Hadapi Ancaman Bawah Laut Tiongkok, AS-Inggris-Australia Kembangkan Kendaraan Selam Nirawak Bersama

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com.  Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth pada 30 Mei mengumumkan dalam Dialog Shangri-La di Singapura bahwa, sebagai bagian dari perjanjian pertahanan trilateral AUKUS antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, ketiga negara sedang bersama-sama mengembangkan kendaraan selam nirawak (unmanned underwater vehicles/UUV). Sistem tersebut diperkirakan mulai dikirimkan pada tahun 2027. 

Pada kesempatan yang sama, Hegseth juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Partai Komunis Tiongkok (PKT) mendominasi kawasan Indo-Pasifik. Para akademisi menilai pernyataan itu mencerminkan strategi jangka panjang Amerika Serikat.

Dalam pidato utamanya di Dialog Shangri-La, Hegseth mengatakan bahwa proyek kendaraan selam nirawak multimisi akan meningkatkan kemampuan pengintaian dan serangan ketiga negara, sekaligus memperkuat keunggulan mereka dalam perang antikapal selam, perang melawan kapal permukaan, penanggulangan ranjau laut, peperangan elektronik, serta operasi manuver di wilayah pesisir yang dipersengketakan.

Hegseth juga bertemu dengan menteri pertahanan Australia dan Inggris untuk meninjau perkembangan perjanjian AUKUS.

Pilar pertama AUKUS berfokus pada penyediaan kapal selam bertenaga nuklir bersenjata konvensional kepada Australia, sedangkan pilar kedua menghimpun kekuatan industri pertahanan ketiga negara untuk mengembangkan kemampuan militer canggih.

Aliansi AUKUS dibentuk oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Australia pada tahun 2021 dengan tujuan bersama mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir dan berbagi keahlian militer.

Pakar keamanan dan pertahanan Taiwan, Shen Mingshi, menjelaskan bahwa proyek utama AUKUS adalah mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia, namun penyelesaiannya kemungkinan baru tercapai sekitar tahun 2035. Dalam situasi tersebut, Amerika Serikat terlebih dahulu menyediakan kapal selam nuklir yang saat ini masih aktif digunakan kepada Australia serta melatih mereka dalam pengoperasiannya.

“Kita tahu bahwa saat ini kapal nirawak bawah laut, terutama yang berukuran besar, sangat penting karena dapat menjalankan fungsi yang sama seperti kapal selam dengan biaya yang lebih rendah. Inilah tren peperangan berteknologi tinggi saat ini, sehingga AUKUS mulai mengembangkan kapal nirawak tersebut,” ujar Shen Mingshi. 

Wakil Rektor Universitas Kainan Taiwan sekaligus pakar geopolitik, Chen Wenjia, mengatakan: “Dalam beberapa tahun terakhir, perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah menunjukkan bahwa kendaraan nirawak sedang mengubah bentuk peperangan dengan cepat. Di masa depan, medan perang maritim akan didominasi oleh sistem nirawak yang cerdas, berbiaya rendah, dan sangat tersembunyi.” 

“Dibandingkan kapal selam tradisional yang mahal dan terbatas dalam penempatannya, kendaraan selam nirawak dapat menjalankan misi pengintaian, pemantauan, perang antikapal selam, pembersihan ranjau, dan patroli infrastruktur dasar laut dalam jangka waktu lama, sehingga secara signifikan meningkatkan kemampuan pemantauan situasi maritim.”

Chen Wenjia menambahkan bahwa pengembangan bersama kendaraan selam nirawak oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Australia merupakan tonggak penting yang menandai transformasi AUKUS dari konsep menjadi kemampuan tempur nyata. 

Menurutnya, hal ini bukan hanya peningkatan teknologi militer, tetapi juga menandakan bahwa persaingan keamanan Indo-Pasifik telah memasuki era strategi bawah laut dengan dampak strategis yang luas.

Salah satu alasan lain ketiga negara mempercepat pengembangan teknologi kendaraan selam nirawak adalah untuk menghadapi meningkatnya ancaman Tiongkok dan Rusia terhadap infrastruktur bawah laut global.

Tahun lalu, kapal-kapal Tiongkok dicurigai merusak kabel bawah laut di perairan sekitar Taiwan dan wilayah perairan Swedia. Selain itu, Laut Baltik dalam beberapa waktu terakhir juga berulang kali dilaporkan mengalami kerusakan kabel bawah laut.

“Seiring ekspansi berkelanjutan Angkatan Laut PKT dan meluasnya aktivitas kapal selam mereka ke Pasifik Barat dan Samudra Hindia, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia berharap membangun jaringan pengawasan bawah laut 24 jam melalui kendaraan selam nirawak guna meningkatkan kemampuan deteksi dan peringatan dini antikapal selam,” kata Chen Wenjia. 

“Selain itu, sistem ini juga bertujuan melindungi infrastruktur bawah laut yang vital. Lebih dari 90 persen lalu lintas internet dan informasi keuangan internasional bergantung pada kabel bawah laut. Jika kabel-kabel tersebut dirusak, dampaknya terhadap keamanan nasional dan operasional ekonomi akan sangat besar,” ujarnya. 

Chen menilai bahwa seringnya insiden kerusakan kabel bawah laut di berbagai wilayah dunia dalam beberapa tahun terakhir telah memaksa banyak negara memberikan perhatian lebih besar terhadap keamanan bawah laut.

Dalam konferensi tersebut, Hegseth juga menyampaikan pesan strategis bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan PKT mendominasi Indo-Pasifik.

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah “negara Pasifik” dan tetap menuntut agar Tiongkok menghormati posisi jangka panjang Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Hegseth menekankan bahwa ekspansi militer PKT yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta aktivitas militernya di Indo-Pasifik dan wilayah yang lebih luas, merupakan hal yang patut diwaspadai. Amerika Serikat akan membangun dan mempertahankan sistem pertahanan penangkalan yang kuat di Pasifik Barat untuk memastikan bahwa agresi tidak akan berhasil dan perang dianggap sebagai pilihan yang tidak rasional.

Hegseth juga memuji kontribusi para sekutu, termasuk Korea Selatan, Jepang, Filipina, dan Australia.

“Pernyataan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari kebijakan Amerika Serikat. Tahun lalu Hegseth juga menyampaikan pernyataan serupa di Dialog Shangri-La, dan laporan strategi pertahanan yang dirilis awal tahun ini juga menegaskan hal yang sama. Tujuannya adalah menghalangi ekspansi Tiongkok di Rantai Pulau Pertama dan mendorong kerja sama negara-negara di kawasan tersebut,” ujar Shen Mingshi. 

Menurut Shen, Hegseth menyoroti klaim PKT atas “Garis Sembilan Putus” di Laut Tiongkok Selatan serta klaimnya terhadap berbagai pulau milik Filipina dan negara lain sebagai bentuk ekspansionisme. Selain itu, Selat Taiwan bukanlah perairan internal Tiongkok.

Shen menambahkan bahwa pelayaran kapal perang Kanada melalui Selat Taiwan dan pelayaran kapal perang Belanda di sekitar Kepulauan Paracel (Xisha) di Laut Tiongkok Selatan,  baru-baru ini merupakan bentuk pernyataan bahwa Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Barat. Pernyataan itu tidak menerima interpretasi PKT yang bersifat ekspansionis mengenai kedaulatan maritim di Pasifik Barat, khususnya di kawasan Rantai Pulau Pertama. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pleidoi Nadiem Makarim: Dari Bintang Mahaputera ke Jeruji Besi
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Saat Malam Juara Liga Champions PSG Berujung Ricuh, Kerusuhan Besar Meletus di Paris
• 5 jam laluerabaru.net
thumb
Biodata dan Rekam Jejak Prihantini Terduga Riset Palsu, Dari Alumnus LPDP hingga Disebut Curi Penelitian
• 15 jam laludisway.id
thumb
Kebakaran Pemukiman di Kemayoran Jakpus, Ratusan Personel Pemadam Diterjunkan
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Presiden Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana
• 1 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.