Perusahaan-perusahaan terbesar di Jepang mengurangi belanja modal pada kuartal pertama tahun ini meski laba operasional sektor manufaktur mencapai rekor tertinggi.
Mengutip Bloomberg, ketidakpastian yang muncul akibat meningkatnya gejolak di Timur Tengah, termasuk perang di Iran ternyata membayangi prospek pertumbuhan perusahaan ke depan.
Kementerian Keuangan Jepang pada Senin (1/6) melaporkan belanja modal yang tidak termasuk perangkat lunak turun 3,5 persen dibanding kuartal sebelumnya dalam periode tiga bulan hingga Maret.
Laporan tersebut juga menunjukkan belanja modal termasuk perangkat lunak tercatat stagnan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Angka tersebut jauh di bawah perkiraan median ekonom yang memproyeksikan pertumbuhan sebesar 4 persen. Penjualan naik tipis 1,1 persen secara tahunan, sementara laba berjalan melonjak 14,6 persen dan melampaui ekspektasi pasar.
Data ini mencerminkan masa transisi bagi sektor manufaktur ketika ketidakpastian mulai meningkat. Survei Tankan Bank of Japan (BOJ) yang dirilis pada 1 April menunjukkan sentimen bisnis perusahaan manufaktur besar membaik selama empat kuartal berturut-turut, tetapi prospek ke depan melemah di seluruh sektor.
“Belanja modal jauh lebih lemah dari perkiraan. Meskipun masih terlalu dini untuk memastikan, kita mungkin mulai melihat dampak dari konflik di Timur Tengah,” kata Kepala Ekonom Meiji Yasuda Research Institute, Yuichi Kodama, dikutip dari Bloomberg, Senin (1/6)
“Selain itu, ada kemungkinan beberapa perusahaan memutuskan pada menit-menit terakhir untuk menahan investasi yang sebelumnya telah direncanakan,” lanjutnya.
Harga minyak juga tercatat melonjak pada awal Maret setelah Teheran merespons serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan secara efektif menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim, yang merupakan jalur penting distribusi minyak mentah global.
Sinyal yang bertolak belakang antara lemahnya investasi dan kuatnya laba perusahaan berpotensi mempersulit pertimbangan BOJ dalam menentukan kenaikan suku bunga berikutnya.
Di satu sisi, penurunan investasi mengindikasikan prospek pertumbuhan yang lebih lemah. Sementara itu, laba perusahaan yang kuat menunjukkan kondisi keuangan korporasi masih cukup sehat untuk menghadapi kenaikan suku bunga dalam jangka pendek.
Naikkan Suku Bunga Acuan
Bank sentral Jepang diperkirakan secara luas akan menaikkan suku bunga acuannya pada rapat kebijakan berikutnya tanggal 16 Juni. Berdasarkan pasar overnight index swap, peluang kenaikan suku bunga mencapai 79 persen pada Senin (1/6) pagi waktu Tokyo.
Data tersebut juga menjadi tantangan bagi Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menjadikan peningkatan belanja sektor swasta sebagai salah satu pilar utama agenda ekonominya.
Pemerintah berencana membentuk mekanisme pendanaan di luar proses anggaran reguler untuk mendukung proyek investasi jangka panjang yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan kesiapsiagaan menghadapi krisis.
“Dengan imbal hasil obligasi jangka panjang yang terus naik dan pasar yang semakin sensitif terhadap risiko fiskal, saya menduga akan sulit untuk mendorong investasi dalam skala yang sangat besar,” kata Kodama.
Sektor yang mencatat penurunan belanja modal terbesar secara tahunan adalah industri produk logam fabrikasi yang turun 25 persen. Belanja perusahaan peralatan elektronik informasi dan komunikasi juga turun sekitar 19 persen.
Sebaliknya, perusahaan di sektor produk minyak bumi dan batu bara meningkatkan belanja modal sebesar 48 persen dibanding tahun sebelumnya. Produsen mesin listrik juga mencatat kenaikan investasi.
Laba operasional meningkat di hampir seluruh sektor industri, kecuali industri mesin untuk kebutuhan bisnis. Di sektor manufaktur, laba mencapai rekor tertinggi untuk kuartal pertama.
Perusahaan peralatan elektronik informasi dan komunikasi mencatat lonjakan laba sebesar 175 persen secara tahunan, sedangkan laba perusahaan produk minyak bumi dan batu bara melonjak hingga 709 persen. Secara keseluruhan, penjualan seluruh industri pada kuartal tersebut juga mencetak rekor tertinggi.
Kinerja laba perusahaan terus menjadi perhatian pembuat kebijakan karena profitabilitas yang kuat mendukung kenaikan upah dan memperkuat siklus peningkatan pendapatan serta inflasi yang didorong oleh permintaan.





