EtIndonesia.com. Beijing baru-baru ini mengusir seorang wartawan media Amerika Serikat dengan cara menolak memperpanjang visanya. Sebagai tanggapan, pemerintah AS segera mengambil langkah balasan.
Menurut laporan The New York Times, setelah Beijing menolak visa media dan memaksa korespondennya di Tiongkok, Wang Yuemei, meninggalkan negara tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump langsung mencabut visa seorang wartawan dari media corong partai komunis Tiongkok (PKT), Xinhua News Agency yang bertugas di Amerika Serikat.
Wang Yuemei telah bekerja sebagai koresponden The New York Times di Tiongkok sejak tahun 2020.
Menurut laporan tersebut, pejabat Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengatakan kepada The New York Times bahwa alasan pengusiran Wang adalah karena media tersebut mengundang Presiden Taiwan Lai Ching-te untuk menyampaikan pidato melalui video dalam acara DealBook Summit pada Desember 2025.
Namun, Wang Yuemei sendiri tidak memiliki keterkaitan dengan penyelenggaraan maupun undangan tersebut.
Pengamat menilai langkah Beijing bukan sekadar ditujukan kepada seorang wartawan tertentu, melainkan merupakan bentuk pembalasan politik terhadap media asing yang meliput atau berinteraksi dengan isu Taiwan.
Mantan koresponden Tiongkok untuk The Wall Street Journal, Lingling Wei, menulis di platform X bahwa pola yang digunakan Beijing sudah sangat jelas, yaitu menekan pelaporan independen dan mengendalikan opini publik.
Namun, ia menambahkan bahwa mengusir wartawan Amerika tidak membuat PKT terlihat kuat, melainkan justru memperlihatkan rasa takut dan ketidakpercayaannya terhadap kebebasan pers.
Pemimpin redaksi eksekutif The New York Times, Joseph Kahn, juga mengeluarkan pernyataan yang mengkritik keputusan Beijing.
Ia mengatakan bahwa jumlah wartawan media Amerika yang masih diizinkan bekerja di Tiongkok kini telah turun ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Menurut laporan “China Connection”, tiga surat kabar utama Amerika Serikat—The New York Times, The Wall Street Journal, dan The Washington Post—saat ini secara keseluruhan hanya memiliki dua koresponden yang masih bertugas di Tiongkok, dan Wang Yuemei adalah salah satunya.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Beijing belakangan meningkatkan tindakan balasan terhadap media asing yang melakukan wawancara atau kontak dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te.
Pada Maret tahun ini, setelah Agence France-Presse mewawancarai Lai Ching-te, otoritas Tiongkok juga menolak memberikan visa kepada koresponden baru AFP yang akan ditempatkan di Tiongkok.
Sumber lain yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa DealBook Summit kemungkinan hanya dijadikan alasan oleh Beijing, karena para pejabat PKT sebenarnya sudah lama tidak puas dengan sejumlah laporan yang pernah ditulis Wang Yuemei.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa Washington tidak dapat menerima perlakuan yang tidak setara terhadap media Amerika di Tiongkok, maupun upaya apa pun dari PKT untuk membungkam media AS.
Pemerintah AS menegaskan akan terus menyampaikan keprihatinannya melalui saluran diplomatik yang sesuai terkait pembatasan yang diberlakukan Beijing terhadap operasi media AS di Tiongkok.
Sumber : NTDTV.com





