Label organik tak lagi sekadar mengikuti tren gaya hidup. Bagi sebagian warga perkotaan, praktik ini menjadi cara menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari lingkup rumah tangga.
Pagi itu, belasan warga berkumpul di lahan pertanian yang dikembangkan di bekas area tambang galian C di Kelurahan Bulusan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (2/6/2026). Sebagian memanen sayuran, sementara lainnya mengikuti pelatihan pembuatan pupuk kompos dari sampah organik.
Kegiatan tersebut menjadi sarana memperkenalkan praktik pertanian ramah lingkungan kepada masyarakat. Bagi para peserta, pertanian organik bukan hanya menghasilkan pangan yang lebih sehat, tetapi juga menjadi upaya menjaga kesuburan tanah melalui budidaya tanpa bahan kimia sintetis.
Di balik sayuran dan buah yang berlabel organik, terdapat proses panjang yang melibatkan pengelolaan lingkungan. Pertanian organik tidak hanya berbicara soal bebas residu bahan kimia, tetapi juga mencakup pemanfaatan sampah organik, perbaikan kualitas tanah, hingga penguatan ketahanan pangan.
Ketua Yayasan Peduli Lingkungan Semarang, Restiana Pasaribu, menunjukkan kepada para pengunjung bagaimana lahan kritis bekas tambang dapat diubah menjadi kebun yang produktif. Di lokasi itu, ia juga menjelaskan pentingnya mengelola sampah rumah tangga, terutama sisa makanan, untuk diolah kembali menjadi pupuk.
Di antara perbukitan cadas yang pernah dikeruk untuk aktivitas tambang, sejumlah mahasiswa tampak mempelajari proses budidaya berbagai tanaman, mulai dari selada, kangkung, kacang panjang, hingga jeruk. Kawasan tersebut juga dilengkapi fasilitas pengolahan pupuk cair organik, kandang ayam, dan kolam ikan yang saling terhubung dalam satu sistem pertanian terpadu.
“Semua tanaman yang tumbuh di kebun ini berasal dari tanah yang telah diperkaya dengan pupuk hasil olahan sampah organik,” ujar Restiana.
Menurut dia, pengelolaan sisa makanan rumah tangga menjadi kunci dalam membangun siklus pertanian berkelanjutan. Limbah organik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan dapat diolah menjadi kompos untuk menyuburkan tanah, bahkan sebagian dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Dari lahan bekas tambang yang tandus itu, gagasan tentang keberlanjutan diwujudkan melalui rantai sederhana. Sisa makanan dari dapur rumah tangga diolah menjadi pupuk, menyuburkan tanaman, lalu kembali menjadi sumber pangan bagi masyarakat. Sebuah siklus yang menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari pengelolaan sampah sehari-hari.





