HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Makassar dipilih sebagai lokus kedua pelaksanaan International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 setelah kick off perdana di IKN Kalimantan Timur. Konferensi yang akan digelar antara Juni dan Juli 2026 ini bertujuan mengukuhkan peran imam besar dunia dalam membangun perdamaian global dan ketahanan spiritual masyarakat.
Masjid Al Markaz Al Islami Kota Makassar, Sulawesi Selatan, akan menjadi pusat kegiatan kedua IGIC 2026. Kegiatan ini akan berlangsung pada tanggal 6 Juni 2026 dan dihadiri ribuan peserta dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Selain Makassar, kegiatan serupa juga dijadwalkan di Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan.
Kakanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, menegaskan bahwa Makassar dipilih karena perannya sebagai pintu gerbang Indonesia Timur sekaligus penyangga utama Nusantara.
“Kita ingin memastikan bahwa imam di Indonesia bukan hanya sekadar pemimpin salat, tetapi juga pemimpin peradaban,” jelasnya saat rapat pemantapan di Aula Kanwil Kemenag Sulsel, Selasa, 2 Juni 2026.
Kegiatan di Makassar akan menjadi bagian dari rangkaian bridging yang meliputi seminar nasional, istigosah, dan tabligh akbar. Seminar nasional akan menghadirkan Pengurus Pusat IPIM, Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Direktur BNPT, serta sejumlah akademisi Sulsel. Mereka akan membahas peran imam dalam memperkuat ketahanan spiritual masyarakat dan merumuskan platform imam masjid dalam merespon isu sosial keagamaan di tingkat regional, nasional, dan global.
Ketua Panitia H. Abdul Gaffar, Kepala Biro UIN Alauddin Makassar H. Anwar Abubakar, dan Ketua PW IPIM Sulsel KH. Masykur Yusuf turut hadir dalam rapat koordinasi tersebut.
Ali Yafid menambahkan bahwa masjid di era modern harus mengoptimalkan fungsinya sebagai pusat literasi keagamaan untuk membendung disinformasi, pusat pemberdayaan ekonomi melalui zakat dan infak, serta pusat harmonisasi sosial.
Menteri Agama RI sekaligus Ketua Umum IPIM, KH. Nasaruddin Umar, berharap konferensi ini dapat melibatkan sekitar 500 imam besar dari seluruh dunia dan menghasilkan “Deklarasi Grand Imam Internasional untuk Perdamaian Global.”
“Kita ingin dunia melihat bahwa dari Indonesia, negara Muslim terbesar yang demokratis, lahir gagasan-gagasan sejuk tentang dunia yang lebih aman dan toleran,” pungkas Ali Yafid menutup rapat. (*)





