Dokter resmi rombongan, fasilitas kursi roda, hingga evakuasi jemaah menjadi bagian dari penanganan kesehatan yang memastikan 226 jemaah haji plus asal Jogja dapat menuntaskan rangkaian puncak ibadah haji 1447 H.
Rangkaian ibadah diawali dengan fase Tarwiyah, yakni mabit di Mina untuk mempersiapkan diri sebelum Wukuf. Pada fase ini, rombongan menempati Maktab 111 yang jaraknya hanya beberapa meter dari kompleks Jamarat, sehingga memangkas jarak tempuh secara signifikan dan menghemat energi jemaah saat melakukan lontar jumrah.
Kesiapan fasilitas kesehatan diuji sejak fase Wukuf di Arafah, Selasa (26/5). Delapan jemaah dari rombongan jemaah Haji Khusus Hasuna Tour yang mengalami penurunan stamina dialihkan dari Mina ke hotel transit untuk pemantauan medis intensif oleh dokter resmi rombongan.
Sementara itu, jemaah lainnya melanjutkan mabit hingga tengah malam di Muzdalifah.
"Manajemen Hasuna menunjukkan fleksibilitas dan komitmen pelayanan yang tinggi terhadap jemaah yang mengalami penurunan stamina," kata manajemen Hasuna Tour dalam rilisnya.
Setelah Wukuf dan mabit di Muzdalifah, jemaah melanjutkan ibadah Tawaf Ifadhah dan Sa'i di Masjidil Haram, dilanjutkan Tahalul. Dari 226 jemaah yang diberangkatkan, 21 di antaranya menyelesaikan Tawaf Ifadhah dan Sa'i menggunakan Paskurda (Pasukan Pendorong Kursi Roda), dengan pendampingan langsung muthawwif Hasuna Tour.
"Penggunaan kursi roda ini sama sekali tidak mengurangi kekhusyukan jalannya ibadah," lanjut pihak manajemen biro umrah dan haji plus asal Jogja itu.
Efisiensi jarak dari Maktab 111 ke Jamarat turut membantu jemaah tidak mengeluarkan terlalu banyak energi saat mobilisasi. Pada Kamis (28/5) malam, prosesi lontar Jumrah Aqabah dilaksanakan setelah Maghrib.
"Pada jam tersebut, area Jamarat terpantau relatif sepi sehingga jemaah dapat melontar batu kerikil dengan suasana yang sangat nyaman, tenang, dan aman," kata manajemen Hasuna Tour.
Di sela aktivitas ibadah di Mina, rombongan juga menjalankan program edukasi berkala bertajuk "Pesantren Haji untuk Menjaga Kemabruran", agenda rutin untuk menjaga kualitas spiritual jemaah selama berada di Mina.





