Proses Penjurian Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026 Masuki Tahap Akhir

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Proses penjurian ajang Bisnis Indonesia Awards atau BIA 2026 memasuki tahap akhir. Hasil penjaringan untuk para emiten yang memenuhi kualifikasi, selanjutnya akan memasuki penetapan oleh dewan juri pada pekan ini.

Proses penjurian ajang BIA 2026 dilakukan melalui tiga tahap secara berlapis. Tahap pertama yakni penetapan metodologi penilaian untuk perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah penetapan metodologi, tahap kedua dilakukan proses penyaringan oleh tim riset DataIndonesia melalui metodologi yang sudah ditetapkan, dan tahap ketiga, proses penetapan oleh dewan juri.

Dalam keterangannya, tim periset DataIndonesia memaparkan tahapan penilaian dimulai dari penyaringan (screening), seleksi kuantitatif (scoring), hingga seleksi kualitatif melalui penjurian.

Metodologi skoring kuantitatif disusun untuk mendapatkan gambaran atas aspek pertumbuhan (financial growth) dan aspek kekuatan (financial strength).

Pada saat penilaian dan penyaringa, tim riset DataIndonesia menggunakan data finansial laporan keuangan perusahaan sepanjang 2023—2025 sebagai dasar penilaian BIA 2026. Adapun, penyusunan skoring untuk emiten dibagi berdasarkan sektor dan subsektor sesuai dengan data BEI.

Pada tahap seleksi awal, dilakukan dua fase penyaringan (screening). Kriteria yang diterapkan dalam proses screening awal BIA 2026, yaitu emiten nonbank harus melantai di BEI minimal selama 3 tahun, bank wajib terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perusahaan wajib memiliki laporan keuangan periode 1 Januari—31 Desember 2022 hingga 2025, dan bebas dari isu-isu negatif yang signifikan, seperti perpajakan, notasi khusus, suspensi, dan penalti.

Selanjutnya, kategori berbeda diterapkan terhadap perusahaan bank dan nonbank dalam tahap screening lanjutan. Perusahaan nonbank diseleksi dari aspek laba bersih dan total ekuitas yang harus tercatat positif untuk periode 2022—2025, serta nilai kapitalisasi pasar per 31 Desember 2025 lebih besar atau sama dengan Rp1 triliun.

Sementara itu, perusahaan bank diseleksi dari aspek laba bersih harus positif untuk periode 2022—2025, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) pada 2025 lebih besar atau sama dengan 14%, nonperforming loan (NPL) gross pada 2025 lebih kecil atau sama dengan 5%, Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) pada 2025 lebih kecil atau sama dengan 100%, dan loan to deposit ratio (LDR) pada 2025 lebih kecil atau sama dengan 100%.

Perusahaan yang lolos dari tahap screening, akan diseleksi secara kuantitatif dengan metodologi skoring terhadap sejumlah indikator finansial perusahaan.

Dalam seleksi kualitatif, indikator finansial yang menjadi dasar penilaian juga dibedakan antara perusahaan bank dan perusahaan nonbank. Untuk perusahaan nonbank, financial growth dinilai dari tingkat pertumbuhan laba bersih, pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan aset, dan pertumbuhan ekuitas.

Sementara itu, penilaian financial growth perusahaan bank dilihat dari indikator pertumbuhan laba bersih, pertumbuhan pendapatan bunga, pertumbuhan kredit, dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Aspek financial growth, penyusunan skoring terhadap aspek financial strength juga dibedakan antara perusahaan bank dan perusahaan nonbank. Kekuatan finansial perusahaan nonbank akan diukur secara komprehensif dari aspek profitabilitas melalui indikator net profit margin (NPM), return on equity (RoE), dan return on asset (RoA), aspek likuiditas melalui indikator current ratio dan cash ratio, aspek solvabilitas melalui indikator financial leverage, serta aspek efisiensi melalui indikator asset turnover.

Berbeda dengan perusahaan nonbank, penyusunan skoring financial strength perusahaan bank akan dinilai dari aspek profitabilitas melalui indikator net interest margin (NIM), return on equity (RoE), dan return on asset (RoA), aspek permodalan melalui indikator capital adequacy ratio (CAR), aspek efisiensi melalui Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), dan aspek likuiditas melalui loan to deposits ratio (LDR).

Penilaian terhadap financial growth dan financial strength akan digabungkan untuk menghasilkan final scoring dalam tahap seleksi kuantitatif. Sejalan dengan tema BIA 2026: Where Growth Meets Strength, skor financial strength memiliki bobot yang lebih besar dibandingkan dengan financial growth sesuai dengan penekanan pada aspek resiliensi dan ketangguhan perusahaan di tengah lingkungan bisnis yang menantang.

Selain tahap screening dan skoring kuantitatif, seleksi penerima penghargaan BIA 2026 juga menambahkan pertimbangan lainnya, seperti indikator perdagangan saham (price to earnings growth/PEG, price to book ratio/PBV, free float, dan high shareholding concentration/HSC), indikator keberlanjutan (sustainability report dan skor social return on investment/SROI).

Untuk setiap kategori, Tim Riset DataIndonesia menyusun maksimal lima perusahaan dengan skoring kuantitatif tertinggi sebagai nominasi penerima BIA 2026. Selanjutnya, para nominator dibawa ke tahap seleksi kualitatif melalui penjurian. Tahapan ini bertujuan untuk menentukan penerima award berdasarkan pertimbangan Dewan Juri yang kredibel.

DataIndonesia merupakan penyedia jasa dan layanan riset serta market intelligence yang merupakan bagian dari Bisnis Indonesia Group (BIG).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Bulan Juni 2026 Sesuai SKB 3 Menteri, Apakah Ada Long Weekend?
• 9 jam laludisway.id
thumb
Hasil RUPS TMAS Bagi Dividen Rp228 Miliar, Setara 40% Laba
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Garda Revolusi Iran Ambil Alih Kekuasaan? Presiden Pezeshkian Dikabarkan Ajukan Pengunduran Diri
• 2 jam laluerabaru.net
thumb
Jadwal Siaran Langsung Indonesia U-19 vs Myanmar U-19 Jam Berapa dan Main di Mana?
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Israel Serang Lebanon, Iran Tangguhkan Negosiasi dengan AS
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.