Defisit Perdagangan RI dengan China Tembus USD 7,59 Miliar hingga April 2026

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia dengan China semakin dalam pada periode Januari-April 2026. Nilainya mencapai USD 7,59 miliar, lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi defisit terdalam dibandingkan mitra dagang utama lainnya.

Meski secara keseluruhan Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD 5,64 miliar sepanjang empat bulan pertama 2026, tekanan dari impor yang tinggi membuat sejumlah negara tetap menjadi penyumbang defisit besar bagi Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan defisit perdagangan dengan China mengalami pelebaran dibandingkan tahun sebelumnya.

“Defisit dengan Tiongkok pada Januari hingga April 2026 adalah sebesar USD 7,59 miliar. Ini lebih dalam defisitnya kalau kita lihat dibandingkan dengan Januari hingga April 2025 yang mencapai USD 6,28 miliar,” kata Pudji dalam konferensi pers BPS, Selasa (2/6).

Data BPS menunjukkan China masih menjadi negara asal impor terbesar Indonesia. Sepanjang Januari-April 2026, nilai impor nonmigas dari negara tersebut mencapai USD 30,79 miliar. Impor dari China didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis (HS84) yang memiliki pangsa 22,49 persen terhadap total impor dari negara tersebut.

Selain China, Australia dan Singapura juga menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar Indonesia. Secara total, defisit perdagangan Indonesia dengan Australia mencapai USD 3,29 miliar, sedangkan dengan Singapura mencapai USD 2,82 miliar.

Jika dilihat khusus pada perdagangan nonmigas, Australia menjadi negara dengan defisit terbesar kedua setelah China, yakni sebesar USD 3,05 miliar. Sementara Argentina menempati posisi ketiga dengan defisit USD 730 juta.

BPS mencatat defisit nonmigas dengan China terutama berasal dari impor mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik. Sementara defisit dengan Australia banyak disumbang oleh impor logam mulia dan perhiasan atau permata, serealia, serta bahan bakar mineral. Adapun defisit dengan Argentina terutama berasal dari impor serealia dan produk pakan ternak.

Di tengah pelebaran defisit dengan sejumlah negara tersebut, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan dengan beberapa mitra utama. Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar sebesar USD 5,76 miliar, diikuti India USD 4,41 miliar dan Filipina USD 2,93 miliar.

Untuk perdagangan nonmigas, surplus terbesar juga berasal dari Amerika Serikat sebesar USD 6,81 miliar, disusul India USD 4,44 miliar dan Filipina USD 2,77 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh ekspor mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, pakaian jadi, bahan bakar mineral, minyak sawit, serta kendaraan bermotor dan komponennya.

Secara keseluruhan, nilai impor Indonesia sepanjang Januari-April 2026 mencapai USD 86,51 miliar atau naik 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara ekspor mencapai USD 92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen. Kesenjangan pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor menjadi salah satu faktor yang mempersempit surplus perdagangan Indonesia pada awal tahun ini.

BPS juga mencatat surplus perdagangan April 2026 sebesar USD 89,1 juta, menjadi yang terkecil sejak Indonesia kembali mencatat surplus pada Mei 2020.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRIN Minta Maaf Atas Kesalahan Konten Hari Lahir Pancasila di Medsos
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Kronologi Kuntilanak Jadi-jadian Diciduk Polisi, Apa Motifnya hingga Bikin Warga Tuban Resah?
• 1 jam lalugrid.id
thumb
Momen Hangat Prabowo-Megawati, Qodari Sebut Cerminan Nyata Pancasila
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Cara Cek Bansos PKH-BPNT Juni 2026 Pakai Data KTP, Sekalian Cek Status Desil DTSEN
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Ripiah Nyaris Sentuh Rp17.800 per Dolar AS, Terlemah di Asia
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.