Masih Relevankah Pancasila di Mata Gen Z?

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Pada 1 Juni 2026, Pancasila genap berusia 81 tahun. Di tengah perkembangan zaman, terutama pesatnya informasi digital, generasi muda masih mengenal Pancasila. Namun, para pemuda yang kerap disapa generasi Z ini dihantui keraguan dan keresahan terkait nilai-nilai Pancasila yang mulai bergeser.

Di tengah perkembangan teknologi informasi dan dunia digital yang serba cepat dan kompleks, Michael Ugrasena (16), siswa SMA Kolese Kanisius Jakarta, menganggap nilai-nilai Pancasila masih relevan untuk kehidupan saat ini.

Bahkan, Pancasila bisa menjadi pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penyebaran hoaks, polarisasi politik, perundungan digital, diskriminasi, hingga kecerdasan buatan (AI).

”Pancasila tetap relevan bukan karena usianya yang telah lama, melainkan karena nilai-nilainya mampu menjadi kompas moral yang membantu generasi muda berpikir kritis, bertindak bijak, dan menjaga persatuan bangsa,” kata Michael saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (31/5/2026).

Ada diskoneksi ketika nilai-nilai ini berhadapan dengan realitas di media sosial. Anak muda kerap bertindak impulsif, terjebak dalam jempol yang lebih cepat daripada pikiran saat berinteraksi. Bagi saya, anak muda seharusnya menjadikan nilai Pancasila dalam berpikir dan bertindak di dunia maya.

Sayangnya, nilai-nilai ini berhadapan dengan realitas para generasi muda yang impulsif. Oleh karena itu, Michael berpendapat, seharusnya warga negara, terutama generasi muda, melanjutkan semangat Pancasila ini dan memperjuangkannya, termasuk dalam bersosialisasi di media sosial.

”Ada diskoneksi ketika nilai-nilai ini berhadapan dengan realitas di media sosial. Anak muda kerap bertindak impulsif, terjebak dalam jempol yang lebih cepat daripada pikiran saat berinteraksi. Bagi saya, anak muda seharusnya menjadikan nilai Pancasila dalam berpikir dan bertindak di dunia maya,” ujar Michael.

Baca JugaDiperlukan Ikhtiar Menanamkan ”Cip” Pancasila di Benak Generasi Muda

Sementara itu, M Fatahuddin (24) Presiden Mahasiswa Universitas Khairun, Ternate, menganggap Pancasila tidak hanya dari simbol Burung Garuda yang menjadi lambang negara. Pancasila adalah nilai-nilai bernegara yang harus dimaknai dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, Fatahuddin melihat nilai kehidupan tersebut telah bergeser saat ini. Kemanusiaan yang adil dan beradab hingga keadilan sosial tidak dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga seolah-olah Pancasila tidak menjadi pegangan dalam berbangsa dan bernegara.

”Pancasila itu adalah konsep kita dalam bernegara. Namun, kondisi sekarang ini tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kita semua bergeser dari nilai-nilai tersebut. Ketimpangan sosial dan ekonomi, kebebasan berpendapat yang dihantui intimidasi, ini penerapan bernegara yang tidak sesuai dengan yang masyarakat harapkan,” kata Fatah.

Mengenal baik

Pengetahuan generasi muda yang cukup tinggi dibandingkan generasi lainnya terhadap Pancasila ini terlihat dari Survei Nasional Evaluasi dan Komitmen Publik terhadap Pancasila. Jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) ini menunjukkan sebagian besar partisipan muda hafal Pancasila.

Survei berlangsung dalam kurun 4-12 Maret 2026 dan melibatkan 2.020 responden yang dipilih acak (multistage random sampling) dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Populasi survei merupakan seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni usia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah.

Baca JugaPancasila Tetap Relevan bagi Generasi Muda, tetapi Implementasinya Masih Jadi PR

Kesimpulan terkait pengetahuan (summary awareness) dalam survei ini menunjukkan 73,5 persen kelompok umur 22-25 tahun tahu kelima sila dalam Pancasila. Persentase ini menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok umur lainnya lalu menyusul usia di bawah 21 tahun (72,8 persen) dan usia 26-40 tahun (67,9 persen).

Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan menyebutkan, hasil tersebut menunjukkan generasi Z masih mengenal Pancasila dengan sangat baik. Umumnya, gen Z juga menganggap nilai-nilai Pancasila masih relevan dan penting bagi kehidupan mereka.

Bahkan, di tengah perkembangan teknologi dan digital ini, kata Djayadi, generasi Z menjadikan Pancasila sebagai kompas moral dan rujukan. Hal tersebut tentu saja harus didasari oleh adanya keteladanan di masyarakat dan negara, terutama dari para pemimpin.

”Perkembangan teknologi, seperti AI, bisa membawa dampak buruk kalau penggunanya tidak memiliki dasar nilai dan kompas moral yang kuat. Nilai-nilai Pancasila, seperti ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan sosial, sangat penting untuk menjadi rujukan dalam menghadapi perkembangan itu,” ujar Djayadi.

Angin segar

Peneliti senior dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menyambut baik generasi Z yang masih memandang Pancasila relevan menghadapi zaman. Dia menganggap ini sebagai angin segar bahwa para pemuda negeri ini tidak terpapar ideologi lain.

”Ini saya kira kabar yang baik dan membanggakan karena generasi Z berpandangan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa tetap relevan di tengah-tengah disrupsi digital dan serang-serangan ideologi lain,” ujar Lili.

Oleh karena itu, saat sebagian gen Z kecewa melihat nilai-nilai Pancasila bergeser di sekitar mereka, Lili meminta pemerintah untuk segera merespons. Sebab, dengan perkembangan informasi, terutama di media sosial yang mengalir tanpa batas, kekecewaan itu bisa berujung kepada antipati dan berdampak buruk pada pengamalan nilai-nilai Pancasila.

”Karena jika dibiarkan, para gen Z tersebut bisa menjadi kecewa karena Pancasila hanya sebagai slogan dan alat politik atau politisasi terhadap nilai-nilai Pancasila, dan itu bisa berubah menjadi antipati,” kata Lili.

Baca JugaGenerasi Muda Tidak Suka Indoktrinasi Pancasila

Penanaman nilai-nilai Pancasila terhadap gen Z, ujar Lili, semakin tidak mudah di tengah algoritma media sosial. Tidak sedikit dari mereka yang mudah terpapar karena berbagai macam informasi. Oleh karena itu, harus ada literasi media sosial agar generasi muda lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Menurut Lili, menanamkan nilai-nilai Pancasila juga tidak harus bersifat simbolik dan formalistik, tetapi juga bersifat substantif terkait implementasi Pancasila. ”Ini seperti mendukung kebebasan politik, antikekerasan, toleransi, tolak KKN dan politik dinasti, dan lainnya,” tegas Lili.

Baca JugaGenerasi Muda Diharapkan Jadi Garda Terdepan Pancasila

Sementara itu, dalam menyambut Hari Lahir Pancasila 2026 ini, Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, untuk menjaga nilai-nilai Pancasila. Peringatan Hari Lahir Pancasila ini juga perlu diisi dengan menyebarkan  pesan persatuan, toleransi, gotong royong, serta semangat cinta Tanah Air.

”Jadikan Pancasila sebagai living ideology, yaitu nilai-nilai yang hidup dan dihayati masyarakat, serta working ideology, yaitu nilai yang ditetapkan dalam penyelenggaraan negara. Jangan biarkan nilai-nilai Pancasila hanya menjadi tulisan di dinding atau teks dalam buku sejarah,” ujar Yudian.



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Begal, “Tembak di Tempat”, dan Batas Kuasa Negara
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Muller Heran Gordon Lebih Pilih Barca Ketimbang Bayern
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Penyerapan Tenaga Kerja Diproyeksi Meningkat pada Kuartal II/2026, Sektor Ini Terbanyak
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Kerusuhan Pecah Saat Perayaan Suporter PSG Usai Juara Liga Champions, 780 Orang Ditangkap di Paris
• 3 jam laluerabaru.net
thumb
Sambut Kepulangan Jemaah Haji, 14 Bandara Siapkan Fasilitas Ramah Lansia dan Disabilitas
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.