bung Karno (1988).
Mendengar perintah itu, seluruh rombongan langsung tertawa. Mereka tahu presiden sedang menjahili ajudan kepercayaannya.
Candaan itu makin panjang ketika pengusaha Agus Dasaad ikut nyeletuk kalau Bambang pasti tak punya cukup uang untuk pergi ke nightclub di Wina. Bung Karno lalu masuk ke kamar dan kembali sambil menyerahkan uang kepada Bambang.
Ternyata Bambang diberi lima puluh dollar.
Namun, menurut Dasaad, uang sebanyak itu hanya cukup untuk satu botol champagne.
"Harga satu botol 50 dollar. Nah, Bambang toh tidak dapat hanya duduk sendiri menghabiskan sebotol champagne itu? Kalau begitu, ceritanya besok pagi kurang menarik," kata Dassad.
Proklamator itu langsung meminta Dasaad untuk mengeluarkan uang tambahan. Dia tahu temannya itu punya uang banyak.
Malam harinya, Bambang benar-benar menjalankan perintah atasannya tersebut. Dia berkenalan dengan seorang perempuan bernama Renata yang dikiranya gadis Austria asli. Menurut kesaksian Bambang, "Renata orangnya manis berambut pirang dan suka bergurau."
Sepanjang malam keduanya mengobrol akrab sampai Renata menyebut dirinya lahir di tempat bernama "Clateen", di Jawa. Pria kelahiran 9 September 1929 itu awalnya sempat bingung dan mengulik riwayat hidup Renata. Sampai akhirnya sadar bahwa yang dimaksud adalah Klaten.
"Jadi kamu adalah seorang gadis Belanda yang dilahirkan di Pulau Jawa. Itu termasuk Indonesia, negaraku dan kamu bukan lahir di Clateen tetapi Klaten di Jawa Tengah," kenang Bambang.
Keesokan paginya, cerita itu disampaikan Bambang saat sarapan bersama Bung Karno dan rombongan. Dia mengaku tidak menjalankan tugas dengan baik.
"Pak, saya agak malu menceritakannya. Saya tidak dapat 100% memenuhi tugas Bapak yang diberikan," ungkap Bambang.
"Ayo ceritakan, Mbang! Kamu hanya bikin penasaran saja," tegas Soekarno.
Bambang kemudian cerita dia berkenalan dengan beberapa gadis. Ada yang berasal dari Yugoslavia, Italia, Yunani dan Jerman. Namun, saat menceritakan tentang Renata, Bambang justru jadi bahan tertawaan.
Sebab, jauh-jauh pergi kencan di Wina, perempuan yang ditemuinya ternyata justru noni Belanda kelahiran Klaten, Jawa Tengah. Bung Karno pun sampai tertawa ngakak mendengar kisah tersebut.
(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google




