Mengapa Tiket Pesawat Tetap Mahal Meski Harga Avtur Turun?

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga avtur yang mulai melandai sebesar 10% per Juni 2026 tak serta merta akan diikuti oleh penurunan signifikan harga tiket pesawat. Hal ini seiring tekanan kenaikan biaya operasional yang masih dihadapi oleh maskapai penerbangan imbas pelemahan nilai tukar rupiah. 

Harga avtur dan pergerakan rupiah saat ini telah jauh melebar dari asumsi struktur tarif batas atas (TBA) tiket pesawat yang terakhir ditetapkan pemerintah. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 106/2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, asumsi nilai tukar rupiah yang digunakan dalam penyusunan TBA adalah sebesar Rp14.165 per dolar AS, sedangkan harga avtur Rp10.845 per liter.

Sementara itu, per 1 Juni 2026, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta telah mencapai Rp24.697,47 per liter, turun 10% dibandingkan bulan sebelumnya. Lalu, nilai tukar rupiah juga telah bergerak ke level Rp17.839 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026).

Pemerintah hingga kini memang belum melakukan penyesuaian TBA tiket pesawat. Namun, pemerintah telah menyesuaikan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge dengan besaran progresif 10%-100% dari TBA, yang memungkinkan harga beli tiket pesawat menjadi lebih tinggi. 

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto mengatakan, penurunan harga avtur berpotensi menurunkan besaran fuel surcharge yang dapat dikenakan maskapai kepada penumpang. Artinya, harga tiket memang berpotensi turun. 

Meski demikian, Bayu menilai penurunan harga avtur saat ini belum cukup untuk mendorong koreksi tarif tiket secara signifikan karena maskapai masih menghadapi tekanan biaya lain yang berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Baca Juga

  • Harga Avtur Turun, Fuel Surcharge Pesawat Tetap Maksimal 50% per Juni 2026
  • Efek Harga Avtur, Sektor Transportasi Inflasi 0,61% pada Mei 2026
  • Penyesuaian Harga BBM Pertamina per 1 Juni 2026: dari Pertamax Turbo, Dexlite hingga Avtur

“Satu lagi yang jadi beban yaitu kurs rupiah terhadap dolar AS yang makin menurun sehingga ada koefisien kurs US$/Rp yang memengaruhi biaya operasi atau total operating cost,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (1/6/2026).

Menurut dia, avtur memang masih menjadi komponen biaya terbesar dengan porsi sekitar 35%-40% dari total biaya operasi maskapai. Namun, kurs dolar juga tak kalah berpengaruh. 

Karena itu, Bayu menilai ruang penurunan tarif tiket pesawat akan lebih terbuka apabila harga avtur dan nilai tukar kembali ke level yang lebih rendah.

“Apabila yaitu kurs kembali ke Rp14.000 dan harga avtur ke Rp10.000-an, mesti enggak naik tarifnya,” katanya.

Posisi Sulit Maskapai

Pengamat penerbangan sekaligus Ketua Umum Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) Alvin Lie menilai pelemahan rupiah membuat penyesuaian TBA tiket pesawat semakin mendesak.

Menurut dia, sejumlah komponen utama biaya operasi maskapai masih menggunakan dolar AS maupun euro, mulai dari sewa pesawat, perawatan dan suku cadang, hingga asuransi.

“Unsur terbesar adalah sewa atau lease pesawat sekitar 25% sampai 30% tergantung model bisnis, sedikit di bawah unsur bahan bakar,” ujar Alvin.

Sementara itu, biaya perawatan dan suku cadang menyumbang sekitar 10%-15% dari total biaya operasi maskapai.

Alvin menegaskan fuel surcharge hanya berfungsi mengompensasi gejolak harga avtur dan tidak dirancang untuk melindungi maskapai dari pelemahan rupiah. Karena itu, dia menilai pemerintah perlu segera memperbarui TBA yang berlaku saat ini.

“Karena pelemahan ini, semakin mendesak untuk segera memutakhirkan TBA, apalagi jika pelemahan terus berlanjut,” tuturnya.

Alvin mengusulkan agar pemerintah menerapkan formula tarif yang lebih fleksibel dengan memasukkan rentang nilai tukar seperti mekanisme fuel surcharge yang berlaku saat ini. Dengan demikian harga tiket pesawat dapat lebih fleksibel mengikuti kurs dan harga avtur. 

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai sektor penerbangan menjadi salah satu industri yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah karena sebagian besar biaya operasional dihitung dalam dolar AS, sementara mayoritas pendapatan diperoleh dalam rupiah.

Josua memperkirakan tekanan terhadap industri akan semakin berat apabila rupiah bertahan di kisaran Rp17.800 per dolar AS hingga akhir tahun.

Di satu sisi, maskapai menghadapi lonjakan biaya operasional. Di sisi lain, ruang untuk menaikkan harga tiket relatif terbatas karena masih terdapat batas tarif, persaingan antarmaskapai, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

“Ini membuat industri penerbangan berada dalam posisi sulit di mana permintaan perjalanan mulai pulih, tetapi biaya operasional naik lebih cepat daripada kemampuan pasar menyerap kenaikan tarif,” katanya.

Menurut Josua, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi strategi ekspansi maskapai. Perusahaan diperkirakan akan lebih selektif menambah armada, membuka rute baru maupun meningkatkan frekuensi penerbangan apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu yang panjang.

Maskapai cenderung memprioritaskan rute dengan permintaan kuat, seperti Jakarta-Surabaya, Jakarta-Medan, Jakarta-Makassar, dan Jakarta-Bali, sembari lebih berhati-hati pada rute sekunder maupun wilayah yang tingkat keterisiannya lebih rentan terhadap kenaikan harga tiket.

Akibatnya, tekanan biaya yang berkepanjangan berisiko menghambat perluasan konektivitas udara, terutama di wilayah yang masih sangat bergantung pada transportasi penerbangan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jalan Raya Lenteng Agung Arah Depok Terlambat Dibuka, Ini Alasannya
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Dari Futsal Amatir hingga Piala Dunia 2026, Taha Ali Ukir Kisah Inspiratif Bersama Swedia
• 12 jam laluberitajatim.com
thumb
Syarat dan Jadwal SPMB SD dan SMP Negeri
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
TNI AL perkuat kesiapan prajurit lewat latihan pendaratan di Palu
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Harga BBM, Oli-Service Motor Naik, Inflasi April 2026 Jadi 0,28%
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.