Pantau - Pemerintah China menilai pernyataan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi yang membela program modernisasi pertahanan negaranya tidak berdasar serta tidak akan membantu Tokyo memperoleh kepercayaan dari negara-negara tetangga maupun komunitas internasional.
China Kritik Kenaikan Anggaran dan Modernisasi Militer JepangJuru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyampaikan keberatan terhadap pernyataan Koizumi yang disampaikan dalam forum keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura.
“Pernyataan dari pejabat Jepang itu sama sekali tidak memiliki dasar. Pernyataan tersebut tidak memiliki otoritas di hadapan sejarah, hukum, fakta, dan angka,” kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing.
Lin Jian menambahkan bahwa pernyataan tersebut tidak akan membantu Jepang mendapatkan kepercayaan dari negara-negara Asia maupun masyarakat internasional.
Menurut China, anggaran pertahanan Jepang telah melampaui sembilan triliun yen dan menjadi yang tertinggi selama 14 tahun berturut-turut sejak Perang Dunia II.
Lin Jian juga menyoroti peningkatan belanja pertahanan Jepang hingga dua persen dari produk domestik bruto serta rencana kenaikan lebih lanjut menjadi 3,5 persen.
Selain itu, pesanan peralatan militer Jepang disebut meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir.
Jepang Tegaskan Komitmen Pertahanan dan TransparansiDalam forum Shangri-La Dialogue, Koizumi membela kebijakan modernisasi pertahanan Jepang yang mencakup investasi di bidang kecerdasan buatan, sistem tanpa awak, kemampuan siber, dan teknologi antariksa.
“Ada sebuah negara yang memiliki persenjataan nuklir dalam jumlah besar dan pesawat pengebom strategis. Jepang tidak memiliki senjata semacam itu. Namun, Jepang justru dicap sebagai militerisme baru. Bukankah itu aneh?” ujar Koizumi.
Koizumi menegaskan Jepang akan terus memperkuat kemampuan pertahanannya dan memperluas kerja sama keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Ia juga membantah tuduhan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk “militerisme baru”.
Menurut Koizumi, Jepang tetap berkomitmen menjadi negara yang mencintai perdamaian dan akan menjalankan pembaruan pertahanannya dengan tingkat transparansi yang tinggi.
Ketegangan China dan Jepang Kembali MengemukaChina menilai Jepang terus mempercepat remiliterisasi melalui penyebaran rudal jarak menengah dan jauh, pelonggaran ekspor senjata, serta dorongan revisi dokumen keamanan nasional.
“Ia bahkan mencoba mengalihkan kesalahan dan menciptakan kebingungan. Apakah ini pertanda ketidaknyamanan, atau upaya untuk menyembunyikan ambisi ekspansionis militer Jepang sendiri?” ungkap Lin Jian.
Hubungan Beijing dan Tokyo masih diwarnai ketegangan, termasuk setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025 yang menyebut potensi penggunaan kekuatan militer China terhadap Taiwan dapat mengancam kelangsungan hidup Jepang.
Meski demikian, Koizumi menegaskan Jepang tetap membuka ruang dialog dengan China untuk menjaga stabilitas kawasan dan menghindari kesalahpahaman yang dapat memicu konflik.




