Bisnis.com, JAKARTA — PT Temas Tbk. (TMAS) memperluas sumber pertumbuhan bisnis dengan menggarap sektor energi melalui pembangunan fasilitas liquefied natural gas (LNG) atau gas alam cair yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II/2026.
Direktur Business Development TMAS Ganny Zheng mengatakan pengembangan bisnis LNG menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru di luar bisnis pelayaran dan logistik.
“Perseroan juga tengah mempersiapkan operasional pabrik LNG yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II/2026,” ujar Ganny dalam paparan publik, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, fasilitas LNG tersebut akan mendukung kebutuhan bahan bakar kapal-kapal milik TMAS yang mulai menggunakan LNG sebagai alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar konvensional.
TMAS melalui entitas usahanya saat ini tengah mengembangkan fasilitas liquefaction plant di Surabaya dengan kapasitas produksi mencapai 5 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Untuk merealisasikan proyek tersebut, perseroan mengalokasikan investasi atau belanja modal (capex) sekitar Rp1 triliun.
Fasilitas tersebut tidak hanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan LNG armada TMAS, tetapi juga menjadi basis pengembangan bisnis energi yang dapat melayani pasar eksternal.
Baca Juga
- Tambah 7 Kapal, TMAS Pacu Pendapatan Rp5,53 Triliun pada 2026
- Hasil RUPS TMAS Bagi Dividen Rp228 Miliar, Setara 40% Laba
- Naik Turun Kinerja Emiten Pelayaran SMDR, TMAS Cs Saat Gencar Ekspansi Kapal
“Ini memberikan kemungkinan pengembangan bisnis energi bagi perseroan. Fasilitas LNG tersebut dapat memasok kebutuhan kapal-kapal TEMAS dan juga mendukung pengembangan bisnis lainnya,” katanya.
Ganny menjelaskan pengembangan bisnis LNG merupakan bagian dari strategi penciptaan nilai jangka panjang (long-term value creation) yang berfokus pada aspek ketahanan energi. Menurutnya, Indonesia memiliki cadangan gas yang melimpah sehingga berpotensi menjadi sumber energi domestik yang kompetitif bagi sektor maritim.
Perseroan menilai penggunaan LNG sebagai bahan bakar kapal akan semakin berkembang seiring tuntutan efisiensi operasional dan upaya pengurangan emisi karbon di industri pelayaran.
Selain mendukung operasional internal, TMAS juga melihat bisnis LNG sebagai sumber pendapatan baru yang dapat menopang pertumbuhan perusahaan dalam beberapa tahun mendatang. Kontribusi awal pendapatan dari proyek tersebut diharapkan mulai terlihat pada semester II/2026 dan meningkat secara penuh pada 2027.
“Kami melihat ini sebagai salah satu peluang penambahan pendapatan. Dengan pengembangan bisnis LNG, kami berharap ada kontribusi baru terhadap pertumbuhan pendapatan perseroan,” ujar Ganny.
Dia menambahkan, langkah tersebut juga berpotensi memperkuat posisi TMAS sebagai pelopor penggunaan LNG untuk industri maritim di Indonesia. Menurutnya, pasar LNG untuk bahan bakar kapal masih terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
“Kami melihat ini sebagai industri baru di sektor maritim, khususnya untuk penyediaan bahan bakar kapal. Indonesia memiliki sumber daya gas yang besar sehingga dapat menjadi basis pengembangan bisnis yang berkelanjutan dalam jangka panjang,” katanya.
Di luar bisnis LNG, TMAS juga terus memperkuat bisnis inti melalui pengembangan layanan logistik terintegrasi dan peningkatan kapasitas pelabuhan.
Perseroan bersama PT Pelindo Terminal Petikemas melanjutkan proyek perluasan dermaga di Tanjung Priok dari 340 meter menjadi 485 meter guna mendukung pertumbuhan volume bongkar muat dan aktivitas logistik dalam jangka panjang.





