Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menghijau, naik 1,11% ke Rp 6.195 pada perdagangan kemarin, Selasa (2/6). Namun investor asing masih mencatatkan transaksi jual bersih atau net sell jumbo senilai Rp 1,39 triliun.
Apabila dijabarkan lebih terperinci, investor asing melakukan transaksi beli senilai Rp 10,13 triliun dan aksi jual senilai Rp 11,53 triliun. Sementara dari komposisinya, 43% dari investor asing sementara sisanya 57% merupakan investor domestik.
Saham yang paling banyak dibuang investor asing adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang dijual hingga Rp 253,7 miliar. Berikutnya disusul PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 228,7 miliar; PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sejumlah Rp 156,1 miliar, dan; PT Petrosea Tbk (PTRO) mencapai Rp 106,9 miliar.
Jika diselisik lagi sejak awal tahun, investor asing tercatat sudah melakukan net sell senilai Rp 55,36 triliun di pasar saham nasional.
Beberapa saham yang dilepas asing merupakan saham yang masuk dalam daftar top gainers pada perdagangan kemarin. Sebut saja TPIA yang ditutup melesat 6,44% ke Rp 1.900, lalu ada BREN yang melonjak menyentuh auto reject atas (ARA) dengan kenaikan 24,85% ke Rp 4.120 serta BUVA yang meloncat 9,87% ke Rp 835.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume transaksi perdagangan sepanjang Selasa kemarin mencapai 31,15 miliar saham dan frekuensi sebanyak 2,57 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 10.918 triliun dengan total nilai transaksi sebesar Rp 25,38 triliun. Sebanyak 281 saham menguat, 389 saham terkoreksi, dan 147 saham tidak bergerak.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, naiknya IHSG kemarin merupakan efek dari kombinasi pemberlakuan kebijakan ekspor satu pintu lewat Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Di samping itu, bangkitnya saham-saham konglomerat, khususnya saham milik Prajogo Pangestu juga jadi penopang bagi ketahanan indeks kemarin.
Kemudian, membaiknya kondisi makroekonomi domestik juga ikut menjadi faktor pendorong. "Inflasi yang tetap terkendali secara bulanan menjadi 0,28% secara bulanan dari 0,13% serta kembalinya aktivitas manufaktur Indonesia ke zona ekspansi berdasarkan indeks PMI manufaktur S&P Global turut menopang sentimen pasar," kata dia, dikutip pada Rabu (3/6).
Kendati demikian, ia menilai faktor terbesar yang mendorong penguatan pasar adalah meredanya tekanan rebalancing indeks global, khususnya MSCI. Kondisi tersebut memicu technical rebound pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya mengalami tekanan.
“Tekanan dari rebalancing MSCI sudah mereda. Di sisi lain, implementasi DSI yang mulai berlaku sejak 1 Juni 2026 memberikan kepastian regulasi jangka panjang sehingga menjadi sentimen positif bagi pasar," ujar Nafan kepada Katadata, Selasa (2/6).
10 Saham yang Paling Banyak Dibuang Asing Selasa 2 Juni 2026:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): dijual Rp 253,7 miliar
- PT Astra international Tbk (ASII): dijual Rp 228,7 miliar
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): dijual Rp 156,1 miliar
- PT Petrosea Tbk (PTRO): dijual Rp 106,9 miliar
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): dijual Rp 88,9 miliar
- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA): dijual Rp 72,2 miliar
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): dijual Rp 71,9 miliar
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): dijual 68,7 miliar
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): dijual Rp 58,7 miliar
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): dijual Rp 48,7 miliar
Perihal melonjaknya saham-saham Prajogo meski telah didepak dari indeks MSCI, Nafan menilai hal itu sebagai respons pasar yang wajar. Tiga saham yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu, yakni BREN, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang resmi keluar dari indeks tersebut pada rebalancing Mei yang efektif berlaku mulai 2 Juni 2026.
Menurut dia, fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui pola sell on rumor, buy on fact. Investor sebelumnya telah mengantisipasi dampak keluarnya saham-saham tersebut dari MSCI sehingga tekanan jual sudah terjadi lebih dulu.
Setelah ketidakpastian mereda, pelaku pasar kembali mengalihkan perhatian pada prospek fundamental masing-masing emiten. Selain itu, koreksi harga yang terjadi sebelumnya membuat sejumlah saham dinilai sudah berada pada level yang lebih menarik.
Nafan mengatakan prospek jangka panjang BREN tetap positif karena perusahaan merupakan salah satu pemain utama di sektor energi panas bumi yang sejalan dengan tren transisi energi global.
Sementara itu, prospek BRPT bergantung pada perbaikan margin bisnis petrokimia serta stabilitas arus kas dari sektor energi. Untuk CUAN, ekspansi ke sektor mineral kritis dan logistik batu bara membuka peluang pertumbuhan, meski pergerakan sahamnya masih sangat volatil.
Adapun TPIA dinilai tetap memiliki daya tarik melalui strategi transformasi bisnis menuju integrasi sektor petrokimia, energi, dan infrastruktur.
Naiknya saham-saham Prajogo mengantarkannya kembali menduduki posisi orang terkaya nomor 1 versi Forbes Real Time Billionaires. Berdasarkan data Forbes, kekayaan Prajogo mencapai US$ 18,1 miliar atau sekitar Rp 323,68 triliun.
Posisi tersebut kembali direbut dari pemilik Grup Djarum, R. Budi Hartono, yang saat ini memiliki kekayaan sekitar US$ 14,9 miliar. Di bawahnya terdapat taipan batu bara Low Tuck Kwong dengan total kekayaan US$ 14,3 miliar.




