Jakarta, CNBC Indonesia - Air mungkin terdengar seperti komoditas yang aneh untuk diperjualbelikan. Namun, permintaan ekspornya justru sangat tinggi.
Sebagian besar permukaan bumi ditutupi air. Namun setiap tahun, jutaan dolar berpindah tangan lewat perdagangan air dan es, mulai dari kebutuhan industri hingga konsumsi sehari-hari.
Pada 2024, nilai perdagangan global untuk kategori ini mencapai US$1,33 miliar atau Rp 23,78 triliun. Angka tersebut naik 12,1% dibanding 2020 dan masih bertambah 1,2% dibanding tahun sebelumnya.
Nilainya memang kecil dibanding minyak, gas, atau gandum. Namun cukup besar untuk menunjukkan bahwa bahkan sumber daya yang paling mendasar pun telah menjadi bagian dari rantai perdagangan global.
China Jauh di DepanChina mencatat ekspor air dan es senilai US$703,9 juta pada 2024, setara dengan 53% perdagangan global.
Artinya, lebih dari separuh nilai ekspor air dunia berasal dari satu negara.
Amerika Serikat yang berada di posisi kedua membukukan US$106,4 juta, sementara Prancis mencatat US$88,3 juta. Jaraknya cukup jauh untuk menunjukkan bahwa pasar ini tidak sekadar dipimpin China, tetapi sangat terkonsentrasi pada China.
Dominasi tersebut juga terlihat dari sisi perdagangan bersih. China membukukan surplus US$679,9 juta, tertinggi di dunia.
Para Eksportir UtamaDi luar China, peta perdagangan air dunia terlihat lebih beragam.
Amerika Serikat, Prancis, Thailand, dan Turki melengkapi daftar lima eksportir terbesar. Secara gabungan, lima negara ini menyumbang sekitar 76% ekspor global.
Sementara itu, Norwegia menjadi eksportir dengan pertumbuhan tercepat sepanjang 2024 setelah nilai ekspornya melonjak 44,8%. Italia, Malaysia, dan Thailand juga mencatat kenaikan dua digit.
Di sisi lain, Kanada, Prancis, Islandia, Spanyol, dan Jerman mengalami penurunan ekspor dibanding tahun sebelumnya.
Asia Memimpin
Dominasi pasar ini ternyata tidak hanya datang dari China.
Secara kawasan, Asia menyumbang US$869,5 juta atau 65,5% dari total ekspor dunia. Eropa berada di posisi kedua dengan pangsa 23,6%, sementara Amerika Utara berkontribusi 8,9%.
Siapa yang Paling Untung?
Jika ekspor menunjukkan siapa yang menjual, surplus perdagangan menunjukkan siapa yang benar-benar memperoleh keuntungan terbesar.
Dan hasilnya tidak berubah.
China mencatat surplus perdagangan air dan es sebesar US$679,9 juta pada 2024. Angka itu hampir sepuluh kali lebih besar dibanding Prancis yang berada di posisi kedua dengan US$72,2 juta.
Thailand, Turki, dan Norwegia melengkapi lima besar negara dengan surplus tertinggi.
Bagi negara-negara tersebut, perdagangan air bukan sekadar aktivitas ekspor, melainkan sumber arus kas positif yang konsisten.
Pembeli TerbesarJika China menjadi penjual terbesar, Hong Kong menempati posisi sebaliknya.
Wilayah tersebut mencatat defisit perdagangan air dan es sebesar US$658,3 juta pada 2024. Nilainya hampir menyamai surplus yang dibukukan China.
Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan defisit US$231,2 juta. Belanda, Meksiko, Makau, dan Singapura juga masuk dalam daftar pembeli bersih terbesar.
Menariknya, daftar ini didominasi pusat perdagangan, kawasan padat penduduk, dan ekonomi dengan tingkat konsumsi tinggi. Dengan kata lain, perdagangan air tidak hanya mencerminkan kemampuan produksi, tetapi juga pola permintaan.
Lebih dari Sekadar AirSebagian besar orang mungkin tidak pernah memikirkan dari mana air yang mereka konsumsi berasal.
Namun perdagangan global menunjukkan bahwa bahkan kebutuhan paling dasar pun kini menjadi bagian dari jaringan ekonomi yang sangat terhubung.
Pada akhirnya, perdagangan air bukan hanya soal air. Ia menjadi contoh sederhana tentang bagaimana dunia saat ini memindahkan sumber daya dari satu tempat ke tempat lain untuk memenuhi permintaan yang terus berubah.
source on Google




