VIVA – Juara kelas welter UFC, Islam Makhachev, mulai membidik calon lawan untuk pertahanan gelar pertamanya sejak naik ke divisi 170 pound. Petarung asal Dagestan itu mengaku siap kembali bertarung pada UFC 330 dan telah memiliki nama yang dianggap paling layak menjadi penantangnya.
Islam Makhachev (28-1 MMA, 17-1 UFC) terakhir kali tampil pada UFC 322 saat merebut sabuk juara kelas welter dengan kemenangan dominan atas Jack Della Maddalena (JDM) pada November lalu.
Sejak saat itu, sejumlah nama mulai bermunculan sebagai kandidat penantang berikutnya. Di antaranya adalah Ian Machado Garry (17-1 MMA, 10-1 UFC), Carlos Prates (24-7 MMA, 7-1 UFC), dan Michael Morales (19-0 MMA, 7-0 UFC).
- AP Photo/Kamran Jebreili
Prates sendiri tengah menikmati performa impresif setelah membukukan tiga kemenangan KO beruntun yang seluruhnya menghasilkan bonus penampilan. Teranyar, petarung asal Brasil itu sukses mengalahkan mantan juara Jack Della Maddalena pada UFC Fight Night 275 bulan ini.
Meski banyak pihak lebih menjagokan Ian Machado Garry sebagai penantang berikutnya bagi Makhachev, sang juara justru mengaku tertarik menghadapi Prates.
Menanggapi hal tersebut, Prates menduga Makhachev menganggap dirinya sebagai lawan yang lebih mudah dibandingkan Garry.
"Bro, kurasa dia mengatakan itu hanya karena dia pikir aku lawan yang lebih mudah daripada Ian Garry," kata Prates dalam wawancara di kanal YouTube Daniel Cormier.
Namun, Prates kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan dirinya lebih mudah dikalahkan, melainkan mungkin dianggap memiliki tantangan yang lebih kecil dibandingkan Garry.
"Bukan lebih mudah, tapi kurang sulit karena mungkin Ian pernah mengalahkanku. Leon Edwards pernah menjatuhkanku, (Della Maddalena) pernah menjatuhkanku, Ian Garry pernah menjatuhkanku sekali."
Petarung berjuluk "The Nightmare" itu menilai Makhachev kemungkinan meremehkan kemampuan yang dimilikinya, terutama dalam menghadapi tekanan dan upaya takedown dari lawan.
Menurut Prates, selama ini dirinya tidak terlalu khawatir ketika lawan mencoba membawanya ke bawah karena merasa nyaman bertarung di berbagai situasi.
"Mungkin dia pikir ini akan mudah. Tapi, saat aku melawan orang-orang ini, aku bahkan tidak peduli dengan upaya menjatuhkan lawan."





