Sosok Bupati Tionghoa Pertama di Jawa Penemu "Harta Karun" Terlupakan

cnbcindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita
Foto: Candi Borobudur (Dok.borobudurpark.com)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Sosok keturunan Tionghoa ternyata punya peran besar dalam mengungkap kembali keberadaan "harta karun" terbengkalai dan nyaris terlupakan yang kini dikenal sebagai Candi Borobudur. Dia adalah Tan Jin Sing, sosok yang tercatat sebagai bupati Tionghoa pertama di Jawa sekaligus orang yang memberi informasi awal kepada pemerintah Inggris soal keberadaan candi besar di pedalaman Jawa pada awal abad ke-19.

Kisah ini bermula ketika Inggris menguasai Jawa pada 1811. Pada masa itu, Tan Jin Sing dikenal sebagai tokoh keturunan Tionghoa yang dekat dengan pemerintah kolonial Inggris dan Keraton Yogyakarta. Kedekatan tersebut membuatnya mendapat posisi penting di lingkungan pemerintahan.

Sebagai balas jasa atas dukungannya kepada Keraton Yogyakarta dan pemerintah Inggris, Tan Jin Sing diangkat menjadi bupati oleh Raden Mas Surojo yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono III. Dia memperoleh gelar Raden Tumenggung Secodiningrat dan menjadi tokoh keturunan Tionghoa pertama yang menduduki jabatan bupati di Jawa.


Tak lama setelah menjabat sebagai bupati, bekas Kapiten Cina itu memutuskan masuk Islam dan menjalani khitan. Dia juga memotong taucang atau kuncir rambut yang selama itu menjadi identitas budaya masyarakat Tionghoa.

Di tengah posisinya sebagai pejabat pemerintah, Tan Jin Sing diketahui kerap membantu urusan administrasi Thomas Stamford Raffles. Sekitar tahun 1813, dia memberi tahu Raffles bahwa mandornya di Desa Bumisegoro melihat sebuah bangunan candi besar di kawasan pedalaman Jawa.

Informasi itu langsung menarik perhatian Raffles yang memang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan bangunan kuno di Jawa. Saat itu, keberadaan candi tersebut nyaris tak diperhatikan masyarakat sekitar karena tertutup semak belukar dan timbunan tanah.

Raffles kemudian meminta Tan Jin Sing mengecek langsung ke lokasi bersama warga lokal yang mengenal kawasan tersebut. Saat tiba di lokasi, Tan mendapati bangunan kuno besar dalam kondisi memprihatinkan.

Sebagian besar bangunan tertutup semak liar dan tertimbun tanah akibat lama terbengkalai. Warga lokal yang menemani Tan menyebut nama bangunan itu sebagai Borobudur.

"Ditaksir usianya lebih dari 100 tahun," kata Tan, dikutip dari penuturan keturunannya, T.S Werdoyo dalam Tan Jin Sing: Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta (1990).

Setelah menerima laporan tersebut, Raffles segera memerintahkan proses pembukaan dan pemugaran awal Borobudur. Proyek itu turut dibantu arkeolog Belanda, Christian Cornelius, yang memang berpengalaman menangani candi-candi di Jawa.

Tim Hanningan dalam Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa (2015) menyebut, tim suruhan Raffles yang berisi Tan Jin Sing, Cornelius, dan sekitar 200 warga lokal mulai membersihkan kawasan candi dengan membabat rumput liar serta menggali timbunan tanah secara perlahan.

Setelah dua minggu bekerja, kemegahan Borobudur mulai terlihat. Sejak saat itu, candi yang sempat nyaris menjadi reruntuhan terlupakan perlahan berubah menjadi salah satu situs bersejarah paling penting di dunia.

Tempat Perayaan Waisak

Berkat penemuan kembali oleh Tan Jin Sing, Borobudur kerap menjadi tempat perayaan Hari Raya Waisak setiap tahunnya. Ini didasari karena Borobodur adalah salah satu situs Buddha terbesar di dunia sekaligus simbol penting perjalanan spiritual umat Buddha. Struktur candi yang bertingkat melambangkan tahapan menuju pencerahan. Mulai dari dunia nafsu hingga mencapai kesempurnaan spiritual.

Setiap tahun, perayaan biasanya diawali dengan ritual pengambilan api abadi dan air suci, lalu dilanjutkan prosesi berjalan kaki menuju Borobudur hingga pelepasan lampion sebagai simbol harapan, kedamaian, dan pencerahan hidup.


(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: CNBC Indonesia Menggelar Jogja Financial Festival 2026

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bang Jago Berulah Usai Pesta Juara Persib, Mobil Pelat B Jadi Incaran Aksi Palak
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Imigrasi terapkan Corridor Gate di Debarkasi Surabaya
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
La Ode Safiul Akbar Siap Maju Pimpin Kosgoro 1957, Usung Regenerasi dan Kebangkitan Organisasi
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Iwan Koswara Sebut Pancasila Harus Hadir dalam Kerja Nyata untuk Kesejahteraan Rakyat
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Arus Peti Kemas Naik 7%, Sinyal Ekonomi Awal 2026 Menguat?
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.