Tepian Batang Mandau Jadi Magnet Wisata dan Penggerak Ekonomi

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BENGKALIS - Selama puluhan tahun, riak air Sungai Mandau menjadi saksi bisu lalu lalang perahu dan deru aktivitas harian warga Desa Balai Pungut. Namun hari ini, urat nadi perairan bekas jalur logistik industri minyak dan gas (migas) di wilayah Duri ini telah bersalin rupa menjadi tumpuan harapan baru, yakni sebuah ruang wisata keluarga berbasis masyarakat yang hidup dan mulai mengalirkan kemandirian ekonomi bagi warga setempat.

Sebelum transformasi ini bermula, potensi wisata alam dan nilai sejarah yang begitu besar di kawasan Tepian Batang Mandau seolah terlelap dalam rutinitas harian. Aktivitas wisata di desa masih sangat terbatas, tidak dikelola secara rutin, dan hanya ramai sesekali saat momentum libur panjang.

Minimnya fasilitas membuat warga sekitar belum bisa memetik manfaat ekonomi secara optimal, sehingga sebagian besar dari mereka harus terus menggantungkan hidup pada pendapatan harian yang tidak menentu. Ada kecemasan kolektif bahwa potensi besar kampung halaman mereka akan selamanya terkubur seiring waktu.
Titik balik itu hadir ketika PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) masuk sebagai pendukung melalui Program Pengembangan Desa Wisata Berbasis Masyarakat. Melalui intervensi yang terukur, PHR mendorong penguatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan masyarakat setempat dengan pemberian sarana dan prasarana seperti sampan, dayung sampan, alat memancing, dan pelampung. Selain itu, masyarakat juga diberikan pelatihan manajemen usaha kuliner dan community based tourism.

Dukungan ini tidak sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan berfokus pada penguatan tata kelola kawasan Tepian Batang Mandau, pembukaan area kuliner lokal, hingga memfasilitasi aktivitas wisata harian seperti penyewaan sampan dan perahu wisata untuk menghidupkan geliat ekonomi yang berkelanjutan.

Mendapatkan momentum tersebut, Erwin, Ketua Pokdarwis Desa Wisata Balai Pungut, bergerak cepat menggalang semangat warga. Erwin mengatakan bahwa perubahan ini memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Warga mulai bahu-membahu mengatur jadwal operasional perahu wisata, menegakkan standar kebersihan tepian sungai, serta belajar memberikan pelayanan terbaik bagi pelancong.
Tidak hanya itu, kaum perempuan dan pelaku usaha mikro mulai menangkap peluang dengan menggelar lapak kuliner serta jajanan lokal, memanfaatkan arus kunjungan wisatawan yang kini datang silih berganti setiap hari.

“Sekarang sungai ini bukan hanya tempat kami beraktivitas sehari-hari, tapi juga mulai menjadi sumber penghasilan masyarakat. Sedikit demi sedikit kampung kami mulai hidup dari wisata yang kami kelola bersama,” ujarnya.

Selain wisata alam dan kuliner, Balai Pungut juga menawarkan nilai tambah berupa cerita sejarah kawasan Sungai Mandau yang berkaitan dengan perkembangan awal industri minyak dan gas (migas) di wilayah Mandau.

Tak hanya itu, Desa Balai Pungut juga memiliki potensi wisata budaya dan wisata religi. Di kawasan ini terdapat rumah adat tradisional serta makam tokoh ulama besar yang dikenal sebagai penyebar agama Islam pertama di wilayah Mandau.

Kekayaan budaya tersebut semakin hidup melalui berbagai agenda masyarakat yang rutin digelar setiap tahunnya, seperti festival pacu sampan yang diselenggarakan pada bulan Agustus dan November. Selain itu, beragam kegiatan dan event budaya lainnya juga turut menjadi daya tarik yang memperkuat identitas Balai Pungut sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan masyarakat.

Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan bahwa Balai Pungut menunjukkan potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat yang tumbuh dari kekuatan lokal.

“Ketika masyarakat terlibat sebagai bagian utama dalam pengelolaan wisata, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi pariwisata, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Balai Pungut menjadi salah satu contoh bagaimana potensi sungai dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang tumbuh bersama masyarakat secara berkelanjutan,” kata Iwan.

Dengan kombinasi wisata sungai, kuliner lokal, dan suasana desa yang masih alami, Balai Pungut kini mulai dilirik sebagai destinasi alternatif bagi wisata keluarga yang ingin menikmati pengalaman berbeda di kawasan Sungai Mandau lebih dekat dengan alam, lebih dekat dengan kehidupan masyarakat lokal.
Kerja keras berbasis swadaya ini mulai membuahkan dampak nyata yang mengubah wajah desa. Kawasan Tepian Batang Mandau kini telah menjelma menjadi ruang wisata keluarga yang nyaman dan representatif. Kehadiran wisatawan harian secara langsung mendongkrak omzet pelaku UMKM kuliner lokal yang kini memiliki sumber penghasilan tambahan yang stabil setiap harinya. Lebih dari itu, identitas Desa Balai Pungut kini kian kokoh di peta pariwisata daerah, bukan lagi sekadar desa tepian sungai biasa, melainkan destinasi wisata sungai berbasis masyarakat yang bangga akan warisan sejarah dan budayanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ulang Tahun Jadi Momen Haru, Dahyun TWICE Donasi Rp350 Juta untuk Pasien Leukemia
• 8 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Harga Emas Tergelincir, Pasar Khawatir Konflik Timur Tengah Picu Inflasi
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
BEI Tambah 2 Emiten ke Daftar Saham yang Dikuasai Sedikit Investor
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Tiga Warga Terluka Akibat Kebakaran Pasar Jiung Kemayoran, Dirawat di Dua Rumah Sakit
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Besarkan Perindo Jatim, Ahmad Zazuli Ingin Dikenang sebagai Pejuang UMKM
• 8 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.