Sila pertama dalam Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama, kata Bung Hatta harus menjadi dasar yang memimpin cita-cita kenegaraan untuk menyelenggarakan segala yang baik bagi rakyat dan masyarakat.
Oleh karena itu kata Bung Hatta, pengakuan kita akan berpegang kepada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa akan bermasalah dan tidak ada artinya--apabila kita tidak bersedia berbuat dalam praktik hidup menurut sifat-sifat yang dipujikan kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti kasih dan sayang serta adil.
Oleh karena itu implikasi logis dari pengakuan kita terhadap dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut Bung Hatta, mewajibkan kita untuk membangun persahabatan dan persaudaraan antara manusia dan bangsa. Di samping itu, pengakuan kita terhadap sila pertama juga akan mewajibkan untuk membela kebenaran dan keadilan--serta berbuat baik dan memiliki sifat jujur, suci, serta mencintai keindahan.
Ini artinya kalau ingin menjadikan diri kita menjadi insan Pancasilais, maka kita diminta dan dituntut untuk menentang segala bentuk kedustaan dan kezaliman serta berusaha untuk memperbaiki segala kesalahan, mau membasmi segala bentuk kecurangan dan perbuatan kotor lainnya serta meniadakan segala hal yang buruk.
Untuk itu kata Bung Hatta, kita harus mau menerima bimbingan dari Zat Yang Maha sesempurna-sempurnanya. Jika itu dapat dilakukan, maka dia bisa membentuk dan melahirkan diri kita menjadi manusia-manusia Indonesia yang memiliki karakter yang baik dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi.
Hal inilah tampaknya yang kelihatan menghilang atau menipis dan memudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini. Sebab, rakyatnya terutama para pemimpinnya tidak lagi menjadikan ajaran dari agamanya atau Tuhannya sebagai pedoman, tetapi hawa nafsu dan kepentingan diri serta kelompoknyalah yang lebih mengemuka--sehingga terjadilah berbagai praktik tidak terpuji yang tidak diharapkan seperti merajalelanya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), politik uang, egoisme golongan, tunduk kepada kepentingan pemilik modal bukan kepada kebenaran dan keadilan, kurangnya transparansi, dan akuntabilitas serta hal-hal yang tidak terpuji dan terlarang lainnya.
Untuk itu ada peribahasa orang Minangkabau dan Melayu yang perlu kita camkan dan terapkan dengan baik. Katanya bila sesat di ujung jalan maka surut atau kembalilah ke pangkalnya. Artinya bila kita telah telanjur melakukan kesalahan atau melangkah terlalu jauh ke arah yang salah, maka langkah terbaik yang harus kita lakukan adalah kembali ke awal atau ke sila pertama dari falsafah bangsa kita Pancasila yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan menjadikan sila tersebut sebagai dasar yang akan memimpin dan membimbing kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di negeri yang sama-sama kita cintai ini.





