Bom Tua Meledak, Begini Sejarah Perang Dunia II di Biak

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Oleh Fitriyan Zamzami

REPUBLIKA.CO.ID, BIAK NUMFOR -- Ledakan di kepulauan Biak Numfor, Papua, yang menewaskan lima warga pada Ahad disebut dari rudal peninggalan Perang Dunia II. Bagaimana ceritanya gugusan pulau di tepian Samudera Pasifik itu menyimpan residu perang besar tersebut?

Baca Juga
  • Gubernur Papua Siapkan RSUD Biak Jadi Rujukan Utama Saireri
  • Sukses Operasikan Satelit N5, PSN Dukung Pembangunan Bandar Antariksa di Biak
  • Bom Sisa Peninggalan Perang Dunia II Diduga Jadi Penyebab Ledakan di Biak

Republika sempat menyambangi Pulau Biak beberapa waktu silam untuk mencari tahu soal sejarah tersebut. Di sana, saya menemui Didimus Nowar (80 tahun), satu dari sedikit saksi mata perang besar di Biak pada 1940-an. Ia adalah budayawan setempat penggubah lirik-lirik wor, alias seni suara setempat. 

Tete Didi menceritakan, ia masih ingat betul saat itu, kala amyas ampero, yang artinya nyala api, berkobar di seantero pulau. “Perang dimana-mana. Di timur, di utara, di barat,” tutur Tete Didi yang berkacamata tebal dan giginya masih utuh serta berwarna merah kunyahan sirih pinang itu. 

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Tak bisa lupa juga Tete Didi dengan rerupa myumbo dare, pembunuhan, yang ia saksikan. Sebagian oleh senapan, dan sebagian lainnya sumber mamunine, dengan pedang.

Perjalanan punya cara yang tak terduga untuk mempertemukan orang-orang. Tanpa direncanakan, saya bersirobok dengan Tete Didi dan rombongan penyanyi wor-nya, tepat di depan Monumen Peringatan Perang Dunia II di kawasan Parai, Pulau Biak, akhir 2015 lalu.

Monumen di Parai adalah tempat yang pertama saya kunjungi untuk menelusuri jejak Perang Dunia II di Biak. Monumen yang diresmikan tahun 1994, lebih tepatnya sejenis komplek seukuran setengah lapangan bola yang separuhnya dinaungi bangunan berbentuk cangkang kerang laut. Di bawah atap berbentuk cangkang, ada tiga set meja dan tempat duduk dari beton. Sementara di lantai di luar atap didirikan puluhan tugu-tugu kecil berbentuk kubus dan tabung.

Upacara perdamaian antara warga Biak dan Kerajaan Jepang di Monumen Perang Dunia II di Parai, Biak Numfor pada 2012. - (Dok Dinas Pariwisata Biak Numfor)

Di Parai, Pasukan Jepang pertama kalinya mendarat di Biak dalam rangka kampanye penaklukan Nusantara pada awal 1942. Pulau Biak terletak di ujung paling utara Teluk Cendrawasih dan langsung menghadap ke Samudra Pasifik. Ini jadi pertimbangan pulau yang kini dihuni sekira 150 ribu warga ini diduduki.

Menurut Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Biak, Andries Kafiar, kala itu, kedatangan Jepang bertepatan dengan perayaan Koreri, sejenis peringatan kedatangan Ratu Adil di Biak. Pasukan Jepang menyangka perayaan ini bentuk perlawanan. Perang pun pecah, dan masyarakat Biak yang kalah persenjataan berhasil dipukul mundur ke hutan-hutan.

Pada Mei 1944, pasukan Amerika Serikat yang dipimpin Jendral Douglas McArthur tiba di Biak. Di lokasi monumen terjadi salah satu pertempuran tersengit antara tentara Jepang dengan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memperebutkan gugusan pulau di Samudra Pasifik ini. Tentara Jepang yang mencoba menahan pasukan Amerika di benteng yang dulu berdiri di lokasi monumen akhirnya kewalahan. Mereka kemudian melarikan diri melalui terowongan yang kini sudah tertutupi rimbunan semak di bagian belakang monumen.

Gua Jepang...

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ledakan di Biak Numfor Papua: Diduga dari Bom Sisa Perang Dunia, 5 Tewas
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Tips Menggunakan Motor Listrik agar Baterai Awet
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Jalan Raya Lenteng Agung Arah Depok Ditutup Senin Hari Ini Pukul 14.00, Cek Jalur Alternatifnya
• 2 jam laludisway.id
thumb
Kenang Menhan Sjafrie ke Ryamizard: Teladan Militer dan Tak Suka Tindakan Ilegal
• 2 menit lalubisnis.com
thumb
Puncak Libur Panjang Iduladha 2026, KAI Catat 41.534 Penumpang Kembali ke Jakarta
• 42 menit laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.