Wawan (79) duduk bersandar di kursi rodanya, menatap kosong ke arah langit-langit gedung tua yang kini menjadi tempat bernaungnya. Pada usianya yang hampir menyentuh kepala tujuh, laki-laki yang mengaku asal Garut, Jawa Barat, ini seharusnya menikmati masa tua di tengah dekapan anak dan cucu.
Namun, kenyataan yang dihadapi berbeda. Semenjak berpisah dari istri dan tiga anaknya, hidupnya terlunta-lunta. Selama 14 tahun terakhir dia hidup sendirian. Tidurnya berpindah dari satu masjid ke masjid lain, dan dia menggantungkan hidup pada belas kasihan orang asing.
Sebelum ditemukan oleh pengelola Rumah Roti Adeline (panti jompo dan disabilitas) di daerah Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, tiga bulan lalu, kondisi Wawan sangat memprihatinkan. Bahkan, kondisi kesehatan buruk karena terkena stroke.
Saat ditemui Kompas, Minggu (31/5/2026) petang, Wawan duduk bersama sejumlah warga lanjut usia dan penghuni panti lainnya, yang mayoritas penyandang disabilitas mental. Umumnya mereka dibawa ke panti tersebut oleh keluarganya karena dianggap memiliki penyakit, termasuk mengalami disabilitas mental.
Dari cerita Wawan, dia sempat pulang ke rumah yang dulu ditempati keluarganya, tetapi anak-anaknya sudah pindah entah ke mana. ”Jangan lupakan orangtua,” ujar Wawan dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
Sebelum ditemukan oleh pengelola Rumah Roti Adeline (panti jompo dan disabilitas) di daerah Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, tiga bulan lalu, kondisi Wawan sangat memprihatinkan.
Pihak pengelola panti mengaku ketika Wawan sakit, mereka pernah mencari keluarganya di alamat yang diberikan Wawan di wilayah Pondok Gede, tetapi mereka tidak menemukan. Wawan pun tidak memiliki identitas.
Kerinduan untuk bertemu suami dan anak-anak juga diungkapkan Franciska (69). Perempuan lansia kelahiran Malang yang tinggal di Jakarta, ini mengaku sudah tinggal di Rumah Roti Adeline sekitar 10 bulan lalu, setelah dibawa dari sebuah rumah sakit di daerah Rawamangun, Jakarta Timur.
Saat ditanya di mana rumahnya, nenek lansia yang akrab disapa Oma Francis ini menyebutkan alamat rumahnya, nama suami dan anak-anaknya dengan lancar. Bahkan, dia menyebutkan dengan jelas nomor telepon keluarganya.
”Saya minta segera jemput saya, karena sudah waktunya pulang. Saya tidak mau terus menyusahkan mereka di sini,” ujarnya dengan wajah memelas.
Bersama Wawan dan Francis, juga ada Marno (81) asal Purwokerto, Jawa Tengah. Warga lansia yang duduk di kursi roda ini, punya masalah di kakinya. Ia sudah tinggal setahun di panti jompo tersebut, setelah dikirim oleh anak tirinya, karena bekerja.
Istrinya telah meninggal 10 tahun lalu. Dari pernikahannya dia tidak memiliki anak. Sebelum sakit, dia bekerja sebagai penjaga rumah orang. ”Harapan saya, cuma pengen sembuh. Cuman ini kaki enggak kuat. Saya pengen usaha lagi udah dagang,” paparnya.
Wawan, Francis, dan Marno saat ini tinggal bersama sekitar 30 orang lansia yang menghuni Rumah Roti Adeline, panti jompo dan disabilitas, yang menempati bekas gedung pusat perbelanjaan di Pondok Gede. Tempat tersebut menjadi muara bagi mereka yang terlempar dari rumahnya sendiri, baik karena alasan ekonomi, konflik keluarga, maupun penelantaran yang sengaja dilakukan.
Mereka berasal dari keluarga berbeda-beda. Umumnya tidak mampu secara ekonomi. Sebagian besar dikirim keluarganya, setelah itu tidak lagi dikunjungi. Hanya beberapa yang masih rutin berkabar dan mengirim dana ke pengelola panti.
Adeline Nelly Ponomban (69), pendiri dan pengelola panti jompo dan disabilitas tersebut, mengaku, ada keluarga yang datang saat membawa orang lansia ke Rumah Roti Adeline. Namun, setelah itu, mereka tidak pernah datang lagi.
Karena itu, pihak panti berharap anak atau keluarga para warga lansia mengingat orangtua mereka. Paling tidak menyempatkan diri untuk menjenguk, dan menghibur orangtua mereka.
”Biar bagaimana pun itu orangtua kita. Mereka enggak kepingin apa-apa. Makan enak juga enggak bisa, mau jalan-jalan juga terbatas. Kalau anak-anak tidak bisa merawat, paling tidak dijenguklah orangtuanya. Kami panti tidak minta apa-apa,” ujar Adeline yang akrab disapa Oma Nelly.
Kalau anak-anak tidak bisa merawat, paling tidak dijenguklah orangtuanya. (Adeline)
Agustinus Bere, yang sehari-hari merawat warga lansia dan penghuni panti mengungkapkan mayoritas warga lansia yang diserahkan ke panti dengan dalih keluarga tidak sanggup mengurus, tetapi setelahnya mereka seolah memutus ikatan.
Bahkan, ada kasus yang lebih miris, ada orang lansia yang anaknya jarang muncul, dan hanya muncul saat membutuhkan tanda tangan untuk mencairkan uang pensiun. ”Anaknya datang cuma buat minta tanda tangan. Setelah itu, nomor telepon kami langsung diblokir,” ungkap Agus.
Kendati dengan berbagai kondisi sakit, warga lansia dirawat dan ditampung Rumah Roti Adeline. Ada kiriman dana keluarga atau tidak mereka tetap dirawat. Di tengah keterbatasan fisik dan luka batin, termasuk gangguan mental, para warga lansia di panti tersebut mencoba saling menguatkan.
Bagi mereka, Rumah Roti mungkin adalah rumah kedua, tetapi di dalam relung hati yang paling dalam, ingatan akan rumah lama dan pelukan anak-anak tetap menjadi mimpi yang paling ingin mereka raih sebelum menutup mata selamanya.
Di sejumlah tempat lain di Indonesia, juga dijumpai warga lansia yang berusaha bertahan hidup tanpa keluarga. Mustafa (84), misalnya. Warga Kota Makassar, Sulawesi Selatan, saat ini bersama istri keduanya, Lia (68), tinggal di kontrakan ukuran 3 meter kali 4 meter persegi dengan biaya sewa Rp 300.000 yang dibayarnya saat mempunyai uang.
Anak dan cucu dari istri pertama tersebar di beberapa kota. Setiap hari, ia mengaku mendapat banyak pertolongan orang, dan tetangga. Seorang tetangganya yang bertugas di TNI Angkatan Udara, hampir tiap hari membawakan mereka makanan.
Setiap hari, setelah subuh, ia keluar dari kamar kontrakan dan berkeliling pasar. Ia tidak mengemis. Namun, ia menerima jika ada yang memberi sesuatu, baik makanan maupun lainnya.
Di Bandung, Jawa Barat, sekitar 10 kilometer dari Kompleks Mitra Dago, tepatnya di kawasan Jalan Sukajadi, Sarwanti (62) dan suaminya menggantungkan hidupnya dari hasil penjualan jamu dalam botol-botol bekas wadah sirup.
Menggunakan gerobak, Sarwanti setiap hari menjajakan jamu kepada siapa saja yang ia temui di jalan. ”Saya dan suami tidak ingin merepotkan anak-anak. Mereka juga sudah punya keluarga masing-masing,” ujarnya.
Saya dan suami tidak ingin merepotkan anak-anak. Mereka juga sudah punya keluarga masing-masing. (Sarwanti)
Kisah orang lansia di panti jompo maupun yang tinggal sendirian, atau pasangan lansia yang hidup sendiri tanpa anak-anak adalah potret warga lansia di Tanah Air. Situasi dan kondisi mereka berbeda-beda.
Adhi Shantika, anggota Komisi Nasional Lanjut Usia pada 2008-2014 yang juga peneliti lansia, mengingatkan, bahwa fenomena warga lansia yang hidup dalam kondisi rentan, telantar dan terabaikan, akan terus meningkat. Hal ini seiring ledakan jumlah warga lansia yang diproyeksikan mencapai 20 persen penduduk pada 2045.
Tanpa ’partisipasi bermakna’ dari keluarga, para warga lansia hanya akan menjadi angka dalam statistik kemiskinan dan ketelantaran. Karena itu, penting membekali masyarakat untuk menyiapkan diri sebelum memasuki lansia, termasuk mengedukasi keluarga-keluarga yang memiliki famili lansia di rumahnya.
Menjadi tua, memang sering diasosiasikan dengan kesepian dan ketidakberdayaan, tetapi bagi psikolog dari Yayasan Pilih, Miryam Nainggolan (75), sebenarnya menjadi orang lansia yang bermartabat adalah sebuah pilihan yang harus dipersiapkan sejak dini. Maka, penting menyiapkan mental, spiritual, fisik, hingga finansial agar seseorang tidak kehilangan jati dirinya di masa senja.





